Menuju konten utama

Reog SR Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Tampil perdana di FNRP 2026, Reyog Garudo Djoyo Manggolo SRT 5 Ponorogo berhasil meraih penghargaan 10 besar kategori Pelestari Budaya.

Reog SR Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden
Reyog Garudo Djoyo Manggolo Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo berhasil meraih penghargaan kategori 10 besar Pelestari Budaya di ajang bergengsi Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI tahun 2026. FOTO/dok.Kemensos
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Reog Garudo Djoyo Manggolo dari Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo berhasil mencatatkan prestasi dalam ajang Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI tahun 2026. Grup tersebut masuk dalam 10 besar kategori Pelestari Budaya pada festival yang memperebutkan Piala Presiden Republik Indonesia.

Pencapaian ini menjadi momen istimewa karena FNRP 2026 merupakan keikutsertaan perdana SRT 5 Ponorogo dalam ajang tersebut. Kepala Sekolah SRT 5 Ponorogo, Devit Tri Candrawati, mengaku bangga atas penampilan dan perjuangan para siswa.

"Sangat lega sekali. Bangga sekali anak-anak memang luar biasa," ujar Devit usai menerima piala dan piagam penghargaan didampingi Tenaga Ahli Menteri Sosial Fajar WH dalam acara penutupan FNRP dan Grebeg Suro, Senin (15/6/2026).

Devit juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga Reog Garudo Djoyo Manggolo dapat tampil di festival tingkat nasional tersebut.

"Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung. Kementerian Sosial dan jajarannya sudah mengantarkan anak anak satu langkah lebih maju. Semoga ini awal dari kesuksesan mereka nantinya, memang proses itu tidak akan mengkhianati hasil, ini untuk anak anak, dari mereka untuk mereka," katanya.

Dalam penampilannya, grup Garudo Djoyo Manggolo membawakan kisah perjalanan Prabu Klono Sewandono saat melakukan perjalanan untuk melamar putri Kerajaan Daha. Dalam perjalanan tersebut, rombongan sang raja harus menghadapi Raja Singa Barong.

Lakon yang ditampilkan menggambarkan sosok Prabu Klono Sewandono yang gagah sekaligus penuh pesona. Gerakan tari memperlihatkan kelincahan sang raja yang tengah dimabuk asmara, lengkap dengan pusaka andalannya, yakni cemeti sakti Kyai Pecut Samandiman yang digunakan untuk melindungi diri.

Pertunjukan semakin semarak dengan iringan gamelan khas Jawa yang dimainkan secara dinamis. Perpaduan kendang, gong, kenong, kethuk, slompret, serta dukungan paduan suara dan penyenggak (penyanyi latar) memperkuat suasana dalam setiap gerakan tari.

Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI tahun 2026 diikuti sekitar 32 grup reog dari berbagai daerah. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, mulai 11 hingga 14 Juni 2026 di Alun-Alun Kabupaten Ponorogo, resmi ditutup dalam rangkaian Grebeg Suro 2026.

Dalam ajang tersebut, Grup Reog Singo Taruno Budoyo dari SMPN 1 Ponorogo berhasil meraih juara pertama. Sementara itu, Grup Reog Kyai Lodra dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur membawa pulang Piala Bergilir Presiden Republik Indonesia setelah menjadi juara Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI.

Penutupan Grebeg Suro Ponorogo turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus, Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah II Dwi Marhen Yono, Tenaga Ahli Menteri Sosial Fajar WH, Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita, serta anggota DPR RI dan DPRD Ponorogo.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis