tirto.id - Pemerintah Iran resmi menolak proposal gencatan senjata 48 jam yang diajukan Amerika Serikat. Keputusan ini disampaikan melalui saluran diplomatik negara ketiga yang identitasnya dirahasiakan, sekaligus mematahkan klaim sepihak Washington.
Berdasarkan laporan Fars News Agency pada Jumat (3/4/2026) yang mengutip sumber resmi anonim, tawaran gencatan senjata tersebut diajukan oleh Washington pada Rabu lalu. Hingga kini, belum jelas apakah rezim Israel juga akan terlibat dalam kesepakatan itu jika proposal diterima.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa justru Iran lah yang meminta jeda pertempuran. Namun, Teheran dengan cepat membantah klaim tersebut.
Seorang sumber dari Fars menegaskan, inisiatif gencatan senjata sepenuhnya berasal dari pihak Amerika, bukan sebaliknya.
Iran Syaratkan Penarikan Mundur Pasukan AS dan Ganti Rugi
Di balik penolakan itu, Iran mengajukan tuntutan yang dinilai berat. Teheran ingin AS menarik seluruh pasukan dan pangkalannya dari kawasan Timur Tengah.
Selain itu, mereka juga menuntut kompensasi atas kehancuran sekolah, rumah sakit, serta berbagai infrastruktur vital lainnya akibat agresi militer gabungan AS-Israel yang telah berlangsung lebih dari sebulan terakhir.
Sementara itu, langkah diplomatik lainnya juga tidak membuahkan hasil. The Wall Street Journal melaporkan upaya Pakistan untuk menjadi mediator menemui jalan buntu. Iran menolak bertemu pejabat AS di Islamabad dengan alasan tuntutan Washington dinilai tidak dapat diterima.
Di sisi lain, Turki, Mesir, dan Qatar disebut-sebut tengah berupaya membangun upaya mediasi mengingat kedekatan hubungan mereka dengan pemerintahan Trump. Namun, Qatar disinyalir menolak tekanan untuk memainkan peran sebagai mediator dalam perundingan gencatan senjata potensial.
Iran Siapkan Perang Panjang
Meski terus mendapat serangan, Iran dinilai telah bersiap menghadapi perang dalam jangka panjang. Sebuah penilaian intelijen AS yang pertama kali dilaporkan CNN pada Kamis lalu mengungkapkan bahwa militer Iran masih memiliki sekitar separuh dari peluncur rudal dan setengah dari drone Kamikaze mereka.
"Penilaian itu bertentangan dengan narasi penghancuran yang sering digunakan Presiden AS Donald Trump dan pemerintah Israel untuk menggambarkan kemampuan Iran, sejak hari-hari awal perang hingga baru-baru ini pada Rabu," demikian bunyi laporan tersebut.
Dua Pesawat Tempur AS Jatuh
Dalam eskalasi terbaru, dua pesawat tempur AS berhasil dijatuhkan. Seorang juru bicara komando militer Iran, Markas Pusat Khatam al-Anbiya, mengatakan sebuah jet tempur F-15E AS hancur total di barat daya Iran pada Jumat.
Awalnya Iran menyebut pesawat itu adalah F-35, namun sumber militer AS kemudian mengonfirmasi bahwa itu adalah F-15E. Satu dari dua kru pesawat berhasil diselamatkan oleh pasukan AS, sementara pencarian pilot kedua masih berlangsung.
The New York Times kemudian melaporkan pesawat tempur kedua, yaitu A-10 Warthog, jatuh di dekat Selat Hormuz di kawasan Teluk, dengan pilot tunggalnya berhasil diselamatkan.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id

































