Menuju konten utama

Trump Ancam Serang Iran "Sangat Keras" dalam 2 Minggu ke Depan

Trump mengancam akan menyerang Iran dengan "sangat keras" dalam dua minggu ke depan. Sebelumnya ia juga sempat bilang AS bisa akhiri perang dalam 2-3 pekan.

Trump Ancam Serang Iran
Mantan Presiden Donald Trump berjalan untuk berbicara dengan wartawan sebelum berangkat dari Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta, Kamis, 24 Agustus 2023, di Atlanta. (Foto AP/Alex Brandon)

tirto.id - Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menyerang Iran dengan “sangat keras” dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Ia menegaskan bahwa AS siap menargetkan Iran dengan kekuatan penuh dalam periode tersebut.

Donald Trump membuat pernyataan tentang serangan lebih keras ke Iran itu pada Rabu, 1 April kemarin.

“Kita berada di jalur yang tepat untuk menyelesaikan semua tujuan militer Amerika dalam waktu singkat, sangat singkat. Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan.” ucap Trump dikutip Politico, Rabu (1/4/2026).

Selain menyatakan rencana bahwa dua hingga tiga minggu ke depan serangan ke Iran akan diwarnai oleh aktivitas militer intensif, Trump juga menyerukan agar negara-negara yang bergantung pada minyak melalui Selat Hormuz, memastikan jalur tersebut dibuka kembali.

Trump menekankan bahwa AS hampir tidak mengimpor minyak melalui Selat Hormuz dan tidak membutuhkannya, sehingga tanggung jawab utama ada pada negara-negara tersebut.

“Amerika Serikat hampir tidak mengimpor minyak melalui Selat Hormuz dan tidak akan mengimpornya di masa mendatang. Kita tidak membutuhkannya. Kita tidak membutuhkannya, dan kita tidak membutuhkannya,” kata Trump.

“Kita akan membantu, tetapi mereka harus memimpin dalam melindungi minyak yang sangat mereka andalkan.” tegasnya.

Trump menekankan bahwa perang terhadap Iran ditujukan untuk meniadakan ancaman yang ditimbulkan rezim Iran, terutama terkait program nuklir, dan menggambarkan Iran sebagai “teroris” yang hampir memiliki senjata nuklir.

Ia juga menegaskan bahwa tujuan perang selalu jelas yakni menghancurkan kemampuan nuklir Iran dan mencapai kesuksesan militer, meskipun beberapa media dan analis menilai retorikanya sempat mengarah pada perubahan rezim. Menurut Trump, perubahan rezim terjadi karena pimpinan awal Iran telah tewas, dan pemimpin baru lebih moderat.

“Kami tidak pernah mengatakan perubahan rezim, tetapi perubahan rezim telah terjadi karena kematian semua pemimpin asli mereka. Mereka semua sudah mati. Kelompok baru ini kurang radikal dan jauh lebih masuk akal,” katanya.

Selama sebulan perang, serangan AS telah menargetkan pimpinan tertinggi Iran serta fasilitas militer dan nuklir di Teheran, menewaskan sedikitnya 13 anggota militer AS dan melukai ratusan lainnya.

Dalam kesempatan itu, Trump menekankan bahwa perang ini merupakan investasi jangka panjang bagi generasi mendatang Amerika, dengan tujuan membebaskan dunia dari agresi Iran dan ancaman nuklir.

“Malam ini, setiap warga Amerika dapat menantikan hari ketika kita akhirnya bebas dari kejahatan agresi Iran dan bayang-bayang pemerasan nuklir karena tindakan yang telah kita ambil. Kita berada di ambang mengakhiri ancaman jahat Iran terhadap Amerika dan dunia,” tegasnya.

Dolar AS dan Harga Minyak Melonjak Setelah Trump Ancam Serang Iran

Pada Kamis (2/4) Dolar AS melonjak tajam setelah pidato Presiden Donald Trump mengenai Iran mengecewakan harapan pasar akan berakhirnya konflik secara cepat.

Investor berbondong-bondong beralih ke aset aman. Pernyataan Trump itu juga membuat harga minyak melonjak dan saham melemah.

Dalam pidatonya, Trump berjanji akan melakukan serangan lebih agresif terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan, tanpa memberikan jadwal pasti mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz atau berakhirnya perang, sehingga meningkatkan ketidakpastian pasar.

Investor bereaksi dengan menjual aset berisiko seperti saham dan membeli dolar AS, yang menyebabkan yen Jepang, euro, dan poundsterling turun.

Euro turun 0,51 persen menjadi $1,1531 dan poundsterling turun 0,68 persen menjadi $1,3216. Dolar Australia, yang sensitif terhadap risiko dan sering dijadikan barometer ekspektasi pertumbuhan global, turun 0,69 persen menjadi $0,6881.

Yen Jepang melemah 0,5 persen menjadi 159,64 per dolar, sedangkan rupiah juga melemah 0,11 persen menjadi Rp17.002 per dolar AS.

"Komentar Trump gagal meyakinkan pasar... pasar mulai menyadari bahwa perang kemungkinan akan semakin meningkat sebelum mereda," kata Carol Kong, seorang ahli strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia dikutip CNA (2/4/2026).

Dilaporkan CNBC (2/4/2026), harga minyak dunia juga meningkat tajam setelah pernyataan Trump tersebut.

Minyak mentah acuan U.S. West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei naik 6,9 persen menjadi $107,05 per barel, sedangkan kontrak Juni untuk acuan internasional Brent crude naik 7,4 persen menjadi $108,62 per barel.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra