tirto.id - Helikopter raksasa CH-47 Chinook dari Jepang akan menjadi tambahan kekuatan dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Armada tersebut akan dikerahkan untuk menjalankan operasi water bombing yang direncanakan selama 21 hari ke depan.
Selain pemadaman, helikopter itu juga memiliki kemampuan mengangkut logistik ke lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Dari spesifikasinya, CH-47 Chinook dirancang untuk aplikasi militer yang memiliki banyak kemampuan dan keunggulan. Melansir blog Av Geek (23/10/2025), CH-47 Chinook merupakan helikopter berukuran besar dengan tinggi mencapai 18 kaki 11 inci atau sekitar 5 meter. Bentang dari ujung rotor depan hingga rotor belakang mencapai 98 kaki 10 inci atau sekitar 29 meter, sedangkan panjang badan helikopter sekitar 51 kaki atau 15 meter.
Helikopter ini menggunakan dua mesin Honeywell T.55 dengan berat kotor mencapai 54.000 pon atau hampir 24,5 ton.
Meski memiliki ukuran dan bobot yang besar, CH-47 Chinook dikenal memiliki kecepatan tinggi dan mampu terbang hingga ketinggian lebih dari 20.000 kaki.
Dalam operasi pemadaman karhutla, CH-47 Chinook dapat membawa ember air berukuran besar yang digantung pada kait kargo menggunakan tali sepanjang sekitar 30–40 meter. Ember tersebut dilengkapi pompa dan katup yang memungkinkan air diisi dan dijatuhkan secara terukur ke titik kebakaran.
Sistem GPS juga membantu mencatat lokasi, ketinggian, kecepatan, serta jumlah air yang dijatuhkan, sehingga operasi pemadaman dapat dipantau dan dievaluasi.
Dengan kemampuan angkut hingga sekitar 11,8 ton pada kondisi tertentu, Chinook memiliki kapasitas besar untuk membawa muatan eksternal. Namun, kapasitas tersebut dapat berkurang ketika helikopter beroperasi di wilayah dengan suhu dan ketinggian yang lebih tinggi.
Efektif, Tak Bisa Bekerja Sendiri
Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB University sekaligus ilmuwan senior Center for International Forestry Research (CIFOR), Herry Purnomo, melihat kehadiran tiga helikopter Chinook dari Jepang patut diapresiasi sebagai bentuk bantuan dari negara sahabat sekaligus penguatan respons darurat menghadapi karhutla.
Mekanisme water bombing dinilainya cukup efektif untuk menurunkan intensitas api secara cepat, terutama di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Operasi ini juga dapat membantu melindungi permukiman dan infrastruktur vital sekaligus memberi waktu bagi tim darat untuk melakukan pemadaman lanjutan.
Meski demikian, efektivitasnya sangat dipengaruhi jarak sumber air, kondisi cuaca dan angin, akses menuju lokasi kebakaran, serta koordinasi dengan tim darat. Apalagi, hanya tiga Chinook yang dikerahkan untuk menghadapi kebakaran dengan cakupan wilayah yang luas.
“Jadi, water bombing bukan solusi tunggal, melainkan bagian dari operasi terpadu. Namun demikian dengan hanya 3 helikopter Chinook dan luasnya kebakaran, maka ini tidak akan cukup,” kata Herry kepada Tirto, Jumat (11/9/2026).
Keterbatasan tersebut semakin terlihat ketika kebakaran terjadi di lahan gambut, dimana apinya membara di bawah tanah atau di dalam lapisan organik gambut. Kata Herry, air yang dijatuhkan dari udara fungsinya menekan api di permukaan dan membasahi vegetasi di sekitarnya, tetapi belum tentu mampu menjangkau sumber bara di dalam lapisan gambut.
Oleh karena itu, water bombing perlu segera diikuti pemadaman dari darat seperti melalui penyekatan area, pembasahan secara intensif, penyedotan atau injeksi air ke titik panas, serta menaikkan dan mempertahankan muka air gambut melalui sekat kanal dan pembasahan kembali (rewetting).

Tak jauh berbeda, Geolog UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, juga menilai pengerahan helikopter ini memang menjadi tepat sebagai dukungan darurat untuk memperlambat laju kebakaran. Tetapi lagi-lagi, tak bisa dijadikan satu-satunya strategi penanganan di Kalimantan.
“Jadi sekali lagi sebenarnya model pemadaman ini pilihan terakhir. Sebenarnya investasi itu bisa dilakukan lewat pencegahan, mitigasi,” kata Eko dihubungi Tirto, Jumat (11/9/2026).
Tidak ada frekuensi atau jumlah pasti water bombing yang dapat dijadikan patokan untuk menyatakan suatu titik kebakaran telah padam. Kebutuhan pemadaman bergantung pada ketebalan gambut sebagai bahan bakar, ketebalan vegetasi, kecepatan angin, serta jumlah titik kebakaran.
Eko menyebut kondisi tersebut menjadi semakin sulit pada lahan gambut, karena penyiraman dari udara lebih banyak membasahi permukaan.
“Penyiraman dari atas lebih pada permukaan dan kalau bawahnya panas, suhunya tinggi itu juga menguap,” kata Eko.
Kata Herry, keberhasilan water bombing tidak dapat hanya dilihat dari banyaknya air yang dijatuhkan atau jumlah sortie penerbangan. Ukuran yang lebih penting adalah api di permukaan harus benar-benar tidak terlihat, tidak ada lagi asap maupun titik panas yang bertahan, suhu tanah menurun, dan perimeter kebakaran tidak terus meluas.
“Pada gambut, indikator kunci lainnya adalah apakah area telah cukup basah dan muka air tanah dapat dipertahankan pada tingkat aman untuk mencegah pembakaran ulang,” kata dia.
Bagaimana Agar Pemadaman Karhutla Efektif?
Pemerintah perlu menempatkan tiga Chinook sebagai bagian dari strategi pemadaman terpadu antara operasi udara dan darat, bukan sebagai kekuatan yang bekerja sendiri. Kata Herry sasaran water bombing perlu ditentukan berdasarkan data titik panas, arah angin, kedekatan dengan permukiman, serta potensi meluasnya kebakaran.
Operasi udara kemudian harus terhubung langsung dengan tim di darat. BNPB, KLH/Kehutanan, TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, pemerintah daerah, pemegang konsesi, dan masyarakat perlu bekerja dalam satu koordinasi agar setiap lokasi yang telah diguyur dari udara dapat segera ditindaklanjuti melalui mop-up dan pemadaman hingga tuntas.
“Lebih mendasar lagi, pencegahan harus diperkuat melalui pembasahan gambut, pengawasan pembukaan lahan, penegakan hukum terhadap pembakaran, dan dukungan mata pencaharian tanpa bakar bagi masyarakat” tutur Herry.
Pada lahan gambut, tim darat dapat melanjutkan penanganan melalui penyuntikan air ke dalam gambut dan pembuatan sekat bakar. Menurut Eko, sumber air perlu tersedia sedekat mungkin dengan lokasi kebakaran agar siklus pengisian dan penyiraman dapat berlangsung lebih cepat.
Jeda yang terlalu panjang justru memberi kesempatan bagi api untuk kembali muncul.
Penanganan karhutla seharusnya juga perlu mengarahkan investasi pada pencegahan, termasuk restorasi dan pembasahan kembali gambut (rewetting) serta pengelolaan gambut berbasis masyarakat. Hal tersebut dinilai Eko penting untuk mengurangi risiko kebakaran sekaligus menekan tingginya biaya operasi darurat dan pemulihan.
Pemerintah tidak boleh terjebak dalam siklus pemadaman setiap kali kebakaran terjadi. Menurut Eko, investasi pada mitigasi dan pencegahan lebih penting daripada terus mengeluarkan biaya besar untuk menangani kebakaran setelah terjadi.
“Operasi biaya tinggi itu bisa dikurangi. Ini sama juga dengan di bencana yang lain. Pemulihan, penanganan darurat, pemulihan tuh sangat boros, gitu. Dan boleh jadi akan rawan dikorupsi karena kan ada kemudahan-kemudahan akses dibanding upaya pencegahan dan mitigasi,” tutur Eko.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id
































