tirto.id - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Thomas Djiwandono, melaporkan, realisasi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai dengan Agustus 2025 tercatat sebesar Rp425,7 triliun atau 69,1 persen dari target yang ditetapkan senilai Rp662,0 triliun. Realisasi pembiayaan per akhir Agustus itu tercatat melonjak 44,3 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya (year on year/yoy) yang sebesar Rp295,0 triliun.
“Ini di-breakdown dari pembiayaan utang sebesar Rp463,7 triliun atau 59,8 persen dari target APBN dan pembiayaan non-utang minus Rp38 triliun atau 23,8 persen dari APBN,” paparnya, dalam konferensi pers APBN KITA Agustus 2025, di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (22/9/2025).
Kendati mengalami kenaikan, profil risiko utang Indonesia dinilai masih terjaga. Hal ini tampak dari penurunan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang mengalami penurunan, spread SBN yang menyempit dan aliran modal asing yang mulai kembali lagi ke Tanah Air.
“Yield yang turun, spread yang menyempit, serta aliran modal asing yang masuk, semua mendukung tercapainya pembiayaan dengan biaya utang yang lebih rendah dan efisien,” tambah Thomas, atau yang karib disapa Tommy.
Jika dirinci, hingga lelang terakhir, rata-rata bid to cover ratio -rasio antara total penawaran yang diterima (bid) dalam lelang Surat Berharga Negara (SBN) dengan jumlah penawaran yang berhasil dimenangkan, tahun 2025 tercatat sebesar 3,03 untuk Surat Utang Negara (SUN) dan 3,15 untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).
“Hal ini menunjukkan bahwa permintaan investor tetap kuat dan minat asing terjaga tinggi, meskipun volatilitas pasar meningkat. Kepercayaan ini juga tidak lepas dari status investment grade yang disandang Indonesia, sehingga SBN Indonesia tetap dipandang sebagai instrumen aman di pasar global,” kata dia.
Pada saat yang sama, yield SBN dengan tenor 10 tahun yang turun 70 bps atau minus 10 persen sejak awal tahun sampai pertengahan September 2025 membuat modal asing kembali masuk ke Indonesia. Kementerian Keuangan mencatat, sampai 17 September 2025, modal asing yang masuk ke Indonesia sudah mencapai Rp42,61 triliun.
“Kondisi ini mencerminkan kepercayaan investor internasional terhadap fundamental dan prospek perekonomian Indonesia,” tutup Tommy.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id


































