Menuju konten utama

Trump Ancam Kanada Kena Tarif 100% Jika Kerja Sama dengan China

Trump menekan Kanada dengan ancaman tarif 100% usai kesepakatan dagang Ottawa–Beijing, menandai eskalasi konflik dagang dan geopolitik di Amerika Utara

Trump Ancam Kanada Kena Tarif 100% Jika Kerja Sama dengan China
Presiden AS Donald Trump memberikan pidato pada pengarahan pemulihan pasca Badai Helene di hanggar Bandara Regional Asheville di Fletcher, North Carolina, pada 24 Januari 2025. Trump mengatakan ia mungkin akan "menyingkirkan FEMA," jika dianggap perlu. Badan Penanggulangan Bencana Federal Badan Penanggulangan Bencana (FEMA) bertugas mengoordinasikan respons terhadap bencana. (Foto oleh Mandel NGAN / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif sebesar 100 persen terhadap seluruh barang asal Kanada jika negara tersebut melanjutkan kesepakatan dagang yang baru saja diumumkan dengan China.

Ancaman itu disampaikan Trump melalui pernyataan di media sosial Truth Social pada Sabtu (24/1/2026). Dalam unggahannya, Trump menilai Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, “sangat keliru” jika menganggap Kanada dapat menjadi “pelabuhan transit” bagi China untuk menyalurkan barang dan produknya ke pasar Amerika Serikat.

“China akan melahap Kanada hidup-hidup, benar-benar memakannya habis, termasuk menghancurkan bisnis mereka, tatanan sosial, dan cara hidup mereka secara umum,” tulis Trump.

Ia menegaskan bahwa jika Kanada tetap menjalin kesepakatan dagang dengan Beijing, maka seluruh produk Kanada yang masuk ke Amerika Serikat akan langsung dikenai tarif 100 persen.

Ancaman tersebut muncul setelah pemerintah Kanada, pekan lalu, mengumumkan pembentukan kemitraan strategis baru dengan China. Kesepakatan itu dicapai setelah Perdana Menteri Mark Carney melakukan kunjungan ke Beijing dan bertemu dengan para pemimpin China.

Dalam kesepakatan tersebut, China akan menurunkan tarif atas kanola dan sejumlah produk pertanian asal Kanada. Sebagai imbalannya, pemerintah Kanada memberikan izin masuk hingga 49.000 kendaraan listrik buatan China ke pasar domestik Kanada.

Kedutaan Besar China di Kanada menyatakan kepada Reuters bahwa Beijing siap bekerja sama dengan Ottawa untuk melaksanakan konsensus penting yang telah dicapai oleh para pemimpin kedua negara.

“Dalam kondisi terbaiknya, hubungan Kanada-China telah menciptakan peluang besar bagi masyarakat kedua negara kita,” kata Carney dalam sebuah pernyataan setelah pengumuman tersebut dilansir dari Al Jazeera.

Sementara itu, hubungan antara Amerika Serikat dan Kanada dilaporkan semakin memburuk dalam beberapa waktu terakhir. Ketegangan meningkat setelah Carney menyampaikan pidato di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) di Davos, Swiss, yang secara luas dipandang sebagai kritik terhadap kebijakan pemerintahan Trump.

Dalam pidatonya, Carney menyatakan bahwa tatanan global berbasis aturan telah berakhir. Ia juga menyerukan agar negara-negara dengan kekuatan menengah bertindak bersama untuk menghindari dominasi satu negara adidaya.

Meski tidak secara langsung menyebut Amerika Serikat atau Trump, Carney mengatakan bahwa “kekuatan menengah harus bertindak bersama karena jika Anda tidak berada di meja perundingan, maka Anda ada di dalam menu.”

“Kita berada di tengah sebuah keretakan, bukan sebuah transisi,” ujar Carney.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Trump. Ia menanggapi dengan mengatakan bahwa “Kanada hidup karena Amerika Serikat” dan memperingatkan Carney agar berhati-hati dalam membuat pernyataan.

Trump juga dilaporkan mencabut undangan bagi Carney untuk bergabung dalam forum yang disebutnya sebagai “Dewan Perdamaian” pada pekan ini.

Sejak resmi menjabat pada Januari 2025, Trump berulang kali mengancam akan mengenakan pungutan tinggi terhadap produk Kanada, bahkan menyatakan keinginannya agar Kanada menjadi “negara bagian ke-51” Amerika Serikat. Serangkaian pernyataan dan kebijakan tersebut membuat hubungan bilateral kedua negara tetangga di Amerika Utara itu jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah.

Baca juga artikel terkait INTERNASIONAL atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - Flash News
Reporter: Alfitra Akbar
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Rina Nurjanah