Menuju konten utama

Trump Perpanjang Gencatan Senjata tapi Tetap Blokade Hormuz

Trump mengumumkan untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran, namun AS tetap melakukan blokade di Selat Hormuz.

Trump Perpanjang Gencatan Senjata tapi Tetap Blokade Hormuz
Peta sinyal AIS dari kapal yang melintasi Selat Hormuz. foto/Dok. WIndward

tirto.id - Amerika Serikat mengumumkan untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran yang seharusnya berakhir pada 21 April kemarin. Meski gencatan senjata sedang berlangsung, Presiden AS Donald Trump tetap memberlakukan blokade pada Selat Hormuz.

Keputusan memperpanjang gencatan senjata ini diambil setelah mempertimbangkan saran dari dua tokoh Pakistan yang menjadi mediator dalam perundingan damai AS-Iran, Marsekal Lapangan Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif.

“Berdasarkan fakta bahwa Pemerintah Iran sangat terpecah belah, yang tidak mengejutkan, dan atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir, dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami telah diminta untuk menunda serangan kami terhadap Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan proposal yang terpadu,” tulis Trump di akun @realDonaldTrump.

Meski setuju untuk menunda serangan ke Iran, Trump menegaskan jika militer AS akan tetap menerapkan blokade pada Selat Hormuz.

Kenapa Trump Tetap Blokade Selat Hormuz?

Donald Trump menegaskan strategi tekanan maksimum Amerika Serikat terhadap Iran dalam konflik yang sedang berlangsung, khususnya melalui blokade pelabuhan dan jalur laut.

Trump menyatakan bahwa blokade tersebut tidak akan dicabut sampai Iran menyetujui kesepakatan damai. Ia mengklaim langkah itu telah menghancurkan ekonomi Iran dengan kerugian hingga sekitar 500 juta dolar per hari.

“Iran tidak ingin Selat Hormuz ditutup, mereka ingin selat itu dibuka agar mereka bisa menghasilkan 500 juta dolar per hari (yang, oleh karena itu, adalah kerugian mereka jika selat itu ditutup!),” ujar Trump.

Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump mencoba membangun narasi bahwa Iran sebenarnya tidak ingin menutup Selat Hormuz karena sangat bergantung pada pendapatan ekspor energi, tetapi hanya berpura-pura keras untuk menjaga citra politik.

“Mereka hanya mengatakan ingin selat itu ditutup karena saya telah sepenuhnya MEMBLOKADE (MENUTUP!), jadi mereka hanya ingin 'menyelamatkan muka',” tuding Trump.

Ia juga mengklaim bahwa Iran sedang mengalami tekanan ekonomi berat hingga kesulitan membayar aparat keamanan, sehingga mendesak pembukaan jalur perdagangan.

“Iran sedang mengalami krisis keuangan! Mereka menginginkan Selat Hormuz segera dibuka - sangat kekurangan uang! Merugi 500 juta dolar per hari. Militer dan polisi mengeluh karena tidak dibayar. SOS!!!” tulis Trump di Truth Social pada 22 April 2026.

Tekanan ini diperparah oleh situasi di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, di mana lalu lintas kapal kembali terganggu akibat blokade dari kedua pihak.

Ketegangan meningkat setelah AS menyita kapal kargo berbendera Iran, yang dianggap Washington melanggar blokade, namun oleh Iran dinilai sebagai tindakan agresi dan pelanggaran gencatan senjata.

Insiden ini memperburuk situasi yang sebelumnya sudah rapuh, bahkan memicu ancaman balasan dari pihak Iran dan membuat prospek perundingan damai semakin tidak pasti. Pihak Iran menegaskan tidak akan maju berunding kembali jika AS tidak mencabut blokade di Selat Hormuz.

Namun, Trump menegaskan bahwa membuka blokade tanpa kesepakatan hanya akan melemahkan posisi tawar AS, bahkan ia menyampaikan pernyataan ekstrem bahwa tanpa tekanan militer yang sangat kuat, kesepakatan tidak akan tercapai.

“Tetapi jika kita melakukan itu, tidak akan pernah ada kesepakatan dengan Iran, kecuali kita menghancurkan seluruh negara mereka, termasuk para pemimpinnya!,” tegasnya.

Di sisi lain, Iran melalui pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menolak keras langkah AS.

“Memblokade pelabuhan Iran adalah tindakan perang dan dengan demikian merupakan pelanggaran gencatan senjata. Menyerang kapal dagang dan menyandera awaknya adalah pelanggaran yang lebih besar lagi. Iran tahu bagaimana menetralisir pembatasan, bagaimana membela kepentingannya, dan bagaimana melawan intimidasi,” tulis Araghchi di akun X @araghchi, Rabu (22/4/2026).

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra