tirto.id - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali mencatatkan pelemahan harga saham pada perdagangan Selasa (27/1/2026). Saham emiten perbankan tersebut ditutup melemah 1,96 persen atau 150 poin ke level Rp7.500 per saham.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menjelaskan volatilitas harga saham bank kerap dipengaruhi oleh sentimen dan kondisi global. Hal ini dikarenakan kepemilikan saham BCA didominasi oleh investor asing.
"Karena saham kita 70-80 persen dimiliki investor asing, yang free float, maka (pergerakan harga) ini tergantung situasi global juga," kata Hendra saat paparan kinerja BCA 2025, Selasa.
Lebih lanjut, Hendra menyatakan bahwa prospek ekonomi Indonesia juga menjadi faktor utama yang diperhatikan oleh investor global dalam mengambil keputusan terkait saham BCA. Hal ini membuat prediksi momen yang tepat untuk berinvestasi menjadi kompleks.
"Sulit untuk menjawab saatnya beli (saham BBCA) atau tidak karena tergantung asing melihat prospek ekonomi kita (Indonesia)," tambahnya.
Meski harga saham fluktuatif, Hendra menegaskan bahwa manajemen tetap berfokus untuk memastikan kinerja operasional perusahaan berjalan sebaik mungkin.
Sebagai informasi, saham BBCA terus mengalami penurunan dalam sepekan terakhir, yang dipicu oleh aksi jual investor asing dari emiten milik konglomerat Djarum tersebut.
Pada perdagangan hari ini asing tercatat melakukan aksi jual bersih sebesar Rp1,61 triliun. Net sell ini merupakan selisih dari aksi beli asing sebesar Rp10,56 triliun yang lebih besar dibandingkan pembelian yang hanya sebesar Rp 8,94 triliun.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































