Assalamualaikum Calon Imam: Sinetron Penjaja Virus Baper Nikah

infografik misbar assalamualaikum calon imam
Cover Film Assalamualaikum Calon Imam. Facebook.com/filmACI
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 12 Mei 2018
Dibaca Normal 4 menit
Kualitas film secara keseluruhan masih di level sinetron. Lebih tepatnya yang Islami dan tayang untuk meramaikan bulan Ramadan.
tirto.id - Jika untuk sepotong drama Anda disodori dua opsi, yakni menghabiskan Rp50 ribu ke bioskop atau menyalakan televisi, mana yang Anda pilih?

Saya memilih yang pertama, demi kepentingan kerja. Entah apa motivasi belasan orang lainnya yang pada Kamis (10/5/2018) sore juga mengunjungi Kalibata XXI, Jakarta Selatan, untuk menyaksikan film Assalamualaikum Calon Imam.

Antara melaporkan film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama terbitan Coconut Books. Sebelum cetak sudah laris manis dibaca sebanyak lebih dari 3 juta kali oleh para pengguna aplikasi Wattpad. Prized Productions dan Vinski Productions pun tertarik mengangkat novel setebal 476 halaman itu ke layar lebar.

Sang penulis, Ima Madaniah, menyerahkan perubahan isi cerita kepada Oka Aurora, selaku penulis naskah. Findo Purnomo HW didapuk sebagai sutradara. Usai promosi digencarkan, baik melalui siaran pers maupun akun media sosial, tanggal 9 Mei 2018 film dirilis ke bioskop-bioskop di tanah air.

Pada hari kedua pemutaran dugaan saya terbukti: film ini kurang diminati penonton. Hanya enam bioskop di Jakarta yang memutarnya. Di studio satu tempat saya menonton misalnya, kursi hanya terisi kurang dari separuh. Itu pun bolong-bolong. Seorang anak balita sampai bebas bermain di barisan kursi terdepan.


Keliru fatal jika sejak berangkat ke bioskop Anda sudah menetapkan ekspektasi yang tinggi. Di tingkat medium pun mubazir.

Dari segi sutradara, misalnya, apa yang bisa diharapkan dari sineas spesialis film horor dan esek-esek berkapasitas anjlok seperti Setan Budeg (2009), Pocong Setan Jompo (2009), Menculik Miyabi (2010), Lihat Boleh, Pegang Jangan (2010), hingga Suster Keramas 2 (2011)?

Kualitas sinematografi sama sekali tak istimewa. Alur cerita terlalu banyak dijejali kebetulan-kebetulan yang klise. Musik latar berlebihan demi dramatisasi adegan inti. Tidak ada tokoh dengan karakter yang menawarkan kesegaran, pun nihil akting yang menawan.

Pendeknya, bagi saya film ini serupa sinetron atau film televisi (FTV) yang ditayangkan di bioskop. Pembedanya adalah nuansa Islami yang amat kental sebagai dasar logika cerita, corak pakaian, gerak-gerik, dan isi dialog para pemain. Jadi masih sekelas sinetron, lebih tepatnya sinetron yang khusus tayang selama bulan Ramadan.

Kentalnya nuansa keislaman sudah dipertontonkan sejak awal. Fisya (Natasha Rizki), seorang mahasiswi farmasi selaku tokoh utama, melafalkan doa yang menohok penonton: cinta pada calon suami agar jangan sampai mengurangi cinta pada Allah. Tokoh utama kedua, Dokter Alif (Miller Khan), juga ditampilkan sedang bersiap mau ke rumah sakit usai salat Subuh.


Selanjutnya adalah klise demi klise yang menandakan betapa malasnya penulis novel maupun naskah dalam meramu alur cerita.

Kedekatan Alif dan Fisya, misalnya, karena sama-sama menolong korban kecelakaan. Ponsel Fisya terbawa Alif, sehingga Alif harus jadi “gentleman” dengan mengembalikannya ke rumah Fisya. Terlalu kebetulan, apalagi merujuk pengakuan Alif yang mengaku bahwa insiden tertukarnya ponsel disebabkan jenisnya mirip serta ringtone-nya sama persis.

Ada juga Jidan (Andi Arsyil), pria teman masa kecil yang disukai Fisya tapi bertepuk sebelah tangan. Jidan mengajak Fisya ke kantin, lalu dengan dramatis menunjukkan cincin bak mau melamar, tapi ternyata berniat melamar kakak Fisya, Salsya (Merdi Octav). Fisya yang sebenarnya sedang berusaha melupakan Jidan tentu saja patah hati, dan pamit pergi ke kelas.

Konfliknya memang tidak serba hitam-putih, tetapi terbangun dengan tidak elegan. Sebagaimana celetukan seorang penonton di sebelah saya, adegan di kantin itu “lebay”, karena Jidan berekspresi serta menuturkan dialog seperti orang mau melamar, bukan sekadar mau menunjukkan cincin tunangan.


Ini baru satu dari sekian bangunan konflik yang membosankan sekaligus rapuh di sepanjang film. Benar-benar bak sedang menonton drama keluarga picisan di televisi, bukan layar lebar.

Fisya adalah perempuan yang trauma dengan laki-laki. Selain Jidan, Fisya juga memusuhi ayahnya yang dulu memilih menikahi perempuan lain. Faktanya: ayah Fisya hanya menuruti wasiat adiknya sebelum meninggal. Melaksanakan wasiat orang yang meninggal wajib hukumnya dalam Islam.

Logika cerita yang didasarkan pada motif relijius juga yang membuat Fisya mau memaafkan sang ayah menjelang bagian akhir film (bagian yang bikin beberapa penonton banjir air mata). Fisya bahkan mau mewujudkan keinginan sang ayah, yang sedang sekarat di ranjang rumah sakit, yakni menjadi wali nikah bagi Fisya.

Menikah dengan siapa? Siapa lagi jika bukan Alif yang KEBETULAN juga murid terbaik ayah Fisya dan berada di rumah sakit sejak si ayah kritis.


Fisya kemudian bertanya mengapa Alif memilih dirinya. Disaksikan ombak Pantai Losari, dengan tatapan meyakinkan, Alif berucap “Karena setiap kali aku selesai salat istikharah, yang muncul selalu wajah kamu.”

“Subhanallah..” lirih penonton di samping saya, sebut saja Juminten.

Sang ayah langsung mangkat beberapa saat usai ijab qabul. Banjir air mata muncul lagi, Juminten menarik tisu kembali.

Puncak klise film ini muncul kala diketahui bahwa Fisya menderita satu penyakit saraf mematikan, yang jika tak disembuhkan maka akan berbuntut pada kelumpuhan permanen (sungguh klasik, pemirsa!). Fisya merahasiakannya dari Alif, tapi toh akhirnya Alif tahu. Dan usai operasi yang justru memperparah kondisi Fisya, keajaiban datang.

Alif masih mengaji di samping Fisya yang terbaring koma, lamat-lamat Fisya tersadar seraya berbisik “Assalamualaikum, imamku...”



Baper Nikah (Muda) itu Menjual


Mudah dianalisis bahwa yang dijual dari novel Ima maupun film ini adalah baper nikahnya. Dari judulnya saja sudah bikin darah remaja muslimah, segmen pembaca yang disasar Ima, minimal berdesir halus (bagi yang sudah kebelet nikah pakai banget barangkali diikuti dengan imajinasi pria soleh yang menjawab “waalaikumsalam calon makmum..”)

Namun Anda keliru jika menganggap Ima adalah perempuan usia di atas 30-an yang mulai kenyang asam garam berumah tangga. Ima lahir di Bandung tanggal 24 Desember 1998. Artinya ia menulis cerita di usia kurang dari 19 tahun.

Di usia itu pula, sebagaimana tertera di profil Wattpad, Ima menyelesaikan empat cerita lain: Wa'alaikumsalam Pelengkap Iman (sekuel Assalamualaikum Calon Imam), Muslimah Next Door, Aku, Al-Quran & Alzheimer, dan Di Penghujung Do'a Jingga. Tema utamanya serupa, fiksi relijius dengan perempuan muda sebagai tokoh utama.


Saya tidak tahu apakah Ima (dan penulis sejenis) adalah korban baper nikah, lalu menuangkannya dalam bentuk literasi populer. Namun saya cukup yakin akan satu hal: baper nikah memang sedang jadi virus yang menjangkiti muda-mudi muslim Indonesia dalam skala yang cukup luas. Ima (dan penulis sejenis) hanya menangkap situasi ini sebagai peluang bisnis.

Untuk membuktikannya, usai dari bioskop, saya mampir ke Gramedia di Plaza Kalibata. Baru masuk toko dan belok kiri ke bagian buku-buku Islam, saya disuguhi tidak hanya satu, tapi beberapa rak khusus buku tentang kegalauan mencari jodoh hingga yang secara eksplisit mengajak nikah muda.

Secara kuantitas jauh lebih melimpah ketimbang sastra klasik di pojok rak fiksi. Sebagai jaringan bisnis buku terbesar di tanah air, Gramedia tidak asal memajangnya tanpa perhitungan ekonomis—bahwa buku-buku tersebut memang sedang banyak penikmatnya.


Dari sampul yang didominasi warna cerah, pemilihan rupa huruf, ilustrasi, dan sedikit penjelasan di sampul belakang, segmen pembaca buku-buku itu lagi-lagi adalah remaja muslimah. Judul-judulnya benar-benar bikin masa pubertas kian meresahkan.

Bukan Jodohnya yang Tak Kunjung Datang Tapi Niatnya yang Perlu Ditata Ulang, Menikahimu di Dunia, Berjodoh hingga Surga, atau Menemukan Cinta-Mu saat Kehilangan Cintamu. Ada juga Kutemukan Dirimu dalam Sujudku, Kutemukan Cinta di Jalan Hijrahku, atau yang saya kurang paham maksudnya, Taaruf Mati Langkah.

Beberapa ada yang lebih terang-terangan, seperti S.A.H: Sudahi Atau Halalkan, Alhamdulilah On the Way Nikah, Bertobatlah dengan Menikah!, atau Nikah? Yes...!. Juara pertama versi saya adalah yang paling “to the point”: Sayang, Kapan Kita Nikah?


Saya penasaran dengan sebuah buku berjudul Roadway to Jannah yang dibolak-bolik cukup lama oleh seorang pengunjung. Saat saya intip, isinya ternyata kiat-kiat menuju pernikahan dalam bentuk komik.

Ada satu bagian yang sama persis dengan adegan di film Assalamualaikum Calon Imam, yakni penggunaan surat Ar-Rahman sebagai mahar yang dibacakan mempelai pria sebelum ijab qabul. Cukup itu saja. Tak perlu emas atau barang berharga lain.

Apakah jenis mahar ini juga sedang ngetren? Apa juga ada di cerita fiksi Islami lain? Atau memang demikian tuntunannya?

Sembari saya mencari tahu jawaban-jawaban pertanyaan itu, nun jauh di sebuah rumah produksi, seorang pemodal sedang merapatkan rencana membeli royalti novel fiksi Islami yang populer di kalangan remaja Muslimah, juga untuk diangkat ke layar lebar. Momentumnya pas, sebab sebentar lagi bulan Ramadan. Saatnya lanjut mendulang keuntungan, dari kegalauan-kegalauan yang terpendam.

Baca juga artikel terkait FILM ISLAMI atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Film)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight