tirto.id - Kasus kematian tragis seorang siswa sekolah menengah atas (SMA) swasta berinisial KA (18) menggegerkan warga Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, Jumat (5/6/2026). Pihak kepolisian menduga korban nekat mengakhiri hidupnya akibat mengalami tekanan emosional yang hebat setelah terlibat cekcok dengan sang ibu di rumahnya.
Kapolsek Talang Ubi, AKP Ardiyansyah, mengatakan, korban pertama kali ditemukan ibunya tergantung dengan seutas tali di rumahnya, Jumat. Warga pun sempat berkerumun ke lokasi setelah mendengar teriakan saksi.
Polisi dan Inafis kemudian datang ke lokasi untuk mengevakuasi korban, olah TKP, penyitaan alat bukti, dan keterangan awal dari saksi-saksi.
Setelah dilakukan visum, jenazah dibawa ke rumah duka untuk dimakamkan. Keluarga sepakat tidak melanjutkan kasus ini dan menerima sebagai musibah.
KArdiyansyah mengungkap, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban dan ciri-ciri fisiknya mengarah pada kategori gantung diri. Namun penyidik tidak bisa menyelidiki lebih lanjut karena adanya penolakan dari keluarga untuk dilakukan autopsi terhadap korban.
"Dari fisik, kami duga murni bunuh diri dengan cara gantung diri," ungkap Kapolsek Talang Ubi AKP Ardiansyah, Sabtu (6/6/2026).
Berdasarkan keterangan saksi, korban sempat cekcok dengan ibunya masalah tunggakan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Korban mengaku mendapat teguran dari sekolah yang membuatnya tertekan secara emosional.
"Ada SPP atau iuran bulanan sekolahnya yang belum terselesaikan, korban kena tegur dan ribut sama ibunya," kata Ardiansyah.
Terpisah, Kepala SMA Yayasan Perguruan Islam Pendopo YPIP, Ade Irawan, membantah keras dugaan tersebut. Menurut dia, kabar itu tidak benar adanya karena sekolah tidak membebankan iuran apa pun bagi siswanya.
"Tidak benar itu, kami tidak memberlakukan SPP atau iuran bulanan kepada siswa," kata Ade.
Ade menyebut klarifikasi ini perlu diberikan karena menyangkut nama baik sekolah dan keluarga korban. Dia khawatir isu yang berkembang dapat menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
"Spekulasi seperti ini sangat merugikan. Kami pastikan tidak benar itu," tukas Ade.
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id
































