tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Indonesia telah menjadikan Nusantara sebagai negara dengan emisi karbon dioksida tertinggi di dunia. Hal itu didasarkan pada data Fire Emission Watch periode sepekan lalu.
Melansir SCMP, data Fire Emission Watch untuk periode 1-7 September lalu menempatkan Indonesia sebagai peringkat pertama penghasil emisi karbon dioksida di dunia. Selama sepekan itu, tingkat emisi CO2 Indonesia meroket hingga 19,7 juta metrik ton atau sepertiga dari total emisi serupa di dunia.
Fire Emission Watch, sebuah portal yang dikembangkan oleh layanan pemantauan iklim Copernicus Uni Eropa, merilis data tersebut pada Rabu (9/9/2026). Tingkat emisi yang meroket itu disinyalir terjadi sebagai dampak kabut asap karhutla yang melanda Pulau Kalimantan dan Sumatra.
Sementara itu, data Copernicus pada Rabu menyebutkan intensitas emisi kebakaran di Indonesia telah melebihi 1.500 kg/km persegi. Konsentrasi tertinggi dari emisi terjadi di Kalimantan dan bagian timur Sumatra.
Tingkat emisi ini setara 273 persen lebih tinggi dari rerata musiman. Meskipun, masih berada di bawah rekor 21,7 juta ton pada 2015 lalu, ketika Indonesia juga tengah dilanda El Nino seperti sekarang.
Mark Parrington, ilmuwan di Copernicus Atmospheric Monitoring Service, menjelaskan bahwa Fire Emission Watch melakukan pemantauan berdasarkan perkiraan konsentrasi partikel, senyawa organik yang mudah menguap, gas rumah kaca, dan polutan lain yang diakibatkan kebakaran. Namun, Parrington menyebut metode itu tak sepenuhnya akurat.
“Salah satu aspek dari kebakaran lahan gambut adalah jika terjadi pada suhu rendah atau di bawah tanah, maka kebakaran berada di bawah batas deteksi sensor, yang berarti kita tidak benar-benar melihatnya,” katanya, menjelaskan potensi bahwa situasi yang terjadi sebenarnya mungkin lebih buruk.
Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dilaporkan telah merespons data yang Fire Emission Watch. Kepada Reuters, KLH menyatakan bahwa mereka prihatin dengan situasi yang terjadi.
Akan tetapi, KLH menyebut data yang dirilis Copernicus tersebut “tidak secara langsung mencerminkan kondisi kualitas udara di wilayah tertentu”. KLH juga menyatakan ada faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan untuk melihat data tersebut.
Hingga kini, Indonesia masih terus dilanda karhutla yang meningkat sejak Juli dan Agustus lalu. Menurut laman pemantauan Sipongi, dalam periode 1 Agustus hingga 8 September, jumlah titik karhutla yang tercipta di Indonesia mencapai 13.443 titik.
Kebakaran hutan yang kini melanda Indonesia merupakan yang paling besar dalam 11 tahun terakhir. Kondisi cuaca “super-El Nino” merupakan salah satu faktor pemicu hal itu karena telah menyebabkan periode kekeringan dan peningkatan suhu udara.
Karhutla yang tengah melanda juga telah menyebabkan kabut asap yang meluas hingga ke negara lain. Malaysia merupakan salah satu negara yang paling terdampak kabut asap selain, tentu saja, Indonesia.
Kabut asap tersebut menyebabkan penghentian aktivitas pendidikan secara langsung di sejumlah sekolah di Kalimantan dan Sumatra.
Sejumlah dinas pendidikan memilih untuk meliburkan pembelajaran atau memberlakukan pembelajaran jarak jauh imbas kabut asap yang makin pekat. Salah satu yang terbaru, Dinas Pendidikan Kota Sawahlunto di Sumatera Barat memutuskan untuk meliburkan sekolah tingkat dasar dan SLB pada Selasa (8/9) hingga Jumat (11/9).
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































