Menuju konten utama

Senyum Semringah Mbah Painah, Penjual Daun Pisang yang Naik Haji

Kebiasaan hidup sehat, jadi modal Mbah Painah dalam beribadah. Rutinitas mengantar daun pisang jalan kaki, memudahkan langkahnya ke Baitullah.

Senyum Semringah Mbah Painah, Penjual Daun Pisang yang Naik Haji
Mbah Painah (tengah) bersama anaknya, Sabar (kiri), serta Ketua Kloter YIA 22, Muhasyim (kanan), saat ditemui di Kawasan Misfalah, Makkah, Minggu (7/6/2026). Abdul Aziz/Tirto/MCH 2026.

tirto.id - Seperti masih bermimpi, Mbah Painah (65 tahun) mampu menginjakkan kaki di Tanah Suci pada musim haji tahun ini. Ucap syukur terus dirapalnya lantaran berkesempatan menunaikan rukun Islam kelima, meski berangkat tak dibersamai suami.

Sejatinya, ibu dari empat orang anak ini mendaftar haji bersama sang suami, Munasir (71 tahun), pada 2012. Namun, Munasir dinyatakan tidak lolos istitha’ah kesehatan yang menjadi syarat utama bagi jemaah calon haji melunasi setoran.

"Bapak tidak lulus istitha'ah, ini digantikan," kata Sabar (35 tahun), putra bungsu Mbah Painah, saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) pada Minggu (7/6/2026) di Sektor 8, Kawasan Misfalah, Makkah, Arab Saudi.

Menurut Sabar, Mbah Munasir tidak bisa berangkat haji karena berdasarkan pemeriksaan dokter divonis pembengkakan jantung. Alhasil, porsi haji Mbah Munasir digantikan Sabar, sekaligus mendampingi Mbah Painah selama di Tanah Suci.

Sabar mengatakan, bapaknya sempat kecewa, apalagi saat Ramadhan 2026 sering periksa, serta sempat berangkat umrah sebelum puasa. Namun akhirnya, Mbah Munasir menerima jika haji adalah soal panggilan, bukan hanya terkait keinginan.

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia pada musim haji tahun ini memang memperketat syarat istitha’ah kesehatan. Selain karena kebijakan Arab Saudi, Kemenhaj juga ingin memastikan agar jemaah haji yang berangkat bisa beribadah dengan aman dan nyaman.

Harapannya jangan sampai jemaah baru sampai Arab Saudi langsung sakit dan tidak sempat beribadah. Karena itu, syarat istitha’ah kesehatan menjadi salah satu poin penting yang dibenahi oleh Kemenhaj pada musim haji 2026.

Bahkan, menurut Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochamad Irfan Yusuf, sebanyak 345 calon jemaah haji Indonesia gagal berangkat pada musim haji tahun ini. Para calon jemaah ini sudah masuk embarkasi, tapi tidak lolos istitha’ah kesehatan.

"345 jemaah ini hampir satu kloter, ini menunjukkan bahwa kita memang serius dalam menegakkan istitha’ah kesehatan," kata pria yang akrab disapa Gus Irfan saat acara Konsolidasi Akbar PPIH Arab Saudi jelang Armuzna, Minggu malam (24/5/2026).

Haji adalah Soal Panggilan

Mbah Painah

Mbah Painah (65) dan Sabar (35) bersama tim Media Center Haji (MCH) 2026 di Kawasan Misfalah, Makkah, Minggu (7/6/2026). Foto/ Tim MCH 2026.

Kisah yang dialami Mbah Painah dan Mbah Munasir semakin membuktikan bahwa haji bukan soal harta dan keinginan, tapi panggilan Allah. Siapapun yang dipanggil Allah ke Baitullah, ia akan menemukan jalannya menuju Tanah Haram.

Sama seperti Mbah Painah. Perempuan yang sehari-hari berjualan daun pisang dan sayuran hasil berkebun ini, awalnya tak ingin berangkat haji. Ia justru dipaksa oleh suaminya untuk mendaftar haji bersama.

Keinginan Mbah Munasir untuk naik haji, kata Sabar, bermula pada 2004. Saat itu, seorang kiai di kampungnya, Dusun Ngedok, Desa Wonosobo Barat, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, ingin sekali berangkat haji. Lalu, kata Sabar, pamannya mengajak Munasir agar daftar juga.

Singkat cerita, Mbah Munasir mengajak istrinya agar daftar haji bareng. Namun saat itu, Mbah Painah justru menolaknya. Alasannya ingin fokus "ngopene" anak-anaknya.

"Kalau saya [Munasir] berangkat, kamu [Painah] enggak, saya enggak mau. Kalau mau berangkat bareng, ya ayo," kata Sabar menirukan perkataan ayahnya saat itu.

Mbah Painah membenarkan cerita Sabar tersebut. Akhirnya, kata Sabar, kedua orang tuanya daftar haji pada 2012. Setelah menunggu belasan tahun, yang berangkat ke Tanah Suci justru hanya Mbah Painah, sementara Mbah Munasir dinyatakan tidak lulus istitha'ah kesehatan.

"Kiai kampung yang tadinya ngajak malah meninggal. Pak Lik yang ngajak malah sakit sekarang," kata Sabar sambil merangkul bahu Mbah Painah yang duduk di sampingnya.

Naik Haji dari Jualan Daun Pisang

Suasana Masjidil Haram jelang puncak musim haji

Jamaah calon haji dari berbagai negara melakukan Tawaf di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Jumat (30/5/2025). ANTARA FOTO/Andika Wahyu/nym.

Kisah haji Mbah Painah bukan cerita soal kemewahan, tapi kesederhanaan dan kerja keras untuk mewujudkan keinginan menunaikan rukun Islam kelima. Bahkan, ia rela berjalan keliling desa untuk mengantarkan daun pisang dagangannya.

Mbah Painah bekerja tak mengenal tanggal merah, apalagi liburan. Ia mengaku, libur jualan hanya saat hari raya lebaran. Itu pun hanya sehari saja.

"Berjualan terus," kata Mbah Painah sambil tertawa kecil.

Daun-daun pisang yang dijualnya berasal dari sejumlah kebun di wilayah Sambek hingga Mangli, lereng Gunung Sumbing. Sebelum dipasarkan, daun tersebut terlebih dahulu dipilah berdasarkan kualitasnya.

Selain jualan daun pisang, Mbah Painah juga jualan sayuran dari hasil berkebun. "Kalau pagi-pagi sekali jualan sayur, kalau siang jualan daun, daun pisang," kata Mbah Painah menjelaskan.

Sayuran yang dijual bermacam-macam, ada buncis, bayam, dan kacang panjang. "Ya hasil tani," kata Sabar, anak bungsu Mbah Painah yang selalu menemani ibunya di Tanah Suci.

Sementara daun pisangnya, kata Sabar, ada yang dari kebun sendiri, ada yang dipasok dari warga, ada juga yang sistem tebas. "Jadi sistem punya orang, kita beli gitu lho," kata Sabar.

"Kadang kalau hari-hari bagus itu, kan, sampai habis banyak. Sampai, sampai kintalan gitu habisnya," kata Sabar menjelaskan.

Hari bagus yang dimaksud Sabar adalah hari-hari tertentu saat permintaan banyak, seperti menjelang lebaran atau hajatan. Menurut dia, kalau hajatan di Wonosobo biasanya orang membuat makanan dengan bungkus daun pisang, seperti lemper.

"Tapi kalau hari-hari biasa, ya itu paling punya langganan, kayak warung pecel, terus kayak tukang bubur, katering-katering gitu," kata dia.

Daun pun ada kategorinya. Daun yang premium, kata Sabar, harganya bisa mencapai Rp5.000 hingga Rp6.000 per kg, bahkan bisa sampai Rp7.000 per kg. Namun yang kurang bagus, harganya bisa jatuh di kisaran Rp2.000 hingga Rp3.000 per kg.

"Kalau [daun] kurang bagus, nanti dilempar ke [dijadikan bungkus] tempe," kata Sabar.

Lembar demi lembar daun pisang yang selama puluhan tahun dijual Mbah Painah, akhirnya mengantarkannya menunaikan ibadah haji. Ia menyisihkan sedikit demi sedikit untuk menabung naik haji.

"Menabung di PKK," kata Mbah Painah.

Mbah Painah mengaku rutin menabung sudah 18 tahun berjalan. Ia sebulan menyetor ke PKK sebesar Rp200 ribu untuk tabungan murni, sementara Rp2.000 lagi untuk tabungan piknik.

Menurut Mbah Painah, pelunasan setoran murni pakai duit tabungan yang ia kumpulkan selama belasan tahun dari hasil jualan daun pisang, sementara setoran awal memakai duit suaminya.

Mbah Painah Terbiasa Berjalan Kaki

Mbah Painah

Mbah Painah (65), jemaah haji asal Wonosobo, Jawa Tengah, ditemani anak bungsunya, Sabar (35), saat ditemui Tim Media Center Haji di Sektor 8 Kawasan Misfalah, Makkah, Minggu (7/6/2026). Abdul Aziz/Tirto/MCH 2026.

Mbah Painah punya kebiasaan hidup sehat yang menjadi modal dia saat di Tanah Suci. Selama berjualan daun pisang, ia selalu mengantarkan sendiri pesanan ke pelanggan dengan berjalan kaki. Jarak tempuh hingga 2,5 kilometer tidak menjadi kendala baginya.

"Ada yang jauh, ada yang dekat, tidak naik sepeda," kata Mbah Painah dalam bahasa Jawa dengan wajah ceria.

Kebiasaan tersebut membuatnya terbiasa melakukan aktivitas fisik. Saat menjalani ibadah haji, ia mampu mengikuti seluruh rangkaian ibadah tanpa bantuan kursi roda.

Mbah Painah berjalan kaki saat tawaf di area mataf Masjidil Haram, melaksanakan sa'i, hingga mengikuti lempar jumrah selama tiga hari di Mina.

Saat lempar jumrah aqabah dan lempar jumrah pada hari Tasyrik, Mbah Painah tak mau dibadalkan. Ia melakukannya sendiri ditemani anak bungsunya. Mbah Painah setidaknya jalan kaki dari tenda Mina ke Jamarat sejauh minimal 7 km pulang pergi. Artinya, dalam tiga hari di Mina, ia berjalan kaki kurang lebih 21 km.

Cerita kesehatan Mbah Painah tak berhenti di situ. Menurut Sabar, ketika layanan bus shalawat sempat dihentikan menjelang puncak haji, ia tetap memilih berjalan kaki menuju Masjidil Haram dari hotelnya di kawasan Misfalah yang berjarak sekitar 2,5 kilometer.

"Ibu hampir setiap hari ke Masjidil Haram," lanjut Sabar.

Mbah Painah tak pernah absen setiap hari ke Masjidil Haram untuk salat berjemaah. Kadang berangkat dini hari untuk salat subuh, kadang dzuhur, kadang maghrib dan isya.

Ikut Manasik Dua Tahun

ilustrasi manasik

ilustrasi manasik

Cerita Mbah Painah tak hanya soal kesederhanaan, tapi juga kegigihan. Di usianya yang sudah 65 tahun, ia sangat semangat mengikuti semua rangkaian manasik haji sebelum berangkat.

"Dua tahun full, tidak pernah libur," kata Sabar. Mbah Painah yang duduk di sebelahnya hanya tertawa.

Mbah Painah tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Al Mansyur. Jadwal manasik yang Mbah Painah ikuti awalnya hanya sebulan sekali, tapi beberapa bulan sebelum keberangkatan dilaksanakan seminggu sekali.

"Seminggu sekali," kata Mbah Painah.

Semangat Mbah Painah dalam menjalani proses ibadah haji di Tanah Suci serta manasik yang tak pernah absen saat di Tanah Air, mendapat perhatian dari Ketua Kloter YIA 22, Muhasyim.

Muhasyim mengatakan, petugas telah memberikan edukasi kepada jemaah usia lanjut sejak berada di Indonesia. Salah satunya soal opsi badal lempar jumrah selama mabit di Mina.

Akan tetapi, kata Muhasyim, sejumlah lansia di kloternya tidak mau dibadalkan, termasuk Mbah Painah. Mereka rata-rata beralasan ibadah haji hanya sekali sehingga tak mau melewatkan momen tersebut.

"Makanya beliau berusaha melaksanakan lempar jumrah mulai tanggal 10 hingga 12 Dzulhijjah [nafar awal] secara mandiri," kata Muhasyim.

Muhasyim mengatakan, petugas tetap menghormati keputusan jemaah selama kondisi kesehatannya memungkinkan. Ia mencontoh Mbah Painah yang bahkan tidak batuk saat jemaah lain yang masih muda pada batuk pilek semua.

"Kalau jemaah lansia merasa sehat dan mampu, kami tidak bisa melarang. Yang penting kami terus mengedukasi dan mendampingi," kata Muhasyim.

Baca juga artikel terkait HAJI 2026 atau tulisan lainnya dari Abdul Aziz

tirto.id - News Plus
Reporter: Abdul Aziz
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Siti Fatimah