Menuju konten utama

Pesan Mardijiyono, Jemaah Haji Usia 103 Tahun: Selalu Gembira

Mbah Mardijiyono asal Bantul, DIY, tercatat sebagai jemaah haji tertua tahun ini dalam rombongan gelombang pertama.

Pesan Mardijiyono, Jemaah Haji Usia 103 Tahun: Selalu Gembira
Mardijiyono Karto Sentono (103 tahun), jemaah haji tertua asal Karanganom Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang tergabung dalam kloter YIA 9. Foto/Tim MCH 2026
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jemaah haji Indonesia gelombang pertama terus berdatangan di Madinah sejak 22 April lalu. Per hari ini, total jemaah yang sudah tiba di Arab Saudi mencapai 77.269 jemaah. Sebagian dari jemaah haji sudah didorong ke Makkah, jumlahnya 20.098 jemaah.

Salah satu dari puluhan ribu jemaah tersebut, ada Mardijiyono Karto Sentono, jemaah haji asal Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pria berusia 103 tahun tersebut tergabung dalam kloter 9 dari Embarkasi YIA.

Pria kelahiran 1923 ini tercatat sebagai jemaah haji tertua dalam rombongan gelombang pertama tahun ini. Meski kulitnya keriput dimakan usia, semangat Mbah Mardijiyono seolah tak pernah padam.

Luar biasanya, di usia satu abad lebih, ia masih menunjukkan kemandirian yang mengagumkan. Untuk urusan mandi, berjalan, hingga melaksanakan ibadah harian, ia melakukannya sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan orang lain.

Meskipun untuk berjalan tetap harus menggunakan alat bantu berupa kruk. Untuk salat juga harus dilakukan sembari duduk.

Meski begitu, Mbah Mardijiyono tetap saja terlihat masih cukup segar untuk usianya yang sudah satu abad lebih. Apalagi, perjalanan panjang dari tanah air menuju tanah suci seakan tidak terlihat begitu melelahkan baginya.

Saat ditanya mengenai rahasia kebugaran dan panjang umurnya, mantan petani ini memberikan jawaban yang sederhana, tapi mendalam. Baginya, kunci utama adalah pengelolaan hati.

“Kuncinya selalu merasa gembira. Apa pun yang terjadi dalam hidup, dihadapi dengan hati yang senang,” ungkap Mbah Mardijiyono.

Keteguhan hatinya pun diuji saat ia harus berangkat ke Tanah Suci seorang diri. Sedianya, ia berencana menunaikan ibadah haji bersama sang istri. Namun, takdir berkata lain, sang istri telah lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa.

Meski raga sang istri tak lagi mendampingi, niat kakek yang memiliki delapan orang anak ini tidak goyah untuk menuntaskan rukun Islam kelima ini.

Keteguhan niat Mbah Mardijiyono memancing rasa haru dari pihak penyelenggara. Dalam menjalankan ibadah, ia bakal didampingi oleh petugas atau pendamping dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) serta petugas daerah.

Kepala Daerah Kerja (Dakker) Madinah, Khalilurrahman, mengaku sangat tersentuh melihat semangat kakek asal Bantul tersebut.

“Di usia yang sangat lanjut, semangat beliau menjadi contoh nyata keteguhan niat seorang hamba. Ini adalah inspirasi bagi kita semua,” kata dia.

Sebagai bentuk perlindungan, Khalilurrahman telah menginstruksikan secara khusus kepada petugas PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) untuk memberikan pendampingan penuh selama di Tanah Suci. Ia juga akan memastikan kondisi kesehatan terpantau secara berkala.

“Tanggung jawab kita, semua petugas haji, ialah melayani mereka yang butuh pendampingan. Termasuk kepada semua jemaah haji Indonesia agar ibadahnya berjalan lancar, aman dan nyaman. Kembali ke tanah air dalam keadaan sehat dan haji yang mabrur,” kata dia.

Kini, impian lama Mbah Mardijiyono untuk bersujud di Masjid Nabawi dan kelak di Masjidil Haram akhirnya tertunaikan. Perjalanan panjang dari Piyungan menuju Madinah menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik dan usia bukanlah penghalang selama ada niat dan doa yang kuat.

Kisah Mbah Mardijiyono bukan sekadar catatan perjalanan haji, melainkan simbol dedikasi dan pengabdian seorang hamba yang tak lekang oleh waktu. Ia mengajarkan kita bahwa dengan hati yang gembira dan niat yang tulus, pintu menuju rumah Allah akan selalu terbuka lebar.

Baca juga artikel terkait HAJI 2026 atau tulisan lainnya dari Abdul Aziz

tirto.id - Flash News
Reporter: Abdul Aziz
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Bayu Septianto