Risiko di Balik Tren Pelesiran Murah ala Open Trip

Oleh: Ringkang Gumiwang - 27 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Berpelesiran dengan gaya open trip memang menawarkan harga yang murah, tapi konsumen harus tetap waspada soal risiko tipu-tipu di baliknya.
tirto.id - Pelesiran dengan open trip sedang menjadi tren. Coba saja Anda buka sosial media, maka akan bertebaran paket-paket yang menawarkan open trip ini. Mulai dari paket ke Pulau Seribu, Bandung, Malang, bahkan ada beberapa yang menawarkan ke luar negeri. Yang membuat tergoda, open trip ini menawarkan harga yang cukup murah.

Peminat open trip ini tidak sedikit. Selain murah, open trip juga membuka peluang untuk berkenalan dengan orang-orang baru. Hendra, 29 tahun asal Pati, Jawa Tengah merasa, open trip jadi ajang mencari kawan baru, selain tentunya soal budget ramah kantong.

“Kira-kira sudah empat kali saya open trip. Cukup puas, meski ala kadarnya. Namanya juga paket wisata murah. Tapi ya, ada lebihnya juga, bisa nambah jejaring pertemanan,” katanya kepada Tirto.

Namun, berwisata dengan paket open trip tak selamanya berakhir dengan senyuman. Baru-baru ini, seperti dilaporkan Kompas, sekelompok turis Indonesia yang menggunakan paket open trip ditinggalkan pemandunya, saat ingin menyeberang dari Maroko ke Spanyol.


Open trip
ini tidak berbeda dengan paket-paket tur wisata rombongan yang sudah ada selama ini. Pola kerjanya sama-sama diatur oleh sekelompok orang atau perorangan, mulai dari pilihan destinasi, penginapan, makanan, transportasi dan lain sebagainya.

Pengguna jasa open trip hanya perlu membayar dan merasakan pengalaman liburan yang menyenangkan. Bedanya, wisatawan rombongan ini, satu sama lainnya ini tidak saling mengenal.

Kegiatan jalan-jalan bersama dengan orang-orang yang tidak dikenal ini sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Hanya saja, baru mulai terekspose pada beberapa tahun belakangan ini, seiring dengan perkembangan media sosial.

Sukirno, warga asal Banjar, Jawa Barat, adalah salah satu dari sekian banyak penyelenggara wisata open trip. Bermula dari kesukaannya untuk jalan-jalan ke sejumlah destinasi wisata di Indonesia, ia kini justru ikut terjun ke dalam bisnis open trip.

Awalnya, pria berumur 30 tahun ini hanya menawarkan wisata open trip kepada kawan-kawannya. Dalam perjalanannya, ia mengaku permintaan open trip semakin banyak. Ia bahkan pernah melayani open trip untuk korporasi. Sayangnya, bisnis yang dijalankannya sejak 2016 itu masih bersifat informal atau perorangan alias belum berbadan hukum.

“Sebenarnya sudah ada rencana untuk mulai berbadan hukum, tapi belum kesampaian,” jelas Sukirno.

Saat ini, Sukirno masih pikir-pikir untuk berbadan hukum, tapi agak ragu karena tidak menutup kemungkinan badan hukum malah membuat harga paket open trip yang ditawarkan menjadi meningkat atau tidak murah lagi.



Infografik Open Trip


Kenapa Open Trip Murah?


Keraguan Sukirno ini juga bukan tanpa sebab. Ia pernah membandingkan harga open trip yang ditawarkan oleh salah satu perusahaan tour & travel dengan harga open trip yang ia kelola.

Ia membandingkan wisata open trip ke Kepulauan Seribu, Jakarta. Perusahaan tour & travel mematok harga Rp600.000, per orang. Ia hanya mematok Rp300.000 per orang dengan fasilitas yang sama dengan yang diberikan perusahaan tour & travel.

“Bedanya itu hampir 100 persen. Dan saya masih dapat untung. Saya juga enggak mengerti apa yang membuat harganya bisa sampai sebesar itu. Apakah karena PT, badan usaha atau lainnya, saya kurang tahu,” kata Sukirno.

Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) asosiasi yang berdiri sejak 1971 ini tidak menampik open trip memang menawarkan paket wisata murah bagi masyarakat. “Mereka bisa murah karena umumnya tidak berbadan hukum, tidak memiliki kantor, tidak memakai tour guide bersertifikat, tidak bayar pajak, tidak sesuai standar dan lain sebagainya,” kata Ketua Umum Asita Asnawi Bahar kepada Tirto.

Asnawi menegaskan asosiasi sangat mendukung kehadiran paket wisata rombongan dengan konsep open trip. Namun, ia berharap penyelenggara wisata open trip ini memiliki badan usaha guna menjamin hak-hak pengguna jasa terpenuhi.

Menjamurnya agen-agen perjalanan baru belakangan ini sebenarnya menjadi sentimen positif bagi perkembangan pariwisata. Namun, apabila agen-agen perjalanan baru ini tidak berbisnis secara formal, dikhawatirkan mengganggu iklim pariwisata.


Menurut Asita, untuk menjadi agen atau biro perjalanan yang resmi di Indonesia ada tiga hal yang harus dipenuhi. Pertama, mendirikan Perseroan Terbatas (PT). Kedua, harus memiliki Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP). Ketiga, harus terdaftar sebagai anggota Asita. Namun, semua ini tak terpenuhi oleh penyelenggara open trip perorangan.

Ketentuan mengenai tata cara pendaftaran biro perjalanan wisata termaktub dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.85/HK.501/MKP/2010 tentang Tata Cara Pendaftaran Usaha Jasa Perjalanan Wisata.

Selain itu, biro perjalanan wisata wajib tunduk terhadap aturan yang ada itu, mereka juga wajib mengikuti standar dan prosedur biro perjalanan wisata. Kementerian Pariwisata punya aturan standar prosedur untuk biro perjalanan wisata. Standar prosedur itu tertuang di dalam Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI No. 4/2014 tentang Standar Usaha Jasa Perjalanan Wisata. Standar prosedur itu mencakup tiga hal yakni, produk, pelayanan, dan pengelolaan.

"Paket wisata murah, tetapi agen perjalanannya itu enggak jelas ini menjadi rawan akan penipuan. Tidak ada jaminan buat pengguna jasa. Ini juga bisa bikin jelek citra bisnis pariwisata Indonesia," jelas Asnawi.

Terkait maraknya penipuan berkedok paket wisata murah, Sukirno menilai aksi penipuan bisa terjadi di mana saja, agen perjalanan resmi maupun tidak resmi. Ia mengimbau pengguna jasa lebih cermat saat berwisata. Saran yang paling baik ketika pengguna jasa memilih paket wisata dengan konsep open trip adalah memilih agen perjalanan yang dikenal atau yang sudah mendapatkan rekomendasi dari teman-teman sekitar. Kuncinya tak boleh hanya tergiur dengan tawaran murah.

Meski paket wisata dengan konsep open trip tengah populer, asosiasi meyakini hal itu tidak akan mengganggu bisnis agen perjalanan resmi yang sudah ada. Pasalnya, harga bukanlah satu-satunya faktor yang mendorong minat masyarakat untuk berpelesiran.

Perkembangan open trip yang kian populer ini, pemerintah hendaknya mendorong agen-agen perjalanan baru untuk menjadi formal atau berbadan hukum. Namun, masyarakat juga jangan lantas tergoda dengan tawaran paket wisata murah yang bisa menjadi pintu masuk mereka yang tak bertanggung jawab.

Baca juga artikel terkait BIRO PERJALANAN atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Suhendra
Dari Sejawat
Infografik Instagram