The Gift: Kisah Daddy Issue yang Diadaptasi dari 1001 FTV

Sejumlah pemeran film "The Gift" Reza Rahadian, Ayushita Nugraha dan Dion Wiyoko menjawab pertanyaan penggemar ketika jumpa penggemar di Plasa Grand City, Surabaya, Sabtu (26/5/2018). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 28 Mei 2018
Dibaca Normal 3 menit
Romantisme perempuan ibukota dengan pemuda kampung Jawa, diganggu oleh orang ketiga. FTV dengan sisipan kisah gelap dan akhiran yang masih mudah ditebak.
tirto.id - Anda tahu rumus bikin FTV alias film televisi? Jika Anda berniat berkarier di bidang penulisan naskah, saya kasih tahu.

Pertama, tentukan lokasi yang bernuansa eksotis-etnis. Sepenerawangan saya, biasanya berkutat di empat wilayah: pinggiran Jakarta untuk mewakili nuansa Betawi, Bandung untuk yang Sunda, Yogyakarta sebagai representasi Jawa, atau Denpasar untuk menangkap aura Bali.

Kedua, pakai genre drama-romantis yang berkutat pada hubungan dua orang sejoli. Yakni antara seorang warga urban ibukota dengan bahasa, dialek, dan gestur gaulnya—biasanya untuk tokoh perempuan, berhadapan dengan pria lokal di daerah bernuansa eksotis-etnis itu.

Akibat satu kejadian klise, atau bahkan cuma kebetulan belaka, keduanya bertemu meskipun tidak dalam keadaan yang menyenangkan. Salah satu pihak memantik perselisihan. Pertemuan kali kedua, keduanya masih belum akrab. Namun di perjumpaan-perjumpaan selanjutnya, boleh karena dipaksa situasi tertentu, mereka mulai saling memahami karakter masing-masing.


Habis paham, terbitlah sayang. Istilah Jawanya “witing tresno jalaran soko kulino”, jatuh cinta karena kerap bersama. Tapi ini akhir cerita, sebab konflik sesungguhnya ada dengan kehadiran orang ketiga, yang punya masa lalu dengan salah satu tokoh. Dinamika berlangsung sepanjang cerita, dilatarbelakangi tempat ikonik di daerah yang memanjakan mata sekaligus timbul hasrat ingin berwisata.

The Gift, film terbaru arahan Hanung Bramantyo, memakai formula serupa—meski dengan selipan kisah yang agak gelap dan akhiran tragis.

Tiana (Ayushita Nugraha) adalah seorang novelis asal ibukota yang sedang mencari inspirasi untuk menyelesaikan buku terbarunya. Ia memutuskan tinggal di Yogyakarta dan menyewa kos di sebuah rumah seorang pria buta bernama Harun (Reza Rahadian).


Tidur Tiana kemudian terganggu sebab Harun suka memutar musik rock kencang-kencang. Awalnya ia kesal. Usai diajak Harun sarapan bersama, Tiana justru tertarik dengan sisi misterius sang bapak kos. Dari cerita masing-masing, Tiana juga merasa Harun serupa dirinya: introvert dan menanggung masa lalu buruk.

Harun benci ayahnya. Ia pernah menabrakkan mobil saat turun dari Kaliurang hingga ia kehilangan penglihatan. Sang ayah lalu meninggalkan Harun sebab bekerja di KBRI Roma, Italia. Ia hanya tinggal bersama simbok yang mengurus dirinya sehari-hari. Tiana, yang tumbuh dari keluarga “broken home”, akhirnya mengerti mengapa Harun kadang punya emosi yang meledak-ledak.

Witing tresno jalaran soko kulino”. Harun lambat laun mau membuka diri, selaras dengan tumbuhnya rasa sayang pada Tiana. Harun menyadari kecantikan Tiana dengan cara meraba wajah. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan menari tari Jawa di sanggar, makan bersama, jalan-jalan, dan mengobrol berdua.


Pada suatu hari Arie (Dion Wiyoko) menyusul Tiana di hari ulang tahunnya. Arie adalah teman masa kecil Tiana. Ia mengajak Tiana menemui ayah sang gadis yang dulu pergi dari rumah. Karena tak ingin membuat Harun cemburu, Tiana terpaksa berbohong. Tapi kemudian terbongkar saat Arie melamar Tiana di depan kos, berdasarkan janji masa kecil.

Harun marah besar, sampai tega mengusir Tiana—yang sempat mengungkapkan perasaan sukanya pada Harun. Konflik berlanjut hingga mengorbankan hati yang sedang sayang-sayangnya. Kisah cinta segitiga biasa, tak ada yang baru apalagi istimewa.

The Gift barangkali masih agak terselamatkan berkat dua hal. Pertama, akting Reza Rahadian—sang aktor yang banyak dipuja sebagai yang nomor satu di tanah air saat ini. Tokoh pria yang dihantam nasib tragis dalam film ini mengingatkan saya dengan penampilan Reza di film Emak Ingin Naik Haji (2009).


Kedua, sinematografi yang cukup memanjakan mata. Hanung menyajikan latar berupa lanskap ikonik Yogyakarta seperti kaki Gunung Merapi di Kaliurang. Sebagaimana FTV, ia juga menyoroti sejenak Tugu Yogyakarta, ke-Jawa-an sanggar tari Jawa, rumah Harun dengan model bangunan lama, dan lainnya.

Saat para tokoh utama berada di Italia, Hanung juga menyoroti kawasan kawasan Basilica, Santa Maria del Fiore, Firenze. Di tempat ini orang-orang berbahagia menikmati bangunan indah dan penampil jalanan. Kehidupan terasa sempurna. Film ini bagi saya bisa jadi medium promosi wisata yang baik.

Sejak FTV dan pakem khasnya berkuasa di layar kaca, saya sebenarnya terganggu dengan bagaimana orang-orang daerah ditampilkan dengan kesan yang inferior dibanding warga urban. Di The Gift konsep ini ditampilkan dengan lebih ekstrem, yakni menampilkan orang-orang Yogyakarta asli sebagai pelayan semata—tidak lebih.




Simbok hidup bersama Harun dalam kurun waktu yang lama, ditemani oleh anak laki-lakinya, Lono, yang masih berusia remaja. Saya tak paham mengapa tokoh-tokoh ini ditampilkan berkali-kali melayani Harun dan Tiana bak seorang raja. Bukan dalam sikap yang selayaknya, tapi dengan dialog serta tingkah laku yang berlebihan.

Karakter Harun juga aneh. Ia sama sekali tidak ditampilkan sebagai orang Jawa meski tinggal lama di Yogyakarta, sebagaimana Simbok dan Lono. Arie yang jadi pendatang dalam waktu singkat di Yogyakarta justru lebih banyak mengeluarkan dialog dalam bahasa Jawa. Dikotominya bukan lagi urban-desa, namun pemeran utama yang tidak Jawa dengan pemeran pembantu yang sangat Jawa.

Keanehan lain dalam diri Harun, yang sekaligus yang bikin saya kaget hampir-hampir tak percaya, adalah sikapnya usai mendengar cerita masa lalu Tiana. Tiana kecil sering terpaksa mengurung diri di lemari sebab ayah-ibunya sering bertengkar. Hingga ketika ayahnya pergi, sang ibu memilih gantung diri. Tiana yang baru keluar dari lemari menyaksikan langsung mayat ibunya masih tergantung di beranda rumah.



Atas pengalaman tragis sekaligus traumatik ini, apa reaksi Harun? Ia menganggapnya sebagai cerita yang aneh dan seru. Wow.

Di lain kesempatan, Tiana bercerita soal tradisi ciuman yang dulu dipelopori oleh orang yang tinggal di kawasan empat musim, saat musim dingin dan memakai baju yang menutup seluruh tubuh kecuali wajah. Kontak antar-kulit pun hanya bisa dilakukan antar-wajah, dan muncullah aksi cium bibir.

Anggap saja trivia yang disampaikan Tiana sebagai fakta sejarah. Orang normal (yang menghargai ilmu pengetahuan umum) tentu akan mengapresiasinya. Tapi Harun, ia menilai Tiana sebagai orang aneh. Di titik ini saya makin bingung dengan konsep “aneh” di kepala Harun.


Tiana juga aneh. Sebagai seorang novelis yang punya nama, setidaknya terlihat dari seorang penjual buku di Yogyakarta yang minta foto bareng, saya tak menemukan alasan kuat mengapa ia mesti datang ke Yogyakarta. Tidak ada rencana untuk mencari inspirasi dengan jalan jauh, sebab ia seharian hanya di kamar kos atau berbelanja buku.

Di awal, ia hanya menangkap suasana Yogyakarta. Tapi apa itu cukup untuk modal bikin novel bagus, sebagus pujian si penjual buku yang menggemari karya-karya Tiana?

Pertemuan dengan Harun yang membuat inspirasinya berkembang hanyalah kebetulan belaka, dan bangunan narasi yang klise ini bagi saya makin memunculkan karakteristik sebuah FTV—bukan produk yang cocok tayang di layar lebar.


Keputusan Tiana untuk meninggalkan Harun dan mengiyakan lamaran Arie juga terkesan seperti narasi yang dipaksakan. Tiana tidak berbuat kesalahan sebab hanya mengunjungi ayahnya, sehingga harusnya tak perlu berbohong. Pun pada saat itu Arie bukan siapa-siapa, sehingga Tiana tak perlu khawatir akan membuat Harun cemburu.

Toh, seandainya pun Harun cemburu, Tiana seharusnya tidak menyerah terlalu mudah. Ia mengakui cintanya untuk Harun, bukan untuk Arie. Tapi ia bukan hanya mau menjalani hidup bersama Arie, namun juga rela diajak pindah ke Italia bersama Arie yang bekerja sebagai dokter mata di sebuah rumah sakit modern.

Meski kemudian Tiana sungguh menyesalinya, keputusan yang ia ambil terlalu impulsif dan tanpa dinarasikan memakai dasar yang kuat.

Akhir ceritanya juga mudah Anda tebak. Petunjuknya ada pada judul, penyesalan Tiana, dan profesi Arie. Bukan “plot-twist” yang wah, dan tentu saja pernah Anda saksikan di film-film lainnya.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Film)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight