tirto.id - Dua sekolah kini berada dalam satu kompleks di Sentra Wyata Guna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Jawa Barat. Keduanya adalah Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 9 Kota Bandung yang baru resmi beroperasi dan Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) A Pajajaran.
Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial (Kemensos), Supomo, memastikan keberadaan Sekolah Rakyat itu tidak akan mengganggu operasional SLB meski keduanya berdampingan. Kegiatan pembelajaran di kedua sekolah masing-masing bisa tetap berjalan normal.
Dia meyakini kehadiran SRMP 9 Kota Bandung di Sentra Wyata Guna tidak akan mengurangi kenyamanan para pelajar SLBN A Pajajaran dalam menjalani aktivitas pendidikan.
"Gedung Sekolah Rakyat menggunakan bangunan terpisah. Bahkan saat ini lebih nyaman karena sudah selesai renovasi," kata Supomo pada Rabu (16/7/2025).
Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala Sekolah SLBN A Pajajaran, Rian Ahmad Gumilar, merespons positif keberadaan Sekolah Rakyat di dekat sekolahnya. Dia juga memastikan kehadiran Sekolah Rakyat tidak mengganggu pembelajaran di SLBN A Pajajaran.
Rian justru berharap kedua sekolah itu bisa terlibat dalam kolaborasi yang positif sekaligus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang inklusif. Dengan begitu, Sekolah Rakyat dan SLB nanti bisa saling memperkuat untuk mewujudkan pendidikan yang ramah, inklusif, serta membentuk karakter positif generasi penerus bangsa.
"Mudah-mudahan ke depan tercipta lingkungan inklusif. Anak-anak Sekolah Rakyat bisa mengenal dan memahami teman-teman berkebutuhan khusus, dan kami pun bisa beradaptasi dengan keberadaan mereka," kata Rian.
Saat ini SLBN A Pajajaran sedang menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang diikuti 114 murid, termasuk 26 peserta didik baru dari TK, SDLB, dan SMPLB.
Adapun SRMP 9 Kota Bandung telah memulai MPLS pada 14 Juli 2025. Sekolah ini sekarang menampung 50 murid, meliputi 30 siswa dan 20 siswi.
Kepala Sekolah SRMP 9 Kota Bandung, Setia Nugraha, mengatakan 50 peserta didik itu pun telah menempati asrama. Selama MPLS, mereka diarahkan untuk mandiri dan menjalani program pendidikan karakter.
"Anak-anak kami latih untuk hidup mandiri. Di asrama, mereka dibiasakan bangun pagi, ibadah di masjid, olahraga, dan mengikuti pembelajaran seperti SMP pada umumnya. Bedanya, di Sekolah Rakyat ini ada tambahan pendidikan karakter, kebangsaan, penguasaan bahasa, dan keterampilan digital," kata Setia.
Setia menambahkan, pengenalan pada nilai-nilai kebersamaan juga masuk dalam program asrama SRMP 9 Kota Bandung. Dia berharap program itu mendorong peserta didik memiliki kepribadian unggul, berkarakter, dan berdaya saing.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id





























