Serbuan Inggris dan Riwayat Benteng Baluwarti Keraton Yogyakarta

Kontributor: Omar Mohtar, tirto.id - 22 Nov 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Benteng Baluwarti yang mengelilingi Keraton Yogyakarta direvitalisasi. Benteng ini sebagian hancur akibat serangan Inggris pada peristiwa Geger Sepehi 1812.
tirto.id - Revitalisasi Benteng Baluwarti yang mengelilingi Keraton Yogyakarta telah dimulai. Bagian benteng yang hancur karena serangan pasukan Inggris dibangun kembali. Peristiwa penyerangan itu dikenal sebagai Geger Sepoy atau Geger Sepehi yang terjadi lebih dari dua abad lalu.

Benteng ini memiliki tebal tembok empat meter, membentang dari timur ke barat sejauh 1.200 meter dan utara ke selatan sejauh 940 meter.

Pembangunan Keraton

Setelah Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755, Kesultanan Mataram terbagi menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Kasunanan Surakarta dipimpin oleh Sri Susuhunan Pakubuwana III, sementara Kasultanan Yogyakarta dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwana I.

Setelah perjanjian, Sri Susuhan Pakubuwana III menguasai setengah wilayah Kesultanan Mataram dan tetap berkedudukan di Surakarta, sedangkan Hamengkubuwana I menguasai setengah Mataram lainnya dan berkedudukan di Yogyakarta.

Kasultanan Yogyakarta yang baru berdiri itu belum memiliki keraton sebagai tempat raja memimpin jalannya pemerintahan. Maka itu, Sri Sultan Hamengkubuwana I kemudian memerintahkan pembangunan keraton yang dilakukan secara bertahap.

“Pada tahun 1755, Hamengkubuwana I pindah ke Yogyakarta dan membangun sebuah istana pada tahun 1756,” tulis M.C. Riclefs dalam Sejarah Indonesia Modern, 1200-2008 (2022, hlm. 218).

Sebelum tinggal dan memerintah di keraton, Sri Sultan Hamengkubuwana I beserta rombongan tinggal di pesanggrahan Ambar Ketawang. Hamengkubuwana I memilih satu tempat yang kelak berdiri keraton di satu hutan yang dikenal dengan sebutan Hutan Beringan. Di hutan tersebut ada satu desa yang bernama Desa Pacetokan.

“Di dekat desa itu, Sunan Amangkurat IV pernah dibangun pesanggrahan yang bernama Garjitawati atau Ngayogya,” tulis Djoko Soekiman dan kawan-kawan dalam Gedung Agung Yogyakarta (Istana Kepresidenan di Yogyakarta), (1983, hlm. 10).

Tempat itu dipilih oleh Hamengkubuwana I karena pesan dari penunggu Hutan Beringan yang diinformasikan oleh seorang pencari rumput bahwa lokasi itu baik untuk dijadikan keraton, tanahnya rata dan landai, terletak di antara dua aliran sungai. Tempat itu juga awal Hamengkubuwana I mendeklarasikan dirinya sebagai “Susuhan Ing Mataram”.

Setelah membuka Hutan Beringan, pembangunan keraton dimulai pada 9 Oktober 1755 dan memakan waktu hampir setahun. Sri Sultan Hamengkubuwana I lalu mulai menempati istana baru pada 7 Oktober 1756. Hal itu diperkuat dengan adanya candrasengkala atau sengkalan yang berada di sekitar bangunan keraton.

“Perpindahan Pangeran Mangkubumi dari pesanggrahan Ambar Ketawang ditandai dengan candrasengkala memet berupa arca dua naga yang ekornya saling berlilitan. Candrasengkala tersebut berbunyi Dwi Naga Rasa Tunggal yang mengandung makna angka tahun Jawa 1682 atau 1756 M,” tulis I.G.P. Anom dan kawan-kawan dalam Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I (1996, hlm. 134).


Pembangunan Benteng di Sekeliling Keraton

Sri Sultan Hamengkubuwana I membangun kompleks keraton dilengkapi dengan bangunan-bangunan lain, salah satunya benteng.

“Pada permulaan pembangunannya, dimulai sesuai dengan perencanaan yang amat menyeluruh meliputi wilayah keraton dari bagian pusat atau induk, daerah kelengkapan keraton yang ada di sekelilingnya, seperti Tamansari dan benteng keraton,” tulis Susatyo dan Bambang Damarsi dalam Struktur Bangunan Kraton Yogyakarta (1980, hlm. 12).

Benteng merupakan salah satu bagian penting dari sistem pertahanan keraton. Keraton Yogyakarta dikelilingi oleh dua lapis tembok benteng. Bagian benteng terluar dan terluas disebut Benteng Baluwarti, sedangkan bagian yang paling dalam disebut Benteng Cepuri.

Benteng Baluwarti mengelilingi bagian keseluruhan Keraton Yogyakarta, sementara Benteng Cepuri hanya mengelilingi kawasan inti keraton.

Infografik Mozaik Benteng Keraton
Infografik Mozaik Benteng Keraton. tirto.id/Ecun


Benteng Baluwarti dibangun hampir sezaman dengan pembangunan Keraton Yogyakarta dan selesai dibangun pada tahun 1792. Benteng ini dibangun mengelilingi kawasan keraton dan memiliki lima pintu gerbang yang disebut plengkung.

Kelima pintu gerbang itu masing-masing memiliki sebutan, yaitu Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan di sebelah timur laut, Plengkung Jagasura atau Plengkung Ngasem di sebelah barat laut, Plengkung Jagabaya atau Plengkung Tamansari di sebelah barat, Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gadhing di sebelah selatan, dan Plengkung Madyasura atau Plengkung Gondomanan di sebelah timur.

Di sekeliling benteng juga dibangun parit yang berfungsi untuk mencegah musuh yang akan menyerang benteng. Di tiap sudut benteng terdapat bastion yang berfungsi untuk melihat dan mengintai pergerakan musuh.

“Dinding besar keraton dengan benteng-benteng penjuru yang menjorok ke luar menguasai jalan masuk dari utara dan melingkari seluruh daerah istana,” tulis Peter Carey dalam Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 (2011, hlm. 4).

Keutuhan Benteng Baluwarti hanya berlangsung hingga tahun 1812. Pada Juni tahun tersebut, pasukan Inggris menyerang Keraton Yogyakarta dalam peristiwa yang dikenal sebagai Geger Sepehi atau Geger Sepoy.

“Hujan tembakan artileri Inggris dimulai sore itu (18 Juni) dan terus berlangsung hingga jauh pada malam hari Jumat, 19 Juni, saat Inggris mulai menyerbu,” tambah Peter Carey.

Pasukan Inggris berhasil menembus Benteng Baluwarti pada 20 Juni 1812. Serangan artileri Inggris merusak beberapa bagian benteng termasuk bastion di sebelah timur yang hancur.

Serangan itu tidak hanya menghancurkan beberapa bagian Benteng Baluwarti, tapi juga menurunkan Sri Sultan Hamengkubuwana II dari takhtanya dan diasingkan ke Penang.

Lebih jauh, pasukan Inggris juga menjarah beberapa tinggalan penting seperti naskah-naskah dan benda-benda bersejarah serta harta milik Kesultanan Yogyakarta yang mereka boyong ke negaranya.

Baca juga artikel terkait KERATON YOGYAKARTA atau tulisan menarik lainnya Omar Mohtar
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Omar Mohtar
Penulis: Omar Mohtar
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight