Menuju konten utama

Prediksi Harga Emas karena Perang Iran-Israel-AS, Apakah Naik?

Bagaimana prediksi harga emas di tengah perang Iran-Israel-AS? Ada faktor suku bunga dan dolar AS untuk memprediksi tren jangka panjang.

Prediksi Harga Emas karena Perang Iran-Israel-AS, Apakah Naik?
Pedagang memperlihatkan perhiasan emas di salah satu tempat penjualan emas kawasan Kota Banda Aceh, Aceh, Jumat (11/4/2025). Menurut pedagang emas di Aceh, harga perhiasan emas sejak dua pekan terakhir mengalami kenaikan akibat situasi global yang tidak stabil dari Rp5.400.000 per mayam atau 3,3 gram menjadi Rp5.850.000 per mayam untuk emas murni kadar 99 persen, begitu juga emas Antam naik menjadi Rp2.025.000 per gram dari harga semula Rp1.820.000 per gram. ANTARA FOTO/Khalis Surry/Spt.

tirto.id - Ketegangan geopolitik yang meningkat akibat perang Isran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran global yang berdampak langsung pada pasar keuangan, termasuk pasar emas.

Sejarah mencatat bahwa dalam situasi penuh ketidakpastian, emas sering berperan sebagai aset lindung nilai. Fluktuasi harga logam mulia dalam beberapa waktu terakhir mencerminkan peran sentralnya di tengah instabilitas global.

Meski konflik bersenjata kerap memicu lonjakan harga emas dalam jangka pendek, para analis menilai bahwa faktor ekonomi makro seperti defisit fiskal Amerika Serikat, kebijakan suku bunga, dan pergerakan nilai tukar dolar tetap menjadi penentu utama dalam jangka panjang.

Lembaga-lembaga seperti Bank of America dan J.P. Morgan bahkan telah mengeluarkan proyeksi harga emas beberapa kuartal ke depan, dengan asumsi tekanan ekonomi global masih berlanjut.

Prediksi tersebut menjadi panduan penting bagi investor dalam menyusun strategi di tengah ketidakpastian.

Apakah Perang Memengaruhi Harga Emas?

Secara historis, perang dan konflik geopolitik memiliki dampak signifikan terhadap harga emas, khususnya dalam jangka pendek. Sebagai aset lindung nilai, emas menjadi pilihan utama ketika ketidakpastian meningkat.

Lonjakan permintaan akibat kepanikan pasar menyebabkan harga emas naik tajam, seperti yang tercatat selama Perang Dunia I dan II, ketika banyak pihak mengalihkan aset mereka ke logam mulia untuk menjaga kestabilan kekayaan. Namun, tidak semua konflik secara otomatis mendorong harga emas terus naik.

Bank of America dan J.P. Morgan mencatat bahwa konflik seperti Iran-Israel atau Rusia-Ukraina memang memicu kenaikan harga secara sementara, tetapi tidak selalu berkelanjutan. Justru variabel ekonomi seperti defisit anggaran AS, suku bunga, dan kekuatan dolar AS memiliki pengaruh jangka panjang yang lebih kuat terhadap pergerakan harga emas.

Contoh relevan lain adalah krisis keuangan 2008, ketika harga emas mencapai rekor tertinggi akibat runtuhnya sistem keuangan global. Hal serupa terjadi pada masa pandemi COVID-19 dan konflik dagang AS-Cina, yang menyebabkan investor kembali memilih emas untuk meredam risiko inflasi dan ketidakpastian pasar. Hal ini menegaskan bahwa emas merespons berbagai jenis krisis, bukan hanya konflik militer.

Menurut analisis Fortune, peran bank sentral juga menjadi faktor penting. Saat ketidakpastian meningkat, bank-bank sentral di negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Turki cenderung menambah cadangan emas mereka sebagai strategi diversifikasi dari dolar AS. Investor ritel pun turut mengambil peran melalui pembelian fisik maupun instrumen emas digital, memperkuat permintaan di masa-masa krisis.

Dengan demikian, meskipun konflik dapat memicu lonjakan harga emas dalam jangka pendek, tren jangka panjang tetap bergantung pada dinamika ekonomi global. Harga emas mencerminkan kombinasi antara ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi, menjadikannya instrumen lindung nilai yang tetap relevan sepanjang sejarah modern.

Prediksi Harga Emas saat Perang Iran vs Israel dan AS

Harga emas diprediksi akan tetap berada dalam tren naik meski konflik antara Iran dan Israel terus berlangsung, termasuk potensi eskalasi oleh Amerika Serikat. Namun, menurut analis Bank of America (BofA), konflik geopolitik tidak selalu menjadi pendorong utama dalam jangka panjang. Sebagai contoh, setelah Israel melancarkan serangan udara ke Iran, harga emas justru turun 2 persen, menunjukkan bahwa faktor militer tidak selalu memberikan dorongan harga yang berkelanjutan.

Faktor yang lebih menentukan adalah kondisi fiskal Amerika Serikat. BofA memperkirakan harga emas bisa mencapai $4.000 per ons dalam 12 bulan ke depan jika defisit anggaran AS terus melebar, terutama akibat kebijakan belanja dan pemotongan pajak yang direncanakan oleh pemerintahan Trump. Ketidakpastian seputar utang pemerintah dan penurunan minat terhadap obligasi Treasury menjadi pemicu investor mengalihkan dananya ke emas sebagai lindung nilai.

Melemahnya dolar AS, tingginya volatilitas suku bunga, dan pembelian besar-besaran oleh bank sentral global semakin memperkuat prospek emas. Sejak Maret, bank sentral telah menjual obligasi AS senilai sekitar $48 miliar dan meningkatkan cadangan emasnya secara signifikan. Diperkirakan, pembelian emas oleh bank sentral bisa mencapai 900 ton sepanjang 2025 sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.

Dari sisi investor, alokasi portofolio ke emas masih relatif rendah, yakni sekitar 3,5 persen. Namun, kekhawatiran terhadap resesi, inflasi, dan kebijakan fiskal AS mendorong minat yang terus meningkat. J.P. Morgan memproyeksikan harga emas rata-rata mencapai US$3.675 per ons pada kuartal IV 2025, bahkan bisa menembus US$4.000 pada pertengahan 2026. Dengan kata lain, meski ketegangan geopolitik menjadi pemicu awal, fundamental ekonomi tetap menjadi penentu arah pasar emas ke depan.

Baca juga artikel terkait HARGA EMAS atau tulisan lainnya dari Astam Mulyana

tirto.id - Aktual dan Tren
Kontributor: Astam Mulyana
Penulis: Astam Mulyana
Editor: Dipna Videlia Putsanra