tirto.id - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pertemuan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan jadi ajang untuk membahas kembali pembelian proyek jet tempur KF-21.
Rencana impor yang telah bergulir sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu nantinya akan ditindaklanjuti Presiden Prabowo Subianto dengan mengirim tim untuk membahas aspek teknis, termasuk sistem pesawat tempur dan permesinannya.
"Bapak Presiden menyampaikan akan segera mengirim tim, baik itu yang sifatnya technical maupun engineering," katanya, dalam keterangan pers kepada awak media, dikutip YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (2/4/2026).
Sebagai informasi, KF-21 adalah proyek pengembangan pesawat tempur generasi 4.5 yang digarap oleh Korea Selatan melalui Korea Aerospace Industries (KAI) bersama Indonesia sebagai mitra sejak awal. Dalam proyek yang sebelumnya dikenal sebagai KF-X/IF-X ini, Indonesia berkomitmen menanggung sekitar 20 persen biaya pengembangan dengan imbalan alih teknologi serta hak produksi terbatas.
Kerja sama ini mencakup pengembangan prototipe hingga produksi massal, dengan target menghadirkan pesawat tempur yang memiliki kemampuan siluman terbatas (semi-stealth), radar canggih, serta sistem avionik modern. Indonesia juga sempat mengirimkan insinyur untuk terlibat langsung dalam proses riset dan pengembangan di Korea Selatan.
Namun, dalam perjalanannya, proyek ini mengalami sejumlah tantangan, mulai dari keterlambatan pembayaran kontribusi Indonesia hingga negosiasi ulang terkait skema pembiayaan dan transfer teknologi. Hal inilah yang membuat realisasi pembelian maupun partisipasi Indonesia dalam proyek tersebut berjalan lebih lambat dari rencana awal.
Pada 25 Maret lalu, KAI telah menggelar upacara peluncuran unit produksi massal pertama di pabriknya di Sacheon, Gyeongsangnam-do. Business Korea melaporkan, apabila kontrak dengan Indonesia terealisasi, KF-21 akan menjadi ekspor perdana sejak program pengembangannya dimulai pada 2015.
Airlangga mengatakan, Kepala Negara berharap proses pembayaran dapat mulai dilakukan bersamaan dengan pengiriman tim dari Indonesia. "Sekaligus juga berharap nanti akan ada pembayaran proyek secara baru, karena ini kan sudah mulai dibahas sejak waktu itu Presidennya Pak SBY, kemudian dilanjutkan Pak Jokowi dan sekarang," lanjutnya.
Meski demikian, ia belum dapat memperinci jumlah unit KF-21 yang akan diboyong oleh Indonesia. "Dan memang ada isu-isu teknis terkait dengan spesifikasi dan yang lain, tetapi harapannya ini akan diselesaikan dengan dikirimnya tim ke sana," tutur dia.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































