tirto.id - Direktur INDEF Green Transition Initiative (INDEF-GTI) Imaduddin Abdullah menilai program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) berpotensi menjadi penggerak baru industrialisasi mineral Indonesia. Pasalnya, industri panel surya membutuhkan pasokan mineral kritis sebagai bahan baku dalam rantai produksinya, mulai dari tembaga, silika hingga timah.
“Kita melihat sebenarnya ada potensi juga yang penting adalah dengan kita mempunyai mineral kritis di dalam negeri. Yang mana saya sampaikan tadi adalah mineral kritis ini menjadi kunci untuk transisi energi ke depan,” kata Imaduddin dalam diskusi publik Mineral Kritis Indonesia di Tengah Krisis Energi Dunia di Hotel Pullman, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Selain berkaitan dengan agenda hilirisasi mineral, ambisi membangun PLTS berkapasitas 100 GW juga dapat mendorong penyerapan tenaga kerja ketika pabrik-pabrik panel surya didirikan. Bahkan, lapangan kerja yang dapat tercipta dari industrialisasi tersebut bisa lebih besar dibandingkan sektor pertambangan.
“Sebenarnya yang paling penting adalah semakin ke hilir. Jadi karena kalau kita lihat angkanya ternyata kalau di hulu itu jumlah tenaga kerjanya memang relatif sedikit. Tapi semakin ke hilir itu jumlah tenaga kerjanya akan semakin meningkat,” katanya
Dalam kesempatan sama, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Cecep Mochammad Yasin mengatakan mineral kritis akan menjadi salah satu penentu utama daya saing ekonomi global pada masa depan. Potensi tersebut juga didukung oleh posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan cadangan mineral strategis terbesar di dunia.
“Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk menghadapi perubahan tersebut. Kita memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, cadangan timah terbesar kedua di dunia, cadangan bauksit terbesar keempat dunia, serta tembaga, emas dan besi yang cukup signifikan keberadaannya,” ujar Cecep.
Meski memiliki sumber daya yang besar, Cecep menilai keunggulan tersebut harus diterjemahkan menjadi nilai tambah ekonomi yang lebih besar melalui hilirisasi.
“Keunggulan tidak berhenti pada kepemilikan sumber daya, tetapi harus diwujudkan melalui penguasaan pemrosesan, manufaktur, pasar, dan juga industri terkait,” katanya.
Menurut Cecep, hilirisasi tidak boleh berhenti pada tahap pengolahan awal. Rantai nilai mineral perlu diperpanjang hingga menghasilkan produk akhir yang digunakan dalam teknologi energi bersih.
“Hilirisasi tidak boleh berhenti pada tahap pengolahan awal atau produk antara. Rantai nilai harus terus berkembang dari bijih menjadi MHP, menjadi nickel matte, kemudian menjadi precursor dan cathoda, menjadi sel dan paket baterai, hingga menghasilkan produk akhir seperti kendaraan listrik dan energy storage system,” ujar Cecep.
Penulis: Nanda Surya
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































