Menuju konten utama

Rupiah Ditutup Melemah, Kembali Dekati Rp18.000 per US$

Rupiah melemah 45 poin atau 0,25 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.907 per dolar AS.

Rupiah Ditutup Melemah, Kembali Dekati Rp18.000 per US$
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Haji La Tunrung, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (20/5/2026). ANTARA FOTO/Hasrul Said/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.952 pada perdagangan hari ini, Rabu (1/7/2026). Rupiah melemah 45 poin atau 0,25 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.907 per dolar AS.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi faktor respons negatif investor terhadap rilis data Neraca Perdagangan Indonesia yang mengalami defisit secara bulanan pada Mei 2026.

"Defisit ini merupakan defisit pertama sejak enam tahun lalu. Kondisi defisit itu disebabkan nilai impor yang lebih tinggi dari ekspor, yakni sebesar 24,81 miliar dolar AS, sedangkan ekspor RI 23,20 miliar dolar AS. Ini adalah defisit pertama RI sejak surplus selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020," ujarnya dalam rilis harian kepada media.

Selain itu, inflasi tahunan pada Juni 2026 yang berada di level 3,34 persen secara tahunan (year on year/yoy) juga disinyalir turut memberikan tekanan.

"Realisasi inflasi ini sejalan dengan pergerakan IHK dari 108,27 pada kondisi Juni 2025 menjadi 111,89 pada kondisi Juni 2026 yang menunjukkan peningkatan dalam satu tahun terakhir tetapi tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia," tutur Ibrahim.

Sementara itu, faktor eksternal melemahnya rupiah masih disebabkan ketidakpastian atas kemajuan negosiasi perdamaian AS-Iran. Kondisi ini mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar, bahkan ketika produksi minyak mentah AS yang disebut mencapai rekor tertinggi.

Di sisi lain, pasar juga masih mencermati data pasar tenaga kerja AS pada pekan ini, yang akan turut memberikan petunjuk baru tentang langkah kebijakan The Fed selanjutnya.

"Perhatian sekarang beralih ke laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis malam ini, diikuti oleh laporan Nonfarm Payrolls yang akan dirilis sehari lebih awal di tengah pekan yang dipersingkat karena hari libur AS," tutur Ibrahim.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana