Menuju konten utama

Rupiah Ditutup Melemah 0,21 Persen ke Level Rp17.762

Pengamat menilai, melemahnya rupiah dipengaruhi kenaikan BI Rate dan Indonesia tidak lagi tergantung dengan impor minyak Timur Tengah.

Rupiah Ditutup Melemah 0,21 Persen ke Level Rp17.762
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (17/1/2025). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan ditutup menguat 14 poin menjadi Rp16.362 per dolar AS. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.762 pada perdagangan hari ini, Rabu (17/6/2026). Rupiah melemah 37 poin atau 0,21 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.725.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan, melemahnya rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal melemahnya rupiah, perhatian pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026.

RDG disebut menjadi penting usai BI menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen melalui RDG Mingguan.

"Langkah serupa juga terjadi pada RDG Bulanan sebelumnya, ketika BI menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin," ucap Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026).

"Dengan demikian, dalam beberapa waktu terakhir BI telah mengambil langkah agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kebijakan tersebut menjadi perhatian pasar, terutama karena rupiah sebelumnya sempat mengalami tekanan cukup besar terhadap dolar AS," lanjut dia.

Selain itu, Ibrahim menyebutkan, RI tidak lagi bergantung pada impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah yang pengirimannya melalui Selat Hormuz. Pemerintah RI diklaim telah mengamankan pasokan energi nasional melalui kontrak jangka panjang dengan sejumlah negara pemasok lain.

Ia mengingatkan, langkah diversifikasi sumber pasokan minyak dilakukan untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Dengan strategi tersebut, Indonesia diklaim memiliki alternatif sumber impor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Meski demikian, pemerintah tetap mengedepankan pertimbangan harga dalam menentukan sumber pasokan minyak mentah. Pemerintah akan memilih sumber minyak yang menawarkan harga paling kompetitif guna menjaga efisiensi dan mengurangi beban fiskal negara," urainya.

Ia melanjutkan, pengaruh eksternal melemahnya rupiah, sentimen didukung optimisme seputar kesepakatan AS-Iran yang bertujuan untuk mengakhiri permusuhan di Timur Tengah. Kesepakatan itu mencakup ketentuan yang memungkinkan Iran untuk melanjutkan ekspor minyak dan memperpanjang gencatan senjata sementara negosiasi berlanjut.

Rincian kesepakatan perdamaian sementara mulai muncul. Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan itu akan mengesampingkan senjata nuklir untuk Teheran. Di satu sisi, seorang pejabat AS mengatakan kesepakatan itu akan memungkinkan Iran untuk menjual minyak setelah penandatanganan.

Kata Ibrhim, memorandum of understanding yang belum dipublikasikan memperpanjang gencatan senjata yang rapuh. Berdasarkan kesepakatan tersebut, AS dinilai akan mencabut blokade pelabuhan Iran. Sementara, Teheran disebut akan mengizinkan lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz.

"Namun demikian, para pejabat industri mengatakan kembalinya produksi dan penyulingan ke tingkat pra-perang kemungkinan akan memakan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun," ucap Ibrahim.

Kata dia, Israel telah menjauhkan diri dari gencatan senjata April dan perjanjian AS-Iran terbaru. Hal ini disebut menambah ketidakpastian apakah gencatan senjata baru ini akan bertahan.

Di satu sisi, fokus pasar sekarang sepenuhnya pada pengumuman kebijakan pertama Federal Reserve di bawah Ketua Kevin Warsh. Bank sentral secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah.

"Pasar sangat sensitif terhadap sinyal apa pun tentang apakah para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk pelonggaran di akhir tahun ini," tutur Ibrahim.

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Andrian Pratama Taher