tirto.id - Rumah adat Yogyakarta memiliki berbagai macam jenis dan filosofinya tersendiri. Adapun rumah adat di Yogyakarta tersebut dibedakan berdasarkan bentuknya.
Berdasarkan buku Arsitektur Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta (1998) bentuk-bentuk rumah adat di Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut umum ditemui di sekitar Kraton. Setiap bentuk rumah adat umumnya ditinggali oleh masyarakat dengan status sosial tertentu.
Menurut modul Keberagaman di Sekitarku (2017), rumah adat menjadi hasil dari penggunaan peralatan dan budaya suatu masyarakat sehingga bentuknya berbeda-beda. Lantas, apa nama rumah adat Yogyakarta?
Nama Rumah Adat Yogyakarta dan Makna Filosofisnya
Untuk mengetahui nama-nama rumah adat Yogyakarta dan penjelasannya, simak penjelasan di bawah ini selengkapnya.
1. Rumah Adat Yogyakarta Panggangpe
Rumah adat Panggangpe atau Panggang pe merupakan bentuk rumah adat Yogyakarta yang paling sederhana. Wibowo dan kawan-kawan dalam Arsitektur Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutkan bahwa bangunan Panggangpe hanya terdiri dari satu susunan ruangan.Jika rumah Panggangpe didiami oleh beberapa anggota keluarga, maka penghuni bisa menambahkan ruang sesuai dengan kebutuhan. Rumah Panggangpe umumnya berbentuk persegi atau persegi panjang sederhana.
Bangunannya didirikan dengan pondasi utama berupa tiang atau saka sebanyak 4 hingga 20, tergantung ukurannya. Panggangpe hanya dilapisi dinding dan atap sederhana untuk menahan hawa lingkungan.
2. Rumah Adat Yogyakarta Kampung
Rumah Kampung adalah versi lebih sempurna dari Panggangpe. Rumah adat ini juga didirikan diatas tiang-tiang atau saka berjumlah 4, 6, 8, dan kelipatannya.Bedanya, rumah Kampung umumnya sudah ditambah bagian-bagian lain seperti serambi atau emper. Emper umumnya diletakkan pada satu sisi atau kedua sisi rumah.
Selain itu, jika melihat gambar rumah adat Yogyakarta Kampung, atap rumahnya juga memiliki bentuk yang lebih kompleks, seperti bertingkat atau landai.
3. Rumah Adat Yogyakarta Limasan
Rumah Limasan merupakan bentuk rumah adat yang mirip seperti rumah Kampung. Bedanya pembagian ruang dalam rumah Limasan lebih kompleks, yaitu terdiri dari ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang.Pada bentuk rumah Limasan sudah dikenal dengan istilah senthong atau kamar. Kamar yang terdapat dalam rumah Limasan umumnya terdapat pada bagian ruang belakang, berupa senthong kiwa (kamar kiri), senthong tengah (kamar tengah), dan senthong tengen (kamar kanan).
4. Rumah Adat Yogyakarta Sinom
Dikutip dari laman Dinas Kebudayaan DIY, bangunan Joglo Sinom memiliki struktur atap yang terdiri dari tiga bagian utama, yaitu brunjung di bagian paling atas, penanggap di tengah, dan penitih di bagian paling bawah. Ketiga bagian atap ini membentuk susunan berlapis yang menjadi ciri khas utama variasi Sinom.5. Rumah Adat Yogyakarta Lawakan
Pada bentuk Joglo Lawakan, atapnya tersusun dari dua bagian utama, yaitu brunjung dan penanggap. Bentuk ini sedikit lebih sederhana dibandingkan variasi lain yang memiliki lebih banyak lapisan atap.6. Rumah Adat Yogyakarta Mangkurat
Joglo Mangkurat juga memiliki tiga susunan atap, brunjung, penanggap, dan penitih. Yang membedakan adalah cara penopangan atapnya.Atap penanggap dipisahkan dari atap brunjung karena bertumpu pada saka benthung, sedangkan atap penitih berada di bawahnya dan menggunakan balok lambang sari sebagai penghubung.
7. Rumah Adat Yogyakarta Pangrawit
Variasi ini juga memiliki tiga lapis atap yakni brunjung, penanggap, dan penitih. Keunikan Joglo ini terletak pada struktur penopang atapnya, di mana atap brunjung terpisah dari penanggap, dan penanggap pun terpisah dari penitih.Hal ini dimungkinkan karena baik atap penanggap maupun penitih ditopang oleh saka benthung, sehingga masing-masing bagian atap berdiri sendiri secara struktural.
8. Rumah Adat Yogyakarta Semar Tinandhu
Dalam variasi ini, digunakan dua batang balok pangeret yang menopang dua tiang penyangga yang diletakkan tepat di tengah-tengah balok tersebut. Dalam beberapa kasus, dua tiang penyangga ini digantikan oleh dinding terusan dari pagar, sehingga memberikan tampilan struktural yang berbeda dibandingkan Joglo lainnya.9. Rumah Adat Yogyakarta Hageng
Joglo Hageng dikenal sebagai bentuk bangunan Joglo yang paling besar dan luas. Struktur atapnya sangat kompleks, terdiri dari lima tingkatan.Brunjung di paling atas, kemudian berturut-turut penanggap, penitih, peningrat, dan emper (tratag) di bagian paling bawah. Susunan ini menunjukkan tingkat kerumitan dan keagungan bangunan Joglo tipe Hageng.
10. Rumah Adat Yogyakarta Jompongan
Ciri utama dari rumah Joglo Jompongan terletak pada bentuk denah bangunannya. Jika umumnya Joglo berbentuk persegi panjang, maka Joglo Jompongan berbentuk bujur sangkar.Hal ini menjadikannya berbeda secara visual maupun struktural dibandingkan variasi Joglo lainnya.
Fungsi Rumah Adat Yogyakarta
Adapun sejumlah fungsi rumah adat Yogyakarta yakni sebagai berikut.
1. Tempat Beristirahat
Sama seperti rumah biasa, rumah adat Yogyakarta berfungsi utama sebagai tempat tinggal dan beristirahat bagi penghuninya. Baik rumah Joglo, Kampung, Limasan, maupun Panggangpe memiliki ruang yang digunakan untuk tidur, melepas lelah, dan berkumpul bersama keluarga.2. Tempat Upacara Adat
Ruang pringgitan pada rumah Joglo sering digunakan untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan adat dan budaya. Fungsinya sebagai ruang tengah menjadikannya tempat penting dalam pelaksanaan tradisi masyarakat.3. Tempat Berkumpul dan Bermusyawarah
Pendopo dalam rumah Joglo berfungsi sebagai ruang terbuka untuk menerima tamu, mengadakan pertemuan, hingga bermusyawarah. Area ini menjadi pusat interaksi sosial bagi warga dan keluarga besar.Selain pendopo, bagian depan rumah seperti emper juga dimanfaatkan untuk menerima tamu secara informal. Ruang ini menjadi area pertemuan ringan tanpa harus masuk ke ruang pribadi keluarga.
4. Tempat Menaruh Hasil Panen
Pada rumah Kampung dan Limasan, bagian depan atau ruang tertentu dalam rumah digunakan untuk meletakkan hasil panen seperti gabah, umbi-umbian, atau hasil pertanian lainnya. Rumah Panggangpe yang memiliki pembagian ruang juga memanfaatkan satu ruang khusus untuk menyimpan hasil pertanian.5. Tempat Penyimpanan Barang dan Senjata
Senthong kiwa (kamar kiri) pada rumah Joglo difungsikan untuk menyimpan barang-barang penting seperti perlengkapan rumah tangga, pusaka, atau senjata tradisional yang dimiliki oleh keluarga.6. Tempat Menyimpan Benih dan Ruang Ibadah
Senthong tengah (kamar tengah) memiliki fungsi yang khas, yaitu untuk menyimpan benih, akar-akaran, atau gabah, terutama bagi keluarga petani. Ruangan ini juga kerap dijadikan sebagai tempat untuk berdoa dan melakukan kegiatan spiritual keluarga.Ciri Khas Rumah Adat Yogyakarta
Adapun sejumlah ciri khas rumah adat Yogyakarta yakni sebagai berikut.
1. Menggunakan Teknik Kuncian Tanpa Paku
Sebagian besar rumah adat Yogyakarta dibangun dengan teknik kuncian, yaitu menyatukan sendi-sendi tiang pondasi tanpa menggunakan paku.2. Material Bangunan dari Alam
Bahan-bahan utama berasal dari alam seperti kayu, papan, dan bambu. Jenis kayu yang sering digunakan antara lain kayu jati, kayu nangka, kayu kelapa, dan kayu meranti.3. Mengikuti Perkembangan Zaman dengan Bahan Modern
Rumah adat versi modern mulai menggunakan bahan seperti beton, batu bata, dan batu alam, meskipun tetap mempertahankan nilai tradisional.4. Dihiasi Ukiran Flora dan Fauna
Rumah adat Yogyakarta, khususnya yang berbentuk Limasan atau Joglo biasanya dihiasi dengan ukiran-ukiran flora dan fauna. Hiasan-hiasan tersebut dimaksudkan untuk memberikan kesan keindahan dan ketentraman rumah.5. Motif Ukiran dengan Makna Sakral
Tak sekadar hiasan, motif ukiran pada rumah adat juga memiliki nilai sakral dan dipercaya membawa aura wingit atau angker.6. Terbagi menjadi Beberapa Ruangan
Ruangan-ruangan yang terdapat pada rumah Joglo Yogyakarta umumnya terdiri dari pendopo, pringgitan, dalem, omah jero, dan senthong.Perbedaan Joglo Yogyakarta dengan Jawa Tengah
Rumah adat Joglo Yogyakarta memiliki arsitektur yang mirip dengan rumah Joglo di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Tidak heran jika dikatakan bahwa rumah Joglo disebut sebagai rumah ideal Jawa.
Namun, meski rumah adat Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta memiliki kesamaan dalam hal bentuk dasar rumah Joglo. Dikutip dari buku Rumah Adat Nusantara oleh Poerwaningtias dan Suwarto (2017), ada beberapa perbedaan signifikan dalam desain dan fungsinya.
Rumah adat Joglo Jawa Tengah memiliki bentuk persegi panjang dengan tiga pintu depan dan jendela di samping rumah. Rumah ini terdiri dari tiga ruang utama yang digunakan untuk menerima tamu dan aktivitas keluarga seperti memasak.
Sementara itu, ciri khas dari rumah Joglo Jogja memiliki perbedaan dalam desain yang terinspirasi oleh bangsal kencono dari keraton Yogyakarta. Atap rumah ini berbentuk bubungan tinggi dan bertumpuk tiga, memberikan kesan yang megah.
Tiang dan dindingnya terbuat dari kayu yang sering dicat dengan warna hijau gelap atau hitam, memberikan kesan lebih elegan. Lantai rumah Joglo Yogyakarta lebih tinggi dari permukaan tanah.
Bagian depan rumah berupa pendopo yang luas, yang biasanya digunakan untuk pertemuan atau kegiatan sosial lainnya. Jadi, meski namanya sama-sama Joglo, biasanya rumah adat Jawa Tengah lebih sederhana.
Editor: Yantina Debora
Penyelaras: Nisa Hayyu Rahmia
Masuk tirto.id






































