tirto.id - Kebahagiaan terpancar di raut wajah Ramlah Sija (53) setelah impiannya ke Baitullah terpenuhi usai menunggu 15 tahun. Ia merupakan single parent yang membesarkan tiga anaknya seorang diri. Perempuan asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, ini adalah sosok pekerja keras. Ia membanting tulang siang dan malam demi sang anak serta impian berhaji.
Ramlah mengaku kehidupannya tidak selalu mudah. Setelah sang suami meninggal dunia pada 2007, ia harus mengambil alih peran sebagai kepala keluarga. Saat itu, ketiga anaknya masih kecil dan masih membutuhkan biaya hidup maupun pendidikan.
“Waktu suami meninggal, anak-anak saya masih kecil. Yang paling besar baru umur 13 tahun, yang kecil baru tiga tahun. Jadi saya harus kuat, karena saya bukan hanya ibu rumah tangga, tapi juga harus jadi kepala keluarga,” kata Ramlah.
Demi menghidupi keluarga, Ramlah melanjutkan usaha batu bata peninggalan suaminya. Namun, karena pekerjaan itu cukup berat, ia kemudian mencoba profesi baru sebagai sales peralatan elektronik rumah tangga. Selama kurang lebih 13 tahun, ia menjalani pekerjaannya setiap hari. Ramlah berkeliling dari kampung ke kampung, bahkan hingga wilayah Jeneponto yang memakan waktu berjam-jam perjalanan.
“Saya keliling jual elektronik dari pagi sampai sore, kadang sampai malam. Kalau rezeki bagus, sehari bisa jual lima unit. Tapi kalau tidak laku, ya sabar, besok coba lagi,” kata dia mengenang perjuangannya.
Di tengah perjuangan ekonomi, keinginan untuk berhaji mulai tumbuh. Apalagi sebelum wafat, suaminya sempat berpesan agar ia menggunakan aset keluarga untuk mendaftar haji.
“Suami saya pernah bilang, kalau ada rezeki, sawah itu dipakai saja untuk daftar haji. Pesan itu terus saya ingat,” tutur Ramlah.
Empat tahun setelah sang suami wafat, tepatnya pada 2011, Ramlah memberanikan diri mendaftar haji dengan menjual dan menggadaikan aset yang dimilikinya. Meski saat itu dirinya sempat merasa tidak mampu.
“Waktu itu saya berpikir, orang seperti saya apa bisa berhaji? Dari mana uangnya? Tapi saya bilang sama diri sendiri, kita berusaha saja sambil berdoa. Kalau Allah menghendaki, pasti ada jalannya,” kata dia.
Setelah mendaftar, Ramlah kembali menjalani hidup seperti biasa. Ia terus bekerja, membesarkan anak-anak, dan menyekolahkan mereka hingga perguruan tinggi.
Lima belas tahun menunggu, panggilan itu akhirnya datang. Ramlah menjadi salah satu dhuyufurrahman yang memenuhi panggilan Allah tahun ini. Ia bagian dari 203.320 haji reguler Indonesia yang diberangkatkan tahun ini.
Uniknya, Ramlah bahkan sempat tidak tahu bahwa namanya sudah masuk daftar keberangkatan. Ia sempat dicari orang sekampung dan diberi tahu kalau tahun ini ia bisa berangkat ke Tanah Suci setelah penantian panjang.
“Waktu dapat kabar itu, rasanya campur aduk: senang, terharu, tidak percaya. Karena ini penantian 15 tahun,” kata Ramlah dengan mata berkaca-kaca.
Kini, setelah tiba di Tanah Suci dan menjalani umrah wajib, Ramlah mengaku hanya membawa satu harapan besar, yaitu mendoakan anak-anaknya dan keluarganya.
“Doa saya banyak. Minta kesehatan, keselamatan, umur yang berkah, rezeki yang baik, dan semoga anak-anak saya semua dapat jodoh terbaik. Namanya ibu, pasti selalu mendoakan anak-anaknya,” kata dia.
Kisah Ramlah menjadi potret nyata bahwa keterbatasan ekonomi dan beratnya hidup bukan penghalang untuk meraih panggilan ke Baitullah. Dengan kerja keras, kesabaran, dan doa, impian yang tampak jauh pun akhirnya bisa menjadi nyata.
Kini, Ramlah tinggal menunggu puncak haji yang akan digelar pada 9 Dzulhijjah di Arafah. Ia akan wukuf bersama jutaan umat Islam dari seluruh dunia, lalu mabit di Muzdalifah sebelum ke Mina untuk melempar jumrah. Labbaik Allahumma labbaik.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Alfitra Akbar
Masuk tirto.id


































