Menuju konten utama

Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp17.851 per US$

Rupiah menguat 71 poin atau 0,4 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.922 per dolar AS.

Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp17.851 per US$
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp17.851 pada perdagangan hari ini, Senin (29/6/2026). Rupiah menguat 71 poin atau 0,4 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.922 per dolar AS.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan rupiah dipengaruhi sejumlah sentimen domestik dalam beberapa hari terakhir. Salah satunya, keputusan pemerintah untuk menahan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di himpunan bank milik negara (Himbara).

Hari ini, berdasarkan pernyataan Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, dana SAL yang berada di bank-bank BUMN mencapai Rp 281 triliun.

"Selain itu, pemerintah menyiapkan hingga Rp 100 triliun dana siaga jika perlu ditempatkan di perbankan. Penempatan tersebut sebagai likuiditas untuk memperkuat kapasitas perbankan dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat," ujar Ibrahim dalam rilis hariannya.

Selain itu, menurut Ibrahim, pelaku pasar masih menunggu sejumlah indikator ekonomi awal Juli 2026, yakni data neraca perdagangan Indonesia serta tingkat inflasi. "Kedua data tersebut diperkirakan menjadi pertimbangan penting dalam membaca kondisi ekonomi nasional dan arah pergerakan rupiah selanjutnya," ucapnya.

Selain faktor domestik, Ibrahim menyebut sejumlah sentimen eksternal juga mewarnai pergerakan mata uang Garuda pada hari ini. Salah satunya, kondisi pasokan minyak yang membaik seiring pembukaan Selat Hormuz. Bahkan, harga minyak dunia pada pekan lalu telah mendekati level sebelum perang berkecamuk.

"Namun, serangan yang kembali terjadi selama akhir pekan memicu kekhawatiran yang lebih tinggi tentang kerapuhan kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran," sebutnya.

Ibrahim menambahkan, data ekonomi AS menunjukkan Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan pada Juni 2026 membaik dari 48,9 menjadi 49,5. "Data lebih lanjut menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi untuk satu tahun tidak berubah pada 4,6 persen dan untuk lima tahun pada 3,3 persen, turun dari 3,4 persen pada pembacaan sebelumnya," kata dia.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana