tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengungkapkan kemarahannya kepada aliansi trans-Atlantik NATO dalam pernyataan terbarunya pada Kamis (9/4/2026). Ia juga kembali mengungkit Greenland, yakni wilayah yang sebelumnya hendak ia caplok dari Denmark.
Kemarahan atas NATO tersebut diungkapkan Trump dalam salah satu unggahan di media sosial miliknya, Truth Social. Ia menyebut bahwa NATO gagal menjalankan tugas aliansi untuk membantu AS dalam Perang Iran.
"NATO tidak ada saat kita membutuhkannya, dan mereka tidak akan ada jika kita membutuhkannya lagi," tulis Trump dalam huruf kapital sepenuhnya.
Ia kemudian tampak mencoba menghidupkan lagi ancaman pencaplokan AS terhadap Greenland. Ia menyebut kawasan semi-otonom Denmark tersebut telah dikelola dengan buruk.
"Ingat Greenland, pulau besar dengan bongkahan es yang dikelola dengan buruk itu!!!" tulis Trump, juga dengan huruf kapital sepenuhnya.
Seturut Al Jazeera, pernyataan itu diungkap Trump setelah ia bertemu Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Gedung Putih. Sebelumnya, Trump juga menyebut bahwa Perang Iran adalah "ujian" bagi NATO dan sekutunya yang telah gagal.
Sebelum pertemuan Trump dan Rutte, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa sekutu AS di NATO telah "mengabaikan rakyat Amerika" yang mendanai pertahanan mereka. Ia juga menyebut bahwa Trump melakukan "percakapan yang sangat jujur dan terus terang" dengan Rutte.
Trump Kesal dengan NATO Sejak Awal Tahun
Pemerintahan Trump sebelumnya telah mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap NATO sejak Januari lalu. Kala itu, Trump kecewa pada negara-negara NATO yang tak mendukung idenya untuk mencaplok Greenland.
Ketika AS dan Israel memulai perang di Iran pada 28 Februari, AS dan NATO kembali bersitegang. Sejumlah negara NATO seperti Prancis dan Spanyol menolak membuka wilayah udara mereka untuk digunakan pesawat militer AS atau jadi transit bagi pasukan yang diterjunkan ke kawasan Teluk.
Pasca-pertemuan dengan Trump, Rutte berbicara kepada penyiar CNN bahwa Trump "jelas kecewa dengan banyak sekutu NATO". Rutte selama ini dikenal di Eropa sebagai "pembisik Trump" karena keahliannya dalam menjaga hubungan produktif dengan Presiden AS itu.
Akan tetapi, Rutte juga menyebut bahwa ia telah menyatakan ketidaksepakatannya terhadap Trump dalam tingkat tertentu. Ia menyebut negara NATO telah memenuhi kewajiban untuk membantu AS, terlepas dan sebagian negara yang menolak izin AS untuk menggunakan pangkalan udara mereka.
"Saya juga dapat menunjukkan fakta bahwa sebagian besar negara-negara Eropa telah membantu, dengan pangkalan, dengan logistik, dengan penerbangan, dengan memastikan bahwa mereka memenuhi komitmen mereka," kata Rutte.
Sekretaris Jenderal NATO itu juga menyebut bahwa apa yang telah dilakukan AS terhadap Iran bisa terjadi "karena begitu banyak negara Eropa yang memenuhi komitmen". Oleh karenanya, ia tak sepakat pada anggapan Trump bahwa NATO sepenuhnya tak membantu AS.
Rutte juga menolak narasi bahwa negara-negara NATO menganggap perang di Iran ilegal. Menurutnya, ada dukungan luas di Eropa untuk memperkecil kemampuan nuklir dan rudal balistik Iran.
Ia juga menyebut bahwa diplomasi yang berkepanjangan dengan Teheran dapat berisiko menimbulkan "momen Korea Utara", yakni perundingan berlarut hingga suatu negara memperoleh kapasitas nuklir dan negara lain terlambat untuk bertindak.
Isu AS Keluar NATO Mencuat
Rutte sempat ditanya perihal apakah Trump akan memutuskan untuk keluar dari NATO, namun politisi asal Belanda itu enggan menjawabnya. Kemungkinan AS keluar dari NATO sebelumnya jadi isu di Eropa usai Trump dilaporkan mulai menimbang untuk melakukan keputusan tersebut.
The Wall Street Journal belakangan merilis laporan bahwa Trump tengah mempertimbangkan "hukuman" bagi beberapa sekutu NATO yang ia yakini tidak membantu AS pada Perang Iran. Namun, hukuman itu tampaknya bukan keluar dari NATO sepenuhnya, mengingat hal itu hanya dapat dilakukan Trump dengan persetujuan Kongres AS.
"Hukuman" itu juga diisyaratkan Trump dalam unggahan Truth Social yang terpisah untuk NATO. Dalam unggahan itu, ia menyebut bahwa semua pihak "termasuk NATO" cenderung tidak "memahami apa pun kecuali jika mereka mendapatkan tekanan".
Rutte juga sempat ditanya tentang potensi pemberian "hukuman" oleh AS. Namun, ia tak segera menjawab kabar tersebut.
Rutte lebih memilih untuk menekankan bahwa negara-negara Eropa "termasuk Prancis" telah memenuhi janjinya. Ia juga menekankan bahwa Eropa telah "berperan penuh selama enam minggu terakhir" dalam operasi militer AS di kawasan Teluk.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































