tirto.id - Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, menyebut konsumsi kelas menengah atas menjadi faktor penting yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12 persen pada kuartal II-2025. Lantara itu lah, menurutnya, hal tersebut tak terefleksikan dalam kehidupan masyarakat secara umum dan banyak mengundang pertanyaan.
Ini, menurut Faisal, terlihat dari lonjakan belanja kelompok berpenghasilan tinggi di sektor makanan-minuman, transportasi, serta restoran dan hotel selama libur Idulfitri.Lalu, transportasi dan komunikasi yang naik dari 6,15 persen menjadi 6,48 persen (yoy) serta restoran dan hotel yang melonjak dari 6,02 persen menjadi 6,77 perse (yoy)
"Pertumbuhan ekonomi yang bersumber dari konsumsi rumah tangga (yang tumbuh 4,97 persen) ini di-drive oleh golongan menengah atas, bukan menengah bawah. Makanya, di kehidupan sehari-hari seperti di jalanan [lapangan], tidak terefleksi," kata Faisal dalam dalam PIER Economic Review 1H2025, Senin (11/8/2025).
Dia menjelaskan, indikator lain seperti penjualan ritel, kepercayaan konsumen, serta penjualan mobil dan motor justru menunjukkan pelemahan. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan belanja hanya terjadi di segmen tertentu.
Sementara itu, belanja pemerintah yang seharusnya mendorong ekonomi riil masih terkendala. Meski ada akselerasi di akhir kuartal II, pengeluarannya baru terasa pada investasi, bukan konsumsi langsung masyarakat.
“Multiplier effect-nya belum terasa karena belanja pemerintah baru meningkat signifikan di akhir Juni," tambah Faisal.
Menteri Keuangan Sri Mulyani pun baru akan menggenjot belanja di enam bulan sisa 2025. Dia mengungkapkan dalam enam bulan ini akan menggelontorkan Rp2.121 triliun dalam upaya mendorong belanja yang berkualitas dan memiliki efek berganda pada perekonomian nasional.
Merespons hal itu, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menekankan pentingnya belanja pemerintah difokuskan pada sektor yang berdampak luas, seperti pertanian, manufaktur, dan perdagangan.
Menurutnya, tanpa intervensi yang lebih inklusif, pertumbuhan ekonomi berpotensi tetap terkonsentrasi di kalangan tertentu, sementara masyarakat menengah ke bawah belum merasakan dampak signifikan.
"Program seperti bantuan sosial (bansos) dan stimulus fiskal harus lebih tepat sasar agar pertumbuhan benar-benar dinikmati seluruh lapisan masyarakat," ujarnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id



































