tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan bocoran tentang durasi operasi serangan militer AS ke Iran. Menurutnya, operasi militer ini sejak awal direncanakan untuk beberapa minggu.
Menukil Al Jazeera, Tump menyebut bahwa AS memproyeksikan perang melawan Iran akan berlangsung "empat hingga lima minggu". Namun, Trump juga menyebutkan bahwa militer AS punya "kemampuan untuk bertahan lebih jauh".
Pernyataan itu disampaikan Trump pada Senin (2/3/2026). Dalam kesempatan tersebut, Trump masih terus menyatakan senjata nuklir sebagai legitimasi serangan ke negara di Teluk Persia itu.
"Sponsor teror nomor satu di dunia tidak akan pernah dapat memperoleh senjata nuklir," kata Trump, dikutip dari NHK.
Trump juga lebih menekankan posisi Iran sebagai potensi ancaman bagi AS. Hal ini ia jelaskan dengan menyebut bahwa Iran telah mengembangkan rudal balistik untuk melindungi senjata nuklir yang sedang mereka buat.
"Tujuan dari program rudal yang berkembang pesat ini adalah untuk melindungi pengembangan senjata nuklir mereka dan membuatnya sangat sulit bagi siapa pun untuk menghentikan mereka," katanya.
"Negara kita sendiri [AS] akan berada di bawah ancaman, dan hampir saja berada di bawah ancaman," ujar Trump menambahkan.
Akan tetapi, dalam hukum domestik AS dan hukum internasional, serangan terhadap negara asing dianggap sah jika itu adalah respons terhadap ancaman langsung.
Konstitusi AS juga menyebut bahwa Kongres adalah lembaga yang dapat menyatakan perang, sedangkan presiden di sana bisa berbuat sepihak hanya jika ada ancaman langsung yang bersifat mendesak.
Trump juga menyatakan dalam penuturannya bahwa akan ada lebih banyak personel militer AS yang mati di Timur Tengah. Pernyataan ini dikeluarkan Trump setelah Pentagon sebelumnya mengonfirmasi kematian tiga personel militer mereka di kawasan itu.
Sementara itu, kepala Pentagon Pete Hegseth juga memberikan keterangan pada Senin. Meski tak menjelaskan durasi spesifik, namun Hegseth menekankan bahwa operasi ini akan berakhir.
"Ini bukan Irak. Ini bukan perang tanpa akhir," kata Hegseth.
Banyak pihak menilai pernyataan Hegseth merupakan pernyataan untuk basis pendukung Trump di AS, yakni kelompok Make America Great Again (MAGA).
Kelompok ini dilaporkan mulai menunjukkan kekhawatiran bahwa keputusan Trump menyerang Iran akan menjerumuskan AS dalam perang tak berkesudahan.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































