tirto.id - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kerangka ekonomi makro yang telah dirancang pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2027. Dalam arsitektur keuangan negara tersebut, Prabowo menargetkan pendapatan negara dapat mencapai Rp3.426,0 triliun, naik dari target APBN 2026 yang sebesar Rp3.153,6 triliun.
Sementara, belanja negara dialokasikan sebesar Rp4.0971,2 triliun, melonjak dari target dalam APBN 2026 senilai Rp3.842,7 triliun.
"Kita fokuskan untuk delapan program kerja prioritas nasional atau PKPN, yaitu: Kedaulatan pangan, Kemandirian energi dan air, Pendidikan, Kesehatan, Hilirisasi dan industrialisasi. Infrastruktur, perumahan, dan ketahanan terhadap bencana," papar Prabowo dalam Pidato Nota Keuangan, di Komplek Parlemen, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2025).
Selain itu, pemerintah juga akan memperkuat ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa, serta penurunan kemiskinan.
“Delapan prioritas tersebut didukung oleh penguatan pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, percepatan digitalisasi, dan diplomasi ekonomi,” tambahnya.
Dengan berbagai program tersebut, defisit APBN dirancang sebesar Rp671,2 trilun atau 2,40 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), dengan ditopang pembiayaan yang inovatif, prudent dan berkelanjutan. Namun, Prabowo berkomitmen untuk menekan defisit agar lebih kecil lagi.
“Kita memahami bahwa defisit yang ideal adalah sekecil-kecilnya, bahkan cita-cita kita adalah anggaran yang berimbang,” tegas dia.
Melalui pengelolaan fiskal yang sehat, disertai dengan efektivitas transformasi ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat, pertumbuhan ekonomi 2027 ditargetkan mencapai 6 persen, dengan inflasi terkendali di kisaran 2,5 persen. Di sisi lain, suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor 10 tahun ditarget berada di kisaran 6,9 persen, nilai tukar berada di kisaran Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kemudian, tingkat pengangguran terbuka tahun 2027 ditargetkan terus turun ke posisi 4,30-4,87 persen, angka kemiskinan diharapkan turun ke level 6,0-6,5 persen, Rasio Gini turun ke angka 0,362-0,367, serta Indeks Modal Manusia sebesar 0,575.
“Angka-angka tersebut akan kita jaga dengan reformasi fiskal yang holistik dan konsisten. Pendapatan negara kita dorong lebih optimal, kebocoran penerimaan harus diminimalisasi, efisiensi belanja harus terus kita lanjutkan, perlindungan sosial didorong semakin tepat sasaran, serta pembiayaan yang inovatif dan berkelanjutan terus dikembangkan,” tukas Prabowo.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































