tirto.id - Masjidil Haram mulai padat, terutama di jam-jam salat berjamaah. Tak hanya jemaah Indonesia, tapi jemaah dari seluruh dunia. Situasi ini membuat Tim Seksi Khusus (Seksus) Masjidil Haram Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja (Daker) Makkah mesti bekerja lebih ekstra.
Sejak kedatangan gelombang pertama jemaah haji Indonesia dari Madinah pada 30 April 2026, Seksus Haram terus bergerak aktif melakukan langkah antisipasi. Sebab, berdasarkan pantauan di lapangan, tak hanya jemaah Indonesia yang minta bantuan, tapi jemaah dari negara lain pun seringkali mengandalkan petugas PPIH. Rerata dari mereka bertanya soal jalan menuju terminal.
Seksus Haram dibentuk oleh PPIH Arab Saudi untuk melayani dhuyufurrahman. Mereka disiagakan di sejumlah titik krusial di area pelataran Masjidil Haram. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya perlindungan jemaah, khususnya dalam menangani kasus jemaah yang terpisah dari rombongan.
Kehadiran Seksus Haram menjadi bukti bahwa PPIH tidak hanya fokus pada layanan akomodasi, konsumsi, dan transportasi, tetapi juga memberikan pendampingan langsung bagi jemaah yang mengalami kendala di lapangan.
Pendampingan dilakukan secara cepat dan terkoordinasi, mulai dari penelusuran identitas jemaah hingga pengantaran kembali ke kloter masing-masing melalui terminal bus yang telah ditentukan.
Berdasarkan pantauan Media Center Haji (MCH) pada Rabu (6/5/2026) pagi, ribuan jemaah dari berbagai negara, termasuk Indonesia, memadati Masjidil Haram. Sebagian melaksanakan umrah wajib sementara lainnya menjalankan salat sunnah. Ada juga yang sekadar ingin menikmati suasana Tanah Suci.
Di tengah kepadatan tersebut, sejumlah jemaah dilaporkan terpisah dari rombongan dan kebingungan mencari arah kembali ke hotel. Menerima laporan itu, tim Seksus langsung bergerak cepat memberikan bantuan dan pendampingan.
“Pagi ini kami didatangi jemaah yang melaporkan kehilangan rombongan. Ada juga yang ketinggalan barang. Semuanya sudah kami tangani,” kata anggota Tim Seksus Masjidil Haram, dokter Irwan Mustafa.
Menurut Irwan, tim sengaja disebar di berbagai titik strategis agar mudah dijangkau jemaah yang membutuhkan bantuan.
“Petugas menyebar,” kata dia.

Saya beberapa kali juga mengalaminya. Saat turun dari bus di terminal dekat Masjidil Haram, selalu ada jemaah yang butuh bantuan. Rata-rata mereka tidak ngerti arah pulang, kecapean, bahkan kehilangan atau ketinggalan barang bawaan.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id































