Hari Raya Idulfitri 2022

Semarak Merayakan Lebaran di Tengah Keluarga Beda Agama

Reporter: Alfian Putra Abdi - 2 Mei 2022 04:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Meskipun Irene beragama Katolik, Fadel tak pernah merasa momentum lebarannya berkurang. Fadel tetap bisa merayakan Idulfitri dengan khidmat.
tirto.id - Mei 2021. Beberapa hari menjelang hari raya Idulfitri 1442 H. Irene (30) memberikan kejutan untuk sang suami, Fadel (30), ragam jenis kue kering: kastengel dan nastar. Ia beli dari kerabat terpercaya, seorang teman yang andal mengolah tepung menjadi apa pun.

Irene belum mahir membuat kue kering. Tapi ia mau menghadirkan semarak lebaran di rumah mereka.

“Meskipun nggak bisa gantiin rasa kue buatan mertua. Gua mau dia [Fadel] nggak terlalu kecewa saat lebaran,” ujar Irene. Ia menceritakan ulang kisah itu kepada saya, Jumat (22/4/2022).

Semenjak pandemi bergulir, Irene dan Fadel tidak pernah merayakan lebaran bersama keluarga besar. Mereka baru menikah lima bulan sebelum kemunculan kasus Covid-19 pertama di Indonesia. Irene benar-benar ingin merasakan lebaran sesungguhnya: kumpul keluarga besar, menyantap ketupat, bersalam-salaman, dll.

“Gua cuma bisa membayangkan saja. Mungkin saja, mungkin, ya, sama kayak saat gua merayakan natal,” ujar Irene. “Meriah tapi intim.”

Irene dan Fadel berbeda keyakinan. Irene seorang Katolik dan Fadel seorang muslim.

Meskipun Irene beragama Katolik, Fadel tak pernah merasa momentum lebarannya berkurang. Fadel tetap bisa merayakan hari raya dengan khidmat.

“Biasanya setelah gua pulang salat ied. Kita makan bareng. Telponan sama orang tua gua. Siangan, karaokean sampai bosen,” ujar Fadel sembari terkekeh.

Mereka mendaku senang berkaraoke. Saat pandemi dan tak bisa ke mana-mana, berkaraoke menjadi terapi melepas stres dan penat. Bahkan dalam situasi khusus, semisal perayaan keagamaan, karaoke menjadi pelebur batas antara mereka.

“Irene suka lagu-lagunya Opick,” ujar Fadel.

“Judulnya apa, ya, yang waktu itu?” tanya Irene.

“Rapuh.”

“Nah, itu lagu ballads terbaik, kukira.”

Fadel mendaku Irene sampai mengulang Rapuh milik Opick berkali-kali (saking banyaknya Fadel ragu menyebut angka) saat lebaran tahun lalu. Tentu setelah itu mereka sama-sama larut dalam musik favorit bersama: Give Peace a Chance milik John Lennon.

Berkaraoke bagi Irene menjadi sarana larut dalam suka cita dalam hari raya keyakinan sang suami.

“Secara spiritual, gua nggak dapat feels-nya. Karena, mungkin, gua tidak ada di ritual yang sama. Karaoke, tuh, jadi cara gua untuk merasakan kebahagian saat lebaran bareng suami,” ujar Irene.

“Sama juga ketika natal. Secara kerohanian, gua nggak dapet tuh feels. Tapi secara emosi berbeda, gua juga ikutan senang,” timpal Fadel.

Tetiba Irene menceletuk, “Fadel suka Mariah Carey. Natal tahun lalu dia nyanyi itu mulu. Bosan gua,” kata Irene sambal ketawa.

“Lagu itu, kan, mood banget, ya, kan? Beat-nya enerjik. Enak buat dansa,” ujar Fadel. Lagu Mariah yang ia maksud ialah cover song, Sleigh Ride.

“Orang, mah, All I Want for Christmas, itu kan hitsnya dia,” timpal Irene.

“Itu juga enak. Tapi aku lagi suka lagu dia yang ini. Gimana dong?” tandas Fadel. Dalam beberapa menit setelahnya mereka masih sempat berdebat soal dua lagu diva pop Amerika Serikat itu.



April 2022. Beberapa hari menjelang Idulfitri 1443 H. Fadel berencana mudik ke rumah orang tuanya di Bogor. Irene sudah antusias sejak tahu rencana itu. Irene ingin belajar membuat kue kering, langsung dari ibu mertuanya.

“Mertua gua jago banget bikin kastengel dan nastar,” ujar Irene.

“Itu [kue-kue kering buatan ibu],” kata Fadel. “Kalau dijual, harganya mahal banget. Saking enaknya.”

Sebagai pasangan dengan latar belakang agama berbeda. Mereka tak pernah merasa punya hambatan berinteraksi dalam keluarga besar. Fadel menduga, karena keluarga besarnya sudah tidak tabu dengan pernikahan beda agama. Salah satu anggota keluarga ibu Fadel menjalani kehidupan rumah tangga seperti dirinya.

“Gua cuma ingat, pesan nyokap dan bokap sebelum gua nikah, ‘apa pun yang terjadi, harus jadi orang bertanggung jawab’,” ujar Fadel.

Kondisi serupa juga terjadi pada Irene. Ia menggambarkan keluarganya sangat menghormati kemajemukan. Termasuk dalam konteks beragama. Irene memang anggota keluarga pertama yang menikah berbeda agama. Tapi sebelumnya, ia memiliki saudara yang berpindah agama menjelang pernikahan.

“Orang tua gua, sih, enggak pernah pesan apa-apa saat gua mau nikah. Kayaknya mereka sepenuhnya percaya pada gua,” ujar Irene.

Fadel dan Irene sama-sama meyakini satu hal: perbedaan tetap perbedaan dan tidak bisa dipaksa menjadi sama.

“Gua dan Irene cuma berupaya mengharmoniskan perbedaan kita. Dengan tidak mempersoalkan yang beda. Tapi banyak melakukan yang sama-sama kita suka, kayak karaokean itu,” ujar Fadel.


Lebaran Keluarga Gado-Gado

Momentum lebaran Tiara Alya (22) selalu dirayakan dengan para anggota keluarga yang beragama majemuk. Ia dan keluarga inti memulai hari lebaran dengan berkumpul di rumah salah satu anggota famili, yang juga merayakan hari raya Idulfitri. Keluarga lain, yang beragama Kristen, Budha, dan Konghucu, akan ikut membersamai mereka. Alya menyebutnya sebagai keluarga “gado-gado”, merujuk kuliner khas Betawi yang berisi ragam sayur-sayuran dan diguyur bumbu kacang.

“Karena aku dari kecil tumbuh dari keluarga yang beraneka ragam. Saat aku besar, sudah biasa melihat semua perbedaan di lingkungan masyarakat,” ujar Alya kepada saya, Senin (25/4/2022).

Perbedaan keyakinan antara mereka melebur hangat dalam perbincangan, kudapan, saling bermaaf-maafan, dan tidak ketinggalan: berbagi uang “tunjangan hari raya”—hal yang Alya paling nantikan.

Alya terlahir dari pasangan suami istri muslim. Ayah Alya berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Alya menggambarkan sosok ayahnya sebagai muslim taat. “Keluarga ayah dan kakek termasuk kiai kalau di kampung.”

Ibu Alya berasal dari Singkawang, Kalimantan Barat. Menurut Alya, kehidupan berkeyakinan ibunya lebih majemuk. Nenek Alya beragama Konghucu namun ketika ajal menjemput, persemayamannya secara Kristen. Ibu Alya juga memiliki saudara tiri beragama Kristen.

“Mamaku selain tinggal bareng sama ayah dari ibunya yang berbeda agama. Dia pernah beberapa tahun tinggal di tantenya, yang semuanya Kristen, Konghucu,” ujar Alya.



Pengalaman hidup sang ibu membentuk perspektif keberagaman Alya. Ia mengamini konsep bertoleransi dalam level tertentu; Ia tak punya permasalahan tentang pilihan berkeyakinan anggota keluarga yang lain; tentang bagaimana mereka menjalani ritual ibadah masing-masing.

“Yang aku pelajari dari keluarga besarku: toleransi itu, kita melakukan ibadah masing-masing; saling menghargai, saling silaturahmi, dan tidak membeda-bedakan,” ujarnya.

Namun, relasi keberagaman ini, tak selamanya mulus. Pernah mereka juga berdebat soal muatan ceramah dari pemuka agama tertentu dan menyinggung agama lainnya. Pernah juga momentum Pilpres 2019 mencuri celah dalam kehangatan mereka. Tapi mereka lebih tangguh dari semua potensi perpecahan tersebut. Mereka tetap akur sebagai keluarga.

“Setiap ada hal-hal kecil yang bisa menimbulkan perdebatan, kita enggak terlalu sering ungkit. Sebisa mungkin mengantisipasi dari awal,” ujar Alya.

Tumbuh dari keluarga beragama majemuk, memberikan kesempatan Alya belajar banyak soal keberagaman dan toleransi. Ketika Imlek tiba, Alya dan keluarga inti turut membersamai keluarga yang merayakan. Biasanya, selalu tersaji dua jenis makanan saat imlek, yang halal dan non-halal.

Secara kerohanian Alya bisa saja tidak terikat emosional dengan Imlek. Tapi momentum Imlek selalu seru baginya, seperti ia merayakan Lebaran. Pola aktivitasnya pun tak jauh berbeda dari perayaan Lebaran. Alya bangga bisa merasakan dua hari raya keagamaan dalam sekali tahun.

“Hal menyenangkan, yang kecil dan nggak semua keluarga rasakan: dapat THR dalam setahun dua kali,” ujar Alya terkekeh.


Baca juga artikel terkait LEBARAN 2022 atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Abdul Aziz

DarkLight