Menuju konten utama

Saksi Ungkap Ibrahim Arif Sempat Ditawari Jadi CTO Amartha

Amartha menyodorkan gaji kotor (gross) bulanan yang berkisar antara Rp280 juta hingga hampir Rp300 juta kepada Ibrahim Arif.

Saksi Ungkap Ibrahim Arif Sempat Ditawari Jadi CTO Amartha
Dua saksi dari tim teknologi bentukan Kemendikbudristek, Andi Taufan Garuda Putra dan Rafino Aulia yang tergabung dalam tim Wartek (GovTech) di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026). tirto.id/ M. Irfan Al Amin

tirto.id - Pendiri sekaligus CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, membeberkan rincian paket kompensasi fantastis yang ia tawarkan untuk memboyong Ibrahim Arif (Ibam) ke perusahaannya sebagai Chief Technology Officer (CTO).

Dalam kesaksiannya di persidangan, Andi mengungkapkan bahwa paket tersebut mencakup gaji bulanan ratusan juta rupiah serta kepemilikan saham senilai jutaan dolar Amerika Serikat sebagai upaya menggaet talenta kunci yang ia anggap mampu membawa visi Amartha menjadi entitas yang lebih besar.

"Oke, singkat pada satu kesimpulan, akhirnya Anda cocoklah dengan Ibam. Ada enggak penawaran, offering yang Anda berikan terhadap Ibam terkait posisi CTO, Chief Technology Officer di perusahaan Amartha ini?" tanya penasihat hukum, Ibrahim Arif di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).

"Ya kami sampai diskusi, saya menawarkan penawaran untuk join ke Amartha dengan package lah, dengan kompensasinya seperti apa, gajinya berapa, take home pay yang dia terima. Kemudian juga kalau di startup kan ada ESOP atau Employee Stock Option, ekuitas yang di-share dari perusahaan untuk key talents di perusahaan atau key leaders. Nah itu juga saya tawarkan ke Ibam," jawab Taufan.

Andi menjelaskan penawaran yang diberikan kepada Ibrahim Arif didasarkan pada rekam jejak dan skala pendapatan sang ahli teknologi di tempat kerja sebelumnya, yakni Bukalapak.

Menurut Andi, ia melakukan tolok ukur guna menyusun angka yang kompetitif. Dalam proses negosiasi, Amartha menyodorkan gaji kotor (gross) bulanan yang berkisar antara Rp280 juta hingga hampir Rp300 juta. Setelah dikalkulasikan dengan potongan pajak, pendapatan bersih atau take home pay yang diterima Ibrahim Arif mencapai sekitar Rp200 juta setiap bulannya.

"Oke sekarang saya tanya satu-satu ya, jadi nanti coba tolong di-breakdown penawaran-penawaran atau offering-offering apa yang pada saat itu Amartha coba deliver ke saudara Ibam ya. Mungkin dari gaji dulu, monthly before tax itu berapa yang coba Anda tawarkan pada saat itu?" tanya penasihat hukum.

"Yang pasti saya, kan, benchmark-nya gaji sebelumnya berapa, jadi gaji di Bukalapak waktu itu berapa, kemudian sekarang gajinya berapa. Kemudian ngobrol-ngobrol sama Ibam, gaji before tax mungkin 280 jutaan sebulan, hampir 300 juta sebulan," jawab Taufan.

Selain kompensasi tunai, Andi Taufan juga menawarkan skema Employee Stock Option Plan (ESOP) atau ekuitas perusahaan yang umumnya diperuntukkan bagi pemimpin kunci. Ia menyebut telah memberikan penawaran saham sebesar 2,5 persen di Amartha kepada Ibrahim. Pada periode penawaran tahun 2022, nilai porsi saham tersebut ditaksir mencapai USD5 juta atau setara dengan Rp78,5 miliar (asumsi kurs Rp15.700).

Namun, kepemilikan saham tersebut tidak bersifat instan melainkan terikat pada mekanisme vesting period selama empat tahun. Andi menjelaskan bahwa saham tersebut harus "ditebus" dengan masa kerja, di mana kepemilikannya dibagi sebesar 25 persen per tahun. Skema ini, menurutnya, standar industri startup, namun tetap membawa risiko fluktuasi nilai pasar. Andi merujuk pada pengalaman Ibrahim di Bukalapak, di mana Ibrahim juga diketahui memiliki saham pendiri, namun nilai asetnya tersebut terdampak ketika harga saham perusahaan turun saat masa hold atau lock-up berakhir.

"Standarnya kita 4 tahun. 4 tahun istilahnya vesting period atau dia harus bekerja dulu 4 tahun dan dalam 4 tahun dibagi 25% per tahunnya. Jadi 1,25 juta dolar, 1,25, 1,25 selama 4 tahun," ungkap Taufan.

Bagi Andi Taufan, besarnya nilai penawaran yang terdiri dari gaji bersih ratusan juta dan saham senilai jutaan dolar tersebut adalah bentuk apresiasi terhadap reputasi Ibrahim Arif yang dipandang sebagai salah satu figur papan atas dalam ekosistem teknologi di Indonesia. Penawaran tersebut disusun sebagai satu paket utuh guna memastikan komitmen sang talenta untuk bergabung memperkuat infrastruktur teknologi Amartha.

"Penawaran ini udah cukup besar sih. Jadi ya paketnya itu dulu, moga kalau secara ini dia komit udah agree," terang Taufan.

Baca juga artikel terkait KORUPSI LAPTOP CHROMEBOOK atau tulisan lainnya dari Irfan Amin

tirto.id - Flash News
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama