tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.804 pada perdagangan hari ini, Jumat (19/6/2026). Rupiah melemah 10 poin atau 0,06 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.794 per dolar AS .
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan, melemahnya rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal.
Menurutnya, ketidakpastian geopolitik dan penurunan peringkat Indonesia dalam indeks MSCI menjadi pemicu utama dari pelemahan rupiah hari ini.
Dari sisi eksternal, sentimen pasar menurutnya sempat membaik setelah Washington dan Teheran menandatangani kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik dan memulihkan navigasi komersial melalui Selat Hormuz.
AS pun telah mencabut blokade terhadap Iran pada Kamis, seiring berlakunya kesepakatan sementara tersebut. Kapal-kapal yang membawa minyak yang terdampar mulai keluar dari jalur air tersebut.
Di sisi lain, ekspor yang kembali meningkat telah menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak di atas 120 dolar AS per barel.
Selain itu, sembilan dari 19 pembuat kebijakan The Fed memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini. Meskipun The Fed mempertahankan suku bunga tidak berubah pada Rabu, komentar dari Ketua Kevin Warsh ditafsirkan pasar sebagai sangat agresif.
"Komentar Warsh meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah dan mengangkat dolar AS ke level terkuatnya dalam lebih dari setahun," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat.
Ia menambahkan investor justru fokus pada kesediaan The Fed untuk memperketat kebijakan lebih lanjut jika tekanan harga terus berlanjut, meskipun ekspektasi inflasi yang lebih rendah biasanya mendukung kebijakan moneter yang lebih longgar.
Sementara itu, dari dalam negeri, Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi menurunkan peringkat kriteria arus informasi Indonesia menjadi negatif dalam laporan 2026 Global Market Accessibility Review.
“Penurunan peringkat ini mencerminkan minimnya transparansi pada data kepemilikan saham dan aktivitas pasar,” kata Ibrahim.
Kondisi tersebut, dinilai MSCI merusak proses pembentukan harga yang wajar serta membatasi kemampuan investor global dalam mengukur jumlah saham beredar (free float) yang sebenarnya dari perusahaan-perusahaan tercatat.
MSCI juga menyoroti keterbatasan pada pasar valuta asing yang kerap menjadi hambatan bagi investor.
"Tidak ada pasar mata uang lepas pantai (offshore) yang efisien, dan terdapat berbagai batasan pada pasar mata uang domestik (onshore) di Indonesia," ungkap riset MSCI.
Meskipun demikian, MSCI mengumumkan posisi Indonesia masih berada di level negara berkembang atau Emerging Market. Hal itu karena Indonesia mendapat sejumlah keunggulan pada aspek keterbukaan pasar.
"Hal itu menjadi salah satu faktor MSCI masih mempertahankan Indonesia di kelas negara berkembang, setelah sempat memberikan sinyal penurunan kelas sehingga membuat pasar kembali optimis arus modal asing akan kembali membanjiri pasar keuangan Indonesia," ungkap Ibrahim.
Dengan semua faktor eksternal dan internal itu, pada perdagangan sore, rupiah ditutup melemah tipis. Ibrahim memproyeksikan untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS.
“Untuk pergerakan sepekan, rupiah diprediksi berada di kisaran Rp17.500 hingga Rp18.000,” katanya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id





































