Suka Duka Para Pekerja Jasa Ekspedisi di Momen Hari Raya Idulfitri

Reporter: Andrian Pratama Taher - 5 Mei 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Selama Ramadan, jumlah paket yang harus diantar melonjak signifikan. Rerata tembus 300-360 paket per hari dalam sepekan jelang lebaran.
tirto.id - “Saya kerja lapangan, waktu fleksibel. Asal sabar ya. Kalau lama balasnya berarti lagi delivery.”

Pernyataan tersebut diungkapkan Rian (nama disamarkan atas permintaan narsum). Sore itu saya berkenalan dengan Rian, salah satu pegawai ekspedisi perusahaan swasta ternama di Indonesia. Kami bercerita banyak pada Minggu (24/4/2022). Mengapa saya berkenalan dan mewawancarainya?

Semua berawal ketika saya melihat kalender di sejumlah toko online besar. Beberapa marketplace mengumumkan kalender belanja besar-besaran di laman mereka. Saya pun memahami alasan mereka: THR tahun ini dibayar penuh, pandemi mulai mereda, mudik diperbolehkan. Hal ini tentu tidak akan disia-siakan mereka untuk menjaring pembeli sebanyak-banyaknya.

Masalahnya, siapa yang akan mengantar barang-barang yang diborong konsumen karena diskon besar-besaran tersebut? Apalagi tanggal promo berlangsung sampai hari lebaran. Pertanyaan itu yang mendorong saya berkenalan dengan Rian.

Rian pun bercerita soal pekerjaannya sebagai pegawai ekspedisi ternama di ibu kota. Ia mengisahkan soal suka dan duka bekerja sebagai pegawai ekspedisi dalam dua tahun terakhir. Rian mengaku, ia suka menjalani profesinya selama hampir 2 tahun ini karena senang bisa bekerja di lapangan. Ia bilang tidak bosan dan ada saja rezeki selama kerja di lapangan.

“Dukanya kalau lagi cuaca enggak mendukung, musibah yang enggak direncanain kayak tiba-tiba ban bocor sama jam kerjanya pulang malam terus,” tutur Rian.

Rian mengaku, angka barang yang dikirim olehnya naik signifikan selama Ramadan tahun ini. Di hari sebelum Ramadan, Rian mengantar paket rerata 100 hingga 150 paket per hari. Ukuran paket pun beragam, mulai dari sebesar kardus mie instan hingga lebih besar lagi. Ia mulai mengirim barang sejak jam 7 pagi hingga sekitar pukul 10 malam dengan 3 kali jalan. Ia berupaya agar paket tersebut berhasil ludes dikirimkan ke penerima.

Selama Ramadan ini, jumlah paket yang harus diantar melonjak signifikan. Seingat Rian, rerata paket yang dikirim saat bulan puasa tembus 300-360 paket per hari dalam sepekan terakhir. Pria dua anak ini pun mengaku cukup sering kembali ke kantor karena paket yang dikirimkan tidak penuh target.

“Pernah teman saya sampai jam 11 (malam). Ya akhirnya minta setop sama bos saya, diminta balik ke gudang langsung," kata Rian.

“Nih saya aja mau berangkat lagi bawa putaran 3. Ini setengahnya yang saya bawa total 70-an paket. [...] Saya bawa setengahnya. Kalau bawa semuanya gak akan bisa. Larut banget baru selesai," ujar Rian sambil menunjukkan kendaraan roda duanya membawa paket dari jok belakang hingga dekat setir.



Lain lagi dengan Ari (nama juga disamarkan atas permintaan narsum). Pria berusia 35 tahun itu bekerja sebagai salah satu admin pengentri data di perusahaan ekspedisi besar di Indonesia. Ari mengaku menginput data khusus untuk pengiriman barang dari salah satu perusahaan toko online besar hingga 5.000 paket per hari selama Ramadan.

“Bisa total 5.000 paket kalau banyak,” kata Ari kepada reporter Tirto, Kamis (28/4/2022).

Ari mengaku, angka yang biasa diinput olehnya bisa mencapai 2.000 paket per hari sebelum Ramadan. Kiriman paket naik signifikan jelang lebaran, apalagi banyak promo yang disediakan oleh pelapak di marketplace.

Ia bercerita, jam kerja di perusahaan pun beragam. Ia bisa masuk jam 6 atau 7 pagi, tetapi pulang jam 8 malam. Pekerjaan Ari berfokus pada mendata paket yang masuk dan keluar paling lambat hingga setelah Magrib.

Meskipun sebatas admin, Ari tetap masuk saat cuti bersama Idulfitri 2022. Namun, kata Ari, ada kompensasi lembur, tapi hanya diberikan pada 1 hingga 3 Mei 2022. Sementara cuti bersama 29 April, 4, 5, dan 6 Mei tetap masuk dan tidak dihitung lembur.

“Lembur itu hanya berlaku di tanggal 1, 2 dan 3. Kalau [di luar tanggal] ini hitungan biasa saja,” kata Ari.


Pernah Gagal Kirim Paket saat Ramadan

Bagi Rian, dan mungkin pegawai ekspedisi lapangan lainnya, waktu merupakan hal yang sangat berharga. Ia harus mengirim paket tepat waktu meski pada akhirnya bekerja lembur (overtime). Ia mengaku, tempat perusahaan bekerja menerapkan standar ketat dalam pengiriman, tapi tetap saja berpotensi molor. Hal itu diakibatkan karena tidak sedikit pelanggan yang merespons lambat saat paket diantar.

“Target saya satu paket satu rumah itu 1 menit mas. Disuruh nunggu sampai 5 menit saja tuh bagi kurir pasti dibilang lama. Itu dukanya. Tapi ya mau gimana pun duka tetep harus suka, kan?" kata Rian berusaha menghibur diri.

Rian pun bercerita pengalaman uniknya selama mengantar paket di bulan Ramadan tahun ini. Ia mengakui beberapa waktu terakhir kerap mengantar paket, tetapi penerima tidak ada akibat sudah mudik. Ia pun mengaku tetap menerapkan standar ketat sebelum batal mengantar paket.

“Ada saja yang sudah mudik, tapi kan kita langsung konfirmasi. Kalau sekiranya fix paket enggak bisa sukses terkirim, ya langsung di-return ke pengirimnya dengan catatan ada bukti kuat kondisi pas pengiriman," tutur Rian.

Rian juga mengaku sering digoda oleh anak kecil saat mengantar paket. Pernah suatu waktu, kata Rian, bocah-bocah mendatanginya sambil bertanya kepemilikan paket yang dia bawa. Ia lantas mengerjai anak-anak tersebut.

“Dia (bocah-bocah) nanya paket siapa, saya sebut nama asal-asalan sampai dia muka mikir ingat-ingat nama yang saya sebut, niatan dia mau ngasih tahu rumahnya. Padahal bukan (dan) nggak ada di area situ namanya," ujar Rian.

Rian bercerita soal keinginannya berlebaran dengan keluarga tahun ini. Ia mengaku bekerja dengan sistem 6 hari kerja dan 1 hari libur. Ia tidak merasakan cuti bersama selayaknya pegawai lain. Pada lebaran tahun lalu, Rian masuk kerja pada hari kedua lebaran. Ia mulai kerja pada pukul 10 pagi, tetapi tidak diwajibkan menghabiskan paket. Ia pun mendapat uang lembur.

"Itu susah tuh mas kalau pas lebaran ngantar paket. Banyak yang pada sepi rumahnya," kata Rian.



Lebaran tahun ini, ia kembali tidak mendapat libur saat cuti bersama. Hal itu terlihat dari respons atasan Rian yang memberikan sinyal tetap bekerja di hari cuti bersama dan libur lebaran. Padahal ia ingin bisa berlibur panjang bersama istri dan kedua anaknya.

“Mau ajak keluarga liburan sih pengennya mah. Waktu diabisin banyak buat kerjaan, jadi kepengennya mah dikasih cuti panjang buat ngabisin waktu sama keluarga," kata Rian berharap.

Rian mengaku tidak memiliki target spesifik di Ramadan dan Idulfitri tahun ini. Ia hanya berharap bisa diberi kesehatan sehingga dapat bekerja dengan baik.

“Saya cuma berharap semoga dikasih badan yang selalu sehat, jiwa yang kuat saja sih. Jadi mau beban paket mau seberapa banyak saat ini setelahnya nanti ini semoga bisa jadi berkah buat saya dan kurir-kurir lainnya," kata Rian.

Hal yang sama dialami Ari. Ia mengaku ada suka duka meski sebatas penginput data. Ari mengatakan banyak pelajaran yang bisa diterima sebagai penginput data. Akan tetapi, begitu bicara soal duka, ia mengaku tekanan disiplin kerja sangat tinggi.

Ari mengaku sering mendengar keluhan kawannya kurang libur. Bahkan ada yang sampai mengeluh dengan bahasa “Gila gue masuk terus ini lembur terus” karena minim libur. Selain itu, ia juga mengaku sempat diminta bekerja sebagai kurir. Padahal status kerja dia sebagai penginput data.

Ari pun berharap bisa mendapat libur seperti pekerja lain. Ia menilai waktu bersama keluarga tetaplah yang utama jika bisa dapat libur panjang.

“Ingin (libur panjang dengan keluarga) karena kumpul dengan keluarga itu nomor 1," kata Ari.


Baca juga artikel terkait PEKERJA EKSPEDISI atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz

DarkLight