Menuju konten utama

SMDR Akui Penutupan Selat Hormuz Naikkan Cost Perusahaan

Penutupan Selat Hormuz karena eskalasi konflik AS dan Israel dengan Iran berdampak pada biaya operasional SMDR. Perusahaan mengambil langkah antisipatif.

SMDR Akui Penutupan Selat Hormuz Naikkan Cost Perusahaan
Ilustrasi peta Selat Hormuz. FOTO/iStockphoto

tirto.id - PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) mengakui bahwa penutupan Selat Hormuz imbas eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran berdampak pada peningkatan biaya operasional perusahaan.

Direktur Utama Samudera Indonesia, Bani Maulana Mulia, mengatakan meskipun perseroan telah menghentikan layanan langsung ke kawasan Timur Tengah, dampak tidak langsung tetap dirasakan di seluruh lini bisnis.

Ia menjelaskan bahwa perusahaan tidak mengalami dampak langsung karena telah mengambil langkah antisipatif dengan menghentikan aktivitas di kawasan tersebut.

"Beberapa servis yang menuju ke sana berhenti di pelabuhan-pelabuhan sebelumnya dengan menggunakan klausula force majeure. Sehingga kita bisa membongkar barang-barang customer di sana dan tidak meneruskan ke pelayaran ke risk area," ujar Bani dalam paparan kinerja perseroan secara daring, Senin (30/3/2026).

Namun, secara tidak langsung, ketegangan geopolitik di jalur strategis tersebut justru menciptakan dinamika baru di industri pelayaran global, seperti pengalihan rute dan peningkatan tarif pengiriman barang.

"Indirectly tentu ini menambah kebutuhan solusi pengiriman logistik ke berbagai tempat lain dan pengalihan, dan tentunya mendorong kenaikan rate di hampir seluruh lini-lini yang lain atau servis-servis yang lain," jelasnya.

Kenaikan Tarif Jadi Penyeimbang

Bani mengakui bahwa perusahaan menghadapi penambahan biaya di sejumlah pos, termasuk premi asuransi dan tarif sewa kapal imbas penutupan selat Hormuz dan meningkatnya harga minyak dunia.

Meski demikian, ia mengatakan bahwa perusahaan berupaya menjaga margin dengan menyesuaikan tarif pengiriman.

"Meskipun betul ada penambahan cost dan ada penambahan mungkin charges seperti insurance dan chart rate, tapi kita akan mencoba mengimbangi kenaikan cost dan juga kenaikan freight rate untuk bisa menjaga margin dari perusahaan," katanya.

Situasi ini, menurutnya, justru berpotensi meningkatkan pendapatan bagi seluruh industri pelayaran karena kenaikan tarif yang terjadi di hampir semua jalur.

“Secara natural potensi kenaikan bahan bakar atau cost ini naturally di-hedge oleh perusahaan langsung directly kepada customer bisa malah menaikkan pendapatan melalui surcharge,” ujarnya.

Distribusi dan Stok Barang Tertekan

Lebih lanjut, Bani mengungkapkan bahwa gangguan di Selat Hormuz berdampak signifikan terhadap distribusi dan ketersediaan stok barang secara global. Ruang muat kapal menjadi sangat terbatas, menyulitkan para pelanggan untuk mengirimkan barang.

"Tentu ada pengaruh yang cukup besar bagi distribusi dan stok barang yang terkait dengan jalur tersebut, dan impact-nya memang cukup besar. Saat ini customer kita banyak sekali yang mengalami kesulitan untuk bisa mendapatkan space di kapal karena space sangat tight," ungkapnya.

Menghadapi kondisi ini, Samudera Indonesia terus berupaya mencari solusi dengan menambah kapasitas armada dan frekuensi pelayaran di rute-rute yang dibutuhkan.

Dia menambahkan bahwa hampir semua komoditas terdampak oleh situasi ini karena gangguan terjadi pada jalur perdagangan penting global.

"Dan ini tentunya kita terus cari solusinya dengan kalau bisa menambah kapasitas, kalau bisa menambah kapal, kalau bisa menambah call yang dibutuhkan untuk bisa melayani para customer," ucapnya.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dipna Videlia Putsanra