Pemilu Serentak 2024

Prabowo dalam Survei Capres 2024: Populer, tapi Kurang Disukai

Reporter: Andrian Pratama Taher - 11 Apr 2022 03:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Wasisto menilai fenomena Prabowo disebut sebagai ‘spoiler candidate.’ Elektabilitasnya belum tinggi, tapi popularitasnya memiliki dampak signifikan.
tirto.id - Prabowo Subianto masih masuk dalam tiga besar kandidat kuat calon presiden pada Pilpres 2024. Dalam sejumlah hasil survei, nama Prabowo bersanding dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan.

Terbaru, lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil riset mereka berdasarkan survei terhadap 1.027 responden periode 13-20 Maret 2022. Dalam survei ini, Prabowo menempati posisi kedua. Ia berada di bawah Ganjar dengan keterpilihan terpaut 0,5 persen, yakni Ganjar 18,1 persen, sementara Prabowo 17, 6 persen. Anies membayangi dengan skor 14,4 persen.

Catatan terbaru khusus Prabowo, elektabilitasnya mengalami fluktuasi. Pada survei sebelumnya, angka keterpilihan Prabowo berada di posisi 19,7 persen atau di atas Ganjar Pranowo 0,5 persen.

Temuan menarik lain dari survei SMRC ini adalah Prabowo kurang disukai pemilih. Data SMRC menunjukkan, sekitar 97 persen publik Indonesia sudah mengenal atau tahu Prabowo. Sementara yang mengenal Anies sebanyak 87 persen, Sandiaga Uno (81 persen), dan Ganjar (69 persen).

Akan tetapi, Menteri Pertahanan Kabinet Indonesia Maju ini hanya disukai 73 persen dari orang yang mengenalnya. Hal serupa terjadi pada Anies Baswedan, dikenal 87 persen, tapi yang suka dari yang kenal hanya 75 persen. Sementara Sandiaga cenderung dikenal luas publik (81 persen) dan 84 persen yang mengenalnya menyatakan suka.

“Kuantitas dan kualitas popularitas masing-masing tokoh berimplikasi terhadap elektabilitas mereka,” kata Direktur Eksekutif SMRC, Sirojudin Abbas dalam temuan survei nasional SMRC bertajuk ‘Prospek Capres 2024’ yang disiarkan melalui kanal YouTube SMRC TV, Kamis (7/4/2022).


Populer tapi Belum Punya Kesempatan

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Raharjo Jati mengakui situasi Prabowo hampir mirip dengan hasil riset SMRC saat ini. Ia menyebut, fenomena Prabowo sebagai tanda bahwa Prabowo masih punya pengaruh, tetapi belum punya kesempatan.

“Dalam ilmu politik, fenomena Prabowo itu disebut sebagai ‘spoiler candidate’ di mana kandidat tersebut memiliki kans elektabilitas yang belum tinggi, namun kandidasinya maupun popularitasnya tersebut memiliki dampak signifikan terhadap hasil pemilu. Hal ini terjadi karena spoiler candidate ini masih punya pengaruh politik terutama lewat partainya,” kata Wasisto kepada Tirto.

Wasisto mengatakan, kondisi Prabowo adalah hal yang wajar dalam politik. Hal ini juga terjadi ketika Bernie Sanders yang maju sebagai kandidat capres dari Partai Demokrat di Amerika Serikat, namun ujungnya malah menjadi “endorser” bagi Hillary Clinton maupun Biden sebagai capres definitif di Pilpres AS 2016 dan 2020.

Oleh karena itu, Wasisto menilai, Prabowo tidak menutup kemungkinan Sandiaga Uno yang justru maju di akhir momentum dari Partai Gerindra. “Bisa jadi skenarionya adalah PS berujung menjadi endorser bagi SU dalam pilpres mendatang," kata Wasisto.

Wasisto mengatakan, Gerindra kini bisa menghadapi dilema karena belum memiliki non-winning candidate yang menjadi endorser kandidat pemenang karena Prabowo maupun Sandiaga belum mendeklarasikan diri sebagai calon presiden secara definitif. Hal itu membuat Gerindra juga pada posisi sulit.

Ia pun mengingatkan situasi ini bisa membawa risiko besar bagi Partai Gerindra. Pertama, ada potensi faksionalisasi kader karena suara kader dan pemilih terbelah antara kedua figur tersebut. Kedua adalah potensi tidak adanya posisi winning candidate definitif yang siap diusung oleh partai sehingga malah membuat kans eleketabillitas kedua figur itu menjadi stagnan. Oleh karena itu, Wasisto menyarankan agar ada kejelasan siapa yang maju dan siapa yang didukung dalam Pilpres 2024.

“Saya pikir ada baiknya hanya ada satu figur baik itu SU atau PS yang selalu muncul dalam bursa survei dan pilihan definitif partai. Sehingga ada satu figur yang menjadi non-winning candidate yang ‘endorse’ winning candidate tersebut," kata Wasisto.


Gerindra Ogah Pikirkan Soal Hasil Survei

Sekjen DPP Partai Gerindra, Ahmad Muzzani belum merespons soal kemungkinan partai berlambang burung garuda itu mengusung kandidat selain Prabowo. Namun, dalam keterangan pers yang diterima wartawan, Jumat (8/4/2022), Muzani minta kepada kader dalam acara konsolidasi partai se-Solo Raya untuk tetap bergerak mendukung Prabowo.

“Kita harus terus bersama rakyat, agar rakyat cinta kepada kita. Karena itu setiap masalah yang dihadapi rakyat, kita harus hadir di kala suka maupun duka. Ini adalah cara gerakan kita,” kata Muzani di Hotel Lor In, Solo, Jawa Tengah, Kamis (7/4/2022).

Muzani menambahkan, “Gerakan politik rakyat karena kita besar dari rakyat dan kita akan terus berjuang bersama rakyat. Sebab kita ingin memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara dengan menjadikan Prabowo presiden dan Gerindra menang.”

Muzani meminta para kader tidak ragu soal rencana Prabowo maju pada Pilpres 2024. Ia sebut, langkah Prabowo sebagai menteri pertahanan adalah untuk kebaikan bangsa. Ia pun menyinggung bahwa Prabowo lebih mementingkan tugas dan fungsi sebagai menteri daripada berpikir gimmick politik yang tujuannya hanya untuk elektoral semata, apalagi demi kepentingan survei-survei politik. Ia berdalih, Prabowo memahami kepentingan negara lebih utama mengingat geopolitik dunia saat dalam ketidakpastian akibat perang Rusia-Ukraina.

“Yang dikerjakan Pak Prabowo sebagai menhan adalah untuk menguatkan basis pertahanan Indonesia. Dunia dalam ancaman perang, Ukrani perang dengan Rusia. Fenomena ini menyebabkan banyak negara-negara di dunia merasa ada ancaman yang sama, bahwa kapan pun negara kita bisa dalam ancaman,” ujar Muzani.

“Maka posisi menhan dalam menjaga pertahanan negara kita menjadi sangat penting. Itu sebabnya Pak Prabowo menyadari bahwa kepentingan negara lebih penting daripada elektoral pribadinya. Pak Prabowo lebih mementingkan penguatan pertahanan Indonesia dibandingkan meningkatkan survei-survei,” kata Muzani yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI.

Muzani menegaskan, Prabowo lebih mengedepankan esensi dalam bersikap daripada kegiatan-kegiatan seremonial. Oleh karena itu, Prabowo kerap bertemu dengan negara-negara lain dan melakukan diplomasi politik.

“Itu sebabnya Pak Prabowo lebih memilih subtansi daripada sekadar seremoni. Beliau lebih memilih untuk melakukan diplomasi pertahanan dengan banyak negara dunia untuk penguatan pertahanan dan kekuatan militer kita," ungkap Muzani.

Menurut Muzani, Prabowo juga berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan-pembangunan yang sudah dilakukan Presiden Jokowi. Mulai dari jalan tol, waduk, bendungan, pelabuhan, bandara, dan sentra-sentra industri. Menurutnya, itu semua adalah sumber-sumber kemakmuran yang bisa menjadi kekuatan ekonomi Indonesia pada masa depan.

“Pak Prabowo berkomitmen untuk menjadikan semua yang dibangun oleh Pak Jokowi sebagai sumber-sumber kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Dan ini hanya mungkin dilakukan oleh seseorang yang mengerti tentang masalah ini,” kata Muzani.


Baca juga artikel terkait PILPRES 2024 atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz

DarkLight