Menuju konten utama

Rangkaian Upacara Hari Galungan 2024 Hingga Kuningan

Hari Raya Galungan 2024 akan jatuh pada 28 Februari 2024. Simak rangkaian acara Hari Raya Galungan berikut ini.

Rangkaian Upacara Hari Galungan 2024 Hingga Kuningan
Umat Hindu berjalan sambil menjunjung keben bambu atau tempat sesajen saat tradisi Mapeed pada rangkaian persembahyangan Hari Raya Galungan di Desa Lukluk, Badung, Bali, Rabu (2/8/2023). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/aww.

tirto.id - Rangkaian upacara hari Galungan tahun 2024 akan mencapai puncaknya pada Rabu, 28 Februari 2024 berdasarkan kalender Bali. Sebelum mencapai puncak perayaan, umat Hindu sudah mulai memperingati Galungan sejak awal Februari.

Agenda awal upacara Galungan disebut Tumpek Uduh, salah satu acara pembuka dalam menyambut Hari Raya Galungan. Pada Galungan 2024, acara Tumpek Uduh sudah dilaksanakan pada tanggal 3 Februari 2024.

Perayaan Galungan menjadi momen istimewa untuk umat Hindu, khususnya di Bali. Galungan memberi kesempatan umat Hindu untuk menghormati Sang Hyang Widhi Wasa dan merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan).

Puncak perayaan Galungan ditandai dengan keberadaan penjor, tiang bambu yang dihias dengan berbagai ornamen. Penjor juga menjadi simbol atas rasa syukur dan ucapan terima kasih terhadap limpahan hasil bumi dari Tuhan.

Seiring dengan puncak perayaan Galungan pada 28 Februari 2024, umat Hindu akan melibatkan diri dalam berbagai upacara dan kegiatan keagamaan. Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan kekuatan rohani, berdoa, dan menghaturkan puja dan puji syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Makna Hari Raya Galungan

Perayaan Galungan merupakan salah satu momen sakral dan penting dalam tradisi Hindu di Bali. Peringatan ini bertujuan untuk menyatukan kekuatan rohani guna mendapatkan pikiran dan pendirian yang tenang.

Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti bertarung atau 'dungulan,' yang artinya menang. Wuku Galungan di Jawa dan Wuku Dungulan di Bali memiliki arti yang sama, yaitu wuku ke-11 dalam kalender Bali.

Galungan dirayakan setiap hari Rabu pada wuku Dungulan dan dimaknai sebagai kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan). Perayaan ini terkait dengan peringatan hari Purnama Kapat (Budha Kliwon Dungulan) di tahun 882 Masehi atau tahun Saka 804, menurut lontar Purana Bali Swipa.

Makna Galungan dalam lontar Sunarigama menjelaskan bahwa Rabu Kliwon Dungulan atau Galungan bertujuan untuk menyatukan kekuatan rohani. Dengan demikian, pikiran dan pendirian bisa terang, sedangkan kekacauan pikiran bisa dilenyapkan.

Parisada Hindu Dharma menyimpulkan bahwa upacara Galungan memiliki arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Upacara ini menghaturkan puja dan puji syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas terciptanya dunia dan seisinya. Hal ini sebagai bentuk dari rasa syukur atas karunia Sang Hyang Widhi Wasa yang menciptakan segala-galanya di dunia.

Rangkaian peringatan Galungan juga melibatkan berbagai upacara sebelumnya, seperti Tumpek Wariga, Sugihan Jawa, Sugihan Bali, Hari Penyekeban, Hari Penyajaan, dan Hari Penampahan. Semua kegiatan ini memiliki makna simbolis masing-masing, termasuk pembuatan penjor, pembersihan lingkungan, penyucian diri, dan penyembelihan babi.

Rangkaian Upacara Hari Galungan 2024

Rangkaian Hari Raya Galungan adalah berisi beberapa agenda, seperti upacara dan kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh umat Hindu. Rangkaian ini berlangsung selama periode perayaan Galungan dan Kuningan.

Berikut adalah penjelasan mengenai rangkaian Hari Raya Galungan, sebagaimana dikutip dari RRI:

1. Tumpek Wariga, merupakan sebuah upacara keagamaan dalam tradisi Hindu Bali yang diselenggarakan 25 hari sebelum perayaan Galungan. Acara ini juga dikenal dengan sebutan Tumpek Bubuh, Tumpek Pengatag, atau Tumpek Pengarah.

Momen Tumpek Wariga menandai waktu saat umat Hindu memuja Sang Hyang Sangkara sebagai Dewa Kemakmuran dan Keselamatan Tumbuh-tumbuhan. Pohon-pohon di lingkungan sekitar bakal diciprati air suci sebagai simbol kesuburan, disertai dengan sesaji sebagai bentuk penghormatan.

2. Sugihan Jawa, merupakan upacara yang dilakukan pada Hari Kamis Wage wuku Sungsang, beberapa waktu sebelum Galungan. Melalui upacara Mererebu atau Mererebon, umat Hindu di Bali membersihkan segala sesuatu yang dianggap negatif di Bhuana Agung, mencakup alam semesta.

Pembersihan juga dilakukan pada Merajan dan rumah sebagai simbol dari penyucian diri dan lingkungan.

3. Sugihan Bali menjadi upacara penyucian diri yang dilaksanakan pada Hari Jumat Kliwon wuku Sungsang. Mandi, pembersihan fisik, dan memohon Tirta Gocara kepada Sulinggih menjadi langkah-langkah simbolis untuk membersihkan jiwa raga.

4. Hari Penyekeban dirayakan setiap Minggu Pahing wuku Dungulan. Momen ini memiliki makna filosofis mengekang diri dari tindakan yang tidak dibenarkan oleh agama. Ini merupakan suatu bentuk persiapan spiritual menjelang Hari Raya Galungan.

5. Hari Penyajan, jatuh pada setiap Senin Pon wuku Dungulan, merupakan ujian untuk menguji tingkat pengendalian diri umat Hindu. Hari Penyajan menjadi bagian dari tahapan persiapan mendekati perayaan Hari Raya Galungan.

6. Hari Penampahan, terjadi sehari sebelum Galungan atau pada hari Selasa Wage wuku Dungulan, merupakan salah satu acara dalam perayaan Hari Raya Galungan. Acara ini diisi dengan pembuatan penjor sebagai simbol keberhasilan dan penyembelihan babi untuk keperluan upacara.

7. Hari Raya Galungan, yang merupakan puncak perayaan, dirayakan pada Hari Rabu Kliwon wuku Dungulan. Selain perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma, tradisi 'Pulang Kampung' dan penghormatan kepada leluhur dengan membawa banten ke kuburan juga menjadi bagian integral dari perayaan ini.

8. Hari Umanis Galungan, yang jatuh pada Hari Kamis Umanis wuku Dungulan, umumnya diisi dengan persembahyangan, Dharma Santi, dan tradisi ngelawang (menarikan barong) untuk mengusir aura negatif.

9. Hari Pemaridan Guru, yang jatuh pada Hari Sabtu Pon wuku Galungan, menjadi momen untuk ngelungsur waranugraha dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa Guru.

10. Ulihan, momen yang terjadi tiap Hari Minggu Wage wuku Kuningan, menandai hari kembalinya para dewata dan leluhur ke kahyangan, meninggalkan berkat dan anugrah panjang umur.

11. Hari Pemacekan Agung, pada Hari Senin Kliwon wuku Kuningan, memiliki makna sebagai simbol keteguhan iman umat manusia selama perayaan Hari Raya Galungan.

12. Hari Kuningan, sebagai Hari Suci Kuningan, ditandai dengan pemasangan tamiang, kolem, dan endong berwarna kuning. Persembahyangan harus selesai sebelum pukul 12 siang. Sebab, jika lewat dari jam tersebut, prosesi itu hanya akan diterima oleh Bhuta dan Kala, karena para Dewata telah kembali ke Kahyangan.

13. Hari Pegat Wekatan, pada Hari Rabu Kliwon wuku Pahang, sebulan setelah Galungan, merupakan prosesi terakhir dalam perayaan Galungan dan Kuningan. Mencakup persembahyangan, pencabutan penjor, pembakaran penjor, dan penanaman abu penjor di pekarangan rumah sebagai penutup rangkaian upacara.

Baca juga artikel terkait GALUNGAN 2024 atau tulisan lainnya dari Fajri Ramdhan

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Fajri Ramdhan
Penulis: Fajri Ramdhan
Editor: Ahmad Yasin & Iswara N Raditya