Debat Perdana Capres-Cawapres

Potret Perang Pendukung Paslon di Media Sosial Saat Debat Capres

Reporter: Andrian Pratama Taher, tirto.id - 14 Des 2023 07:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Para pendukung paslon terlibat perang narasi terkait debat capres di media sosial, seperti X atau Twitter. Bagaimana petanya?
tirto.id - Debat perdana capres pada Selasa (12/12/2023) malam tidak hanya ramai di KPU RI, Jakarta Pusat, tapi juga di dunia maya. Sawala yang diikuti tiga capres, yaitu Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo tersebut juga menghiasi media sosial. Masing-masing pendukung paslon terlibat perang narasi, khususnya di platform X atau Twitter.

Sejumlah momen dibagikan dalam berbagai akun, baik berupa foto, video, hingga perang twit. Hal ini tercermin dalam analisis Drone Emprit saat debat berlangsung pada Selasa (12/12/2023). Drone Emprit berupaya merekam perbincangan di X dari pukul 18.00 hingga 21.30 WIB dengan analisis menggunakan beberapa kata kunci.

Untuk capres Anies Baswedan misal, Drone Emprit menggunakan beberapa kata kunci, yaitu: capres 01, capres 1, paslon 1, hingga nama Anies. Untuk kubu Prabowo pakai kata kunci, yaitu: Prabowo, capres 02, capres 2 maupun paslon 02. Begitu juga dengan kubu Ganjar menggunakan kata kunci: paslon 3, paslon 03, capres 3, dan nama Ganjar.

Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi, menyampaikan bahwa volume percakapan Anies berada di peringkat pertama dengan 48 ribu. Lalu, disusul Prabowo dengan 40 ribu dan Ganjar 21 ribu. Dalam perhitungan share of voice, Anies berada di angka 44 persen, Prabowo 36 persen, dan Ganjar 20 persen. Dalam daftar tersebut, Anies dan Ganjar memiliki paling banyak sentimen positif, sedangkan Prabowo terbanyak dari sentimen negatif.

“Anies dan Ganjar sama-sama mendapat sentimen positif 64%, dan Prabowo hanya 48%. Sedangkan sentimen negatif tertinggi didapat oleh Prabowo 41%, Anies 27%, dan terendah Ganjar 23%,” kata Ismail Fahmi lewat akunt X @ismailfahmi. Tirto mendapat izin untuk mengutip pernyataan dalam utasnya.

Bila dibedah lebih jauh sentimen positif, negatif, dan netral untuk Anies adalah 64 persen, 27 persen, dan 9 persen. Sementara itu, Prabowo adalah 48 persen positif, 41 persen negatif, dan 11 persen netral. Sedangkan Ganjar mendapat angka 64 persen positif, 23 persen negatif, dan 13 persen netral.

Berdasarkan data klaster, setidaknya ada 4 klaster besar, yakni pro-Anies, pro-Ganjar, pro-Prabowo, dan netizen atau akun yang netral. Dalam catatan Fahmi, klaster netral merupakan yang terbesar. Klaster ini memberikan sentimen negatif terbesar ada di kubu Prabowo dan respons positif pada Anies.

“Karena topik pembahasan mereka lebih banyak ke kedua capres tersebut, berakibat posisi mereka di peta SNA berada dekat dengan kedua klaster capres. Ganjar tidak banyak dibahas oleh klaster netral, sehingga posisinya jauh,” kata Fahmi.

Ketika dibagi per paslon, perbincangan kubu Anies adalah perbincangan dengan volume terbesar. Klaster ini berisi pro-Anies dan menyerang Prabowo. Fahmi merekam ada beberapa akun influencer AMIN yakni @Mdy_Asmara1701, @Yurissa_Samosir, @Afutami, @BangPino__, @jilulisme, dan @kikysaputrii.

“Sesuai dengan volume percakapan terkait capres 01 yang paling besar, ukuran klaster pro-Anies juga paling besar di antara ketiga capres, meski tampak lebih kecil dari yang netral. Ini memperlihatkan banyaknya dan militannya akun yang mendukung capres 01,” kata Fahmi.

Di kubu Ganjar, lebih sedikit node besar. Klaster akun ini bukan berbicara soal Ganjar, melainkan membahas Prabowo. “Oleh karena itu, volume percakapan tentang Ganjar jadi paling sedikit, karena top influencer-nya lebih tertarik membahas Prabowo,” kata Fahmi.

Beberapa akun yang berbicara di klaster Ganjar, antara lain: @Afutami, @erasmus70, @nabiylarisfa, @denismalhotra, @jihan_mput55, @GuarEmperor, dan @tirta_cipeng.

Sementara itu, klaster pendukung Prabowo lebih kecil daripada ketiga kandidat lain. Di posisi ini ada @partaisocmed dan @gerindra yang berbicara positif soal Prabowo. Namun, volume perbincangan Prabowo tinggi karena didorong dari dua paslon lain maupun klaster netral.

“Meski ukuran klasternya paling kecil, namun karena banyak dibahas oleh klaster netral dan klaster capres 01 dan 03, akibatnya volume percakapan tentang Prabowo sangat tinggi nomor dua,” kata Fahmi.



Dari sisi emosi, 3 emosi terbesar Anies adalah marah (anger) 1,4k, kaget (surprise) 1,3k, dan sedih (sadness) 1,2k. Unsur sadness terlihat dari saat Anies menyinggung ayah yang mencari keadilan dalam acara debat. Sementara itu, ekspresi anger muncul saat Anies membahas soal polusi dengan data.

Untuk sisi emosi di kubu Prabowo, 3 sentimen terkuat adalah bahagia (joy) 1,9k, kaget (surprise) 962, dan ketakutan (fear) 927. Kasus joy muncul ketika gaya debat Prabowo dikaitkan dengan slogan. Untuk kasus kaget, Fahmi mengutip cuitan Said Didu tentang emosi. Sementara itu, ketakutan dikaitkan dengan ujaran akun Erasmus70 tentang ketakutannya.

Di kubu Ganjar, analisis emosi lebih kuat pada trust 804 konten, joy 566 konten, dan fear 545 konten. Ia mencontohkan trust lewat cuitan rakyat DKI bersatu dukung Ganjar-Mahfud, sementara joy dimunculkan dalam klaim Ganjar bermain aman.

Debat perdana Capres Cawapres
Capres nomor urut satu Anies Baswedan (kanan), Capres nomor urut dua Prabowo Subianto (tengah), Capres nomor urut tiga Ganjar Pranowo (kiri) beradu gagasan dalam debat perdana Capres dan Cawapres 2024 di Gedung KPU, Jakarta, Selasa (12/12/2023). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/app/YU

Apakah Media Sosial Bisa Memengarui Pemilih?

Pegiat media sosial, Enda Nasution, mengatakan media sosial memang sudah punya kekuatan politik karena mampu memengaruhi pemilih sejak 2014. Hal ini tidak lepas dari keberhasilan Jokowi memenangkan pemilu. Ia menilai, wajar muncul gerakan untuk meraih pemilih di media sosial.

“Menurut saya sih yang sekarang pasca-debat pertama ini, kemudian ramai di media sosial sebenarnya expected. Jadi kita bisa prediksi dan ekspektasinya bisa ramai, bahkan harusnya bisa lebih sistematis lagi dari yang sekarang, karena kita sudah sama-sama tahu pasti ramai,” kata Enda kepada reporter Tirto.

Enda mencontohkan, para kandidat tim sukses bisa menggunakan momen sebelum sesi debat berakhir dengan mengeluarkan meme atau tembakan-tembakan. Hal ini tidak lepas dari kemudahan akses untuk melihat video secara langsung.

“Tapi saya melihatnya justru malah kayaknya yang ramai hari ini lebih diskusi atau cuplikan dari beberapa program nonton bareng lewat Youtube channel ya, kemudian banyak disebarkan,” kata Enda.

Enda menambahkan, “Kurang lebih tentu reaksinya adalah masing-masing pendukung akan mencari potongan atau klip yang mendukung calon mereka dan masing-masing pendukung mengklaim dukungan yang menang pada saat debat kemarin, lalu ditambahkan klip-klip atau klip video, potongan video pendek atau meme dari tembakan-tembakan yang dianggap berhasil termasuk pada gesture.”



Enda menilai, video-video tidak keluar melalui timses, melainkan kelompok lain di luar timses resmi. Ia melihat video yang beredar dalam debat dari pihak lain dengan konten video pendek menembak calon lain atau menguatkan dukungan kepada kandidat tertentu yang didukungnya.

“Saya enggak lihat timses susun, yang keluar justru adalah bukan yang resmi, ada yang semacam react. Kan sekarang ada reaction video nonton di laptop, nonton di tv, terus dia sambil ketawa atau apa,” kata Enda.

Menurut Enda, “Tangkapan itu digunakan, dipakai oleh para simpatisan dan relawan di media sosial, tapi ada juga mengkompilasi video tentang debat capres tadi malam. Tapi saya ekspektasinya karena saya merasa harusnya ini sudah dipersiapkan dan bahkan diantisipasi,” tutur Enda.

Enda mencontohkan ada video dengan frame timses atau dibuat konten timses di belakang lewat livestream atau livecomment. Akan tetapi, hal itu tidak dilakukan.

Di sisi lain, Enda sebut, temuan seperti fact checking tidak begitu muncul dalam narasi para pendukung, karena media sudah memainkan porsi tersebut. Akan tetapi, Enda melihat mayoritas lebih banyak video, yang tidak hanya soal capres, melainkan juga menyasar cawapres.

Enda juga menilai, konten media sosial yang dibuat dari debat perdana tidak dikelola oleh timses. Seharusnya, kata dia, timses bisa membuat konten awalan dan menyebarkan langsung atau memotong langsung.

“Yang terjadi mungkin kayak serabutan saja, banyak reaksi publik, banyak yang rekam sendiri, tapi bukan resmi dari timses,” kata Enda.

Enda mengakui keberadaan meme maupun konten berkaitan paslon bisa memengaruhi elektabilitas. Hal ini tidak lepas pengguna media sosial banyak dari anak muda. “Jadi baik itu potongan video klip atau meme atau potongan video yang diulang-ulang atau diberi efek video atau efek suara, saya kira tujuannya untuk anak muda ini,” kata Enda.

Enda menilai, konten dengan efek dramatis, emosional atau memberi kesan kejutan lebih laku bagi pengguna dunia maya. Ia beralasan, informasi berbasis fakta atau program bersaing dengan informasi lain serta orang tidak akan tertarik.

Namun, Enda mendorong agar publik memilih paslon setelah mendengar hasil debat. Ia mendorong publik mau memilih secara rasional dan bisa melihat langsung tanpa editan. “Jadi hasil debat harusnya bisa sangat memengaruhi dan idealnya memang memengaruhi pilihan kita,” kata Enda.


Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz

DarkLight