Menuju konten utama

Trump Ragu dapat Menerima Proposal Damai dari Iran

Donald Trump tinjau proposal damai berisi 14 poin dari Iran untuk mengakhiri perang, namun blokade di Selat Hormuz masih terus berlanjut.

Trump Ragu dapat Menerima Proposal Damai dari Iran
Presiden AS Donald Trump berbicara setelah menandatangani perintah eksekutif tentang penipuan di Ruang Oval di Gedung Putih di Washington, DC, pada 16 Maret 2026. AFP/Alex Wong/Getty Images
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi pada hari Sabtu (2/5/2026) bahwa dirinya sedang meninjau proposal baru dari Iran guna mengakhiri perang yang tengah berlangsung. Meski jalur diplomasi mulai terbuka, Trump tetap menunjukkan sikap skeptis dan memberikan peringatan keras kepada Teheran.

Berbicara kepada awak media di Florida sebelum menaiki Air Force One, Trump menyatakan telah menerima pengarahan mengenai "konsep kesepakatan" tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa Washington tidak ragu untuk memulai kembali serangan udara jika Teheran dianggap melanggar batas.

“Jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, ada kemungkinan hal itu (serangan udara) bisa terjadi,” ujar Trump saat ditanya mengenai potensi berlanjutnya aksi militer seperti dikutip dari APNews.

Terkait detail isi proposal, Trump memilih untuk tidak terburu-buru memberikan keputusan. “Saya akan memberi tahu Anda nanti,” katanya, seraya menambahkan bahwa pihak Iran akan memberikan rumusan kata-kata yang tepat kepadanya.

Tak lama setelah berbicara dengan wartawan, Trump mempertegas posisinya melalui unggahan di media sosial Truth Social. Ia meragukan proposal tersebut akan memenuhi standar Amerika Serikat, mengingat rekam jejak Teheran selama hampir lima dekade terakhir.

Trump menulis bahwa ia “tidak bisa membayangkan hal itu akan dapat diterima karena mereka belum membayar harga yang cukup besar atas apa yang telah mereka lakukan terhadap Kemanusiaan, dan Dunia, selama 47 tahun terakhir.”

Ia juga mengklaim bahwa posisi AS saat ini sangat kuat dan Iran sedang dalam kondisi putus asa untuk mencapai penyelesaian. Menurut Trump, Iran telah "hancur" akibat konflik berbulan-bulan dan blokade angkatan laut yang dilakukan AS.

Dua media semi-pemerintah Iran, Tasnim dan Fars, melaporkan bahwa Iran telah mengirimkan proposal 14 poin melalui perantara Pakistan sebagai tanggapan atas sembilan poin usulan AS. Poin-poin utama dari Teheran mencakup:

  • Pengangkatan blokade angkatan laut AS.
  • Reparasi perang (ganti rugi).
  • Pelepasan seluruh aset Iran yang dibekukan.
  • Jangka waktu 30 hari untuk finalisasi syarat perdamaian.
Namun, rentang waktu 30 hari ini dikabarkan bertolak belakang dengan keinginan Washington yang lebih memilih masa transisi lebih panjang. Selain itu, salah satu pembahasan yang alot adalah mengenai penghentian pengembangan nuklir Iran dan pembukaan Selat Hormuz.

Sebelumnya, Trump telah mewacanakan agar Selat Hormuz terbuka untuk publik mengingat seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia melintas selat tersebut.

Di tengah upaya diplomasi ini, Trump juga melontarkan rencana baru untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima perdagangan minyak dan gas dunia. Namun, rencana ini terhambat kendala teknis seperti keberadaan ranjau laut Iran.Situasi di lapangan pun masih sangat cair.

Meskipun gencatan senjata tiga minggu yang dimulai sejak 7 April masih bertahan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan tetap dalam posisi "siaga penuh". Mereka menuduh AS kurang memiliki komitmen terhadap perjanjian-perjanjian sebelumnya.

Ketegangan semakin meruncing setelah Trump menyebut blokade angkatan laut AS sebagai "bisnis yang sangat menguntungkan." Pernyataan ini langsung dikecam oleh Kementerian Luar Negeri Iran sebagai "pengakuan nyata atas tindakan pembajakan."

Hingga saat ini, meskipun pembicaraan terus berlanjut, masa depan perdamaian di kawasan tersebut masih dibayangi oleh ketidakpercayaan mendalam antara kedua belah pihak.

Baca juga artikel terkait KONFLIK IRAN AS atau tulisan lainnya dari Irfan Amin

tirto.id - Flash News
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Rina Nurjanah