tirto.id - Produsen oleokimia, PT Sumi Asih, mengalami penurunan produksi hingga 30 persen imbas adanya pembatasan pasokan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) di sektor industri. Akibatnya perusahaan terpaksa harus menghentikan beberapa mesin produksinya imbas pembatasan itu.
Direktur Operasional PT Sumi Asih, Sebastian Darmadi, memastikan meski terjadi penurunan produksi pihaknya tidak merumahkan para pekerja. Walaupun penurunan itu diakui berdampak terhadap sebagian pekerjanya, salah satunya mereka yang bertugas pada bagian pengemasan.
“Kami sih untuk sementara masih mengambil sikap tidak merumahkan,” kata Sebastian di Kantor PT Sumi Asih, Bekasi, 22/8/2025).
Bastian menjamin para pekerja tersebut tetap berkantor seperti biasa meski tidak melakukan pekerjaannya. Perusahannya juga tetap membayar gaji para pekerjanya itu secara penuh.
“Tetap masuk, tapi mereka ya tidak, ya cuma datang saja sih. Ya istilahnya memang anggur kerja di kantor. Jadi tetap secara upah kami berikan secara full. Cuma ya tidak ada output yang dilakukan,” kata Sebastian.
Menyiasati agar perusahaan tetap berproduksi, Sebastian menyatakan pihaknya rela membayar biaya tambahan. Adapun, jumlah kebutuhan gas HGBT PT Sumi Asih minimal 1.500 MMBTU per hari untuk bisa beroperasi.
Namun, akibat pembatasan itu, mereka hanya mendapat 1.100 MMBTU per harinya. Artinya, dalam per hari, pihaknya hanya bisa menggunakan delapan persen gas HGBT. Apabila lebih dari delapan persen, pihaknya akan dikenakan biaya tambahan lebih dari 120 persen.
“Jadi bisa dibayangkan berapa biaya yang harus kami bayarkan, kami enggak mau ambil risiko untuk menyetop total. Namun sejauh ini jumlah penurunan utilisasi kami saja sudah turun 30 persen,” ucap Sebastian.
Menurut Sebastian, pembatasan penyaluran gas HGBT di sektor industri dilatarbelakangi alasan PGN yang menyatakan adanya keadaan ketidakseimbangan pasokan.
“Mereka memiliki keadaan unbalance dari segi supply-nya mereka. Sehingga mereka memperlakukan namanya kuota harian. Jadi yang kalau kami bilang tadi, seharusnya kan kita pemakaian itu berdasarkan perhitungan satu bulan, ini mereka mengatakan, oh tapi akan kami perhitungkan ini seharusnya ada pembatasan pemakaian per hari,” ucap Sebastian.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































