Menuju konten utama

Perjalanan Panjang Kacang Arab hingga Jadi Oleh-oleh Haji

Sering dapat kacang arab sebagai oleh-oleh haji? Yuk, ketahui sejarah penyebarannya di dunia, kandungan nutrisi, hingga manfaatnya bagi kesehatan tubuh.

Perjalanan Panjang Kacang Arab hingga Jadi Oleh-oleh Haji
ilustrasi kacang arab. foto/istockphoto

tirto.id - Kacang arab termasuk jenis polong-polongan yang punya tekstur renyah dan rasa yang unik. Tak hanya enak, kandungan kacang arab ternyata juga baik untuk kesehatan. Di sini, kita akan menelusuri sejarah kacang arab yang tumbuh di Timur Tengah hingga identik sebagai oleh-oleh haji di Indonesia.

Kacang arab atau chickpea memiliki bentuk kecil, agak bulat, dan biasanya berwarna krem kekuningan. Selain air zam-zam dan kurma, kacang arab juga kerap dijadikan buah tangan oleh mereka yang baru melaksanakan haji di Tanah Suci.

Di Indonesia, kacang arab yang disajikan sebagai oleh-oleh haji umumnya dimakan langsung sebagai camilan. Di negara lain, kacang arab bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan, baik sebagai hidangan utama maupun pelengkap.

Setelah direndam dan direbus hingga empuk, kacang ini sering dicampurkan ke dalam salad, sup, atau kari untuk menambah tekstur dan kandungan protein.

Di kawasan Timur Tengah, kacang arab sering diolah menjadi hummus, yaitu pasta dari chickpea yang dihaluskan bersama bahan-bahan lainnya, termasuk tahini, minyak zaitun, dan bumbu-bumbu khusus. Kacang arab juga bisa dibuat falafel, bola-bola kacang berbumbu yang digoreng hingga renyah.

Lantas, bagaimana asal-usul atau sejarah kacang arab ini? Apakah kacang arab memang berasal dari Tanah Suci? Simak penjelasannya di bawah ini.

Sejarah Kacang Arab dan Perjalanannya

Pasar kaget di kompleks hotel jamaah calon haji Indonesia

Ilustrasi kacang arab sebagai oleh-oleh haji. ANTARA FOTO/Andika Wahyu/YU

Kacang arab (Cicer arietinum L.) merupakan tanaman polong-polongan dari famili Fabaceae yang termasuk salah satu komoditas legum terpenting di dunia. Tanaman ini dikenal dengan berbagai nama di berbagai negara, seperti garbanzo, chana, gram, hingga nohut.

Menurut Redden dan Berger (2007) dalam buku Chickpea Breeding and Management, kacang arab atau chickpea diperkirakan didomestikasi sekitar 12.000–10.000 tahun yang lalu di kawasan Fertile Crescent yang membentang dari Iran barat hingga Turki tenggara.

Bukti arkeologis menunjukkan bahwa kacang arab telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan sejak milenium ke-8 SM di wilayah Suriah dan Turki.

Temuan di Tell el-Kerkh menjadi salah satu bukti tertua yang mengidentifikasi adanya kacang arab budidaya (Cicer arietinum) beserta jenis yang liar (Cicer reticulatum). Dari sini, lokasi tersebut dianggap sebagai salah satu pusat awal budi daya kacang arab.

Para peneliti memperkirakan bahwa kacang arab kemungkinan besar pertama kali didomestikasi di wilayah tenggara Anatolia (kini termasuk wilayah Turki) dan kawasan Mediterania Timur.

Seiring waktu, budi daya kacang arab meluas ke berbagai belahan dunia, termasuk ke wilayah Yunani, Kreta, Mesir hulu, Irak, anak benua India (seperti Pakistan dan India modern), sampai ke wilayah Asia Selatan dan Barat.

Sementara itu, kacang ini mulai diperkenalkan di Amerika oleh bangsa Spanyol dan Portugis pada abad ke-16 M. Selanjutnya, kacang arab tipe kabuli masuk ke India melalui Jalur Sutra di abad ke-18, sedangkan jenis desi diperkirakan dibawa ke Kenya oleh migran India pada akhir abad ke-19.

Berawal dari kawasan Fertile Crescent, kacang arab akhirnya dikenal oleh seluruh dunia melalui persebarannya ke berbagai negara. Di Indonesia, bahan makanan yang satu ini justru lebih dikenal sebagai kacang arab.

Meski asal-usul kacang ini tidak berasal dari Arab Saudi, nama ini muncul karena kacang tersebut sering dibawa pulang oleh jemaah haji maupun umrah sebagai oleh-oleh dari Tanah Suci.

Kandungan dan Manfaat Kacang Arab

 ilustrasi kacang arab

ilustrasi kacang arab. foto/istockphoto

Selain rasanya yang enak, kacang arab yang sering dijadikan oleh-oleh haji ini ternyata juga mengandung banyak nutrisi menyehatkan, termasuk menjadi sumber protein yang baik. Dikutip dari situs Healthline, berikut kandungan nutrisi 1 cup (164 gram) kacang arab yang sudah dimasak/matang:

  • Kalori: 269 kkal
  • Protein: 14,5 gram
  • Lemak: 4 gram
  • Karbohidrat: 45 gram
  • Serat: 12,5 gram
  • Mangan: 74% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian
  • Folat (vitamin B9): 71% AKG
  • Tembaga: 64% AKG
  • Zat besi: 26% AKG
  • Seng (zinc): 23% AKG
  • Fosfor: 22% AKG
  • Magnesium: 19% AKG
  • Tiamin (vitamin B1): 16% AKG
  • Vitamin B6: 13% AKG
  • Selenium: 11% AKG
  • Kalium: 10% AKG

Manfaat Kacang Arab bagi Kesehatan

Ada banyak studi ilmiah yang sudah membuktikan bahwa kacang arab memiliki sederet manfaat bagi kesehatan. Mulai dari mendukung kehamilan hingga berpotensi mencegah kanker, berikut beberapa manfaat kacang arab yang patut diketahui:

1. Sumber Folat (Vitamin B9) yang Baik untuk Kehamilan

Kacang arab diketahui sebagai salah satu sumber alami folat (vitamin B9). Folat sendiri sangat dibutuhkan oleh wanita hamil karena berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin, terutama di masa awal kehamilan.

Pemenuhan kebutuhan folat sejak sebelum pembuahan hingga selama masa kehamilan dapat membantu menurunkan risiko terjadinya cacat tabung saraf pada bayi, termasuk kondisi seperti spina bifida dan anencephaly.

2. Menyehatkan Saluran Cerna

Jurnal The Nutritional Value and Health Benefits of Chickpeas and Hummus menjelaskan bahwa kacang arab kaya akan serat pangan yang bermanfaat bagi saluran pencernaan. Menambahkan kacang arab maupun hummus ke dalam menu makanan dapat meningkatkan asupan serat.

Kacang arab bisa membantu melancarkan buang air besar, meningkatkan frekuensi buang air besar, mempermudah proses defekasi, serta menghasilkan tekstur feses yang lebih lunak dibandingkan pola makan biasa.

3. Menurunkan Kolesterol dan Menyehatkan Jantung

Merujuk jurnal Nutritional Quality and Health Benefits of Chickpea (Cicer arietinum L.): A Review, kacang arab berpotensi membantu menjaga kesehatan jantung dan mengontrol kadar kolesterol berkat kandungan fiber, fitosterol, saponin, asam lemak tak jenuh ganda, serta senyawa bioaktif lainnya.

Serat larut dapat membantu menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL (kolesterol jahat). Meskipun mengandung lemak tingi, sebagian besar lemak tersebut berupa asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) yang terbukti bermanfaat bagi sensitivitas insulin dan kesehatan lipid darah.

Kacang arab juga diperkaya oleh senyawa bioaktif penting seperti isoflavon, polifenol, saponin, serta fitosterol yang bekerja menghambat penyerapan kolesterol di usus atau membuangnya melalui feses.

4. Menurunkan Berat Badan

Masih dari jurnal yang sama, kacang arab yang kaya akan serat pangan dan memiliki indeks glikemik (GI) rendah terbukti berkaitan erat dengan penurunan indeks massa tubuh (BMI) dan efektivitas program penurunan berat badan.

Serat yang tinggi membuat makanan membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna sehingga memberikan efek kenyang lebih cepat serta bertahan lebih lama setelah makan.

Pangan rendah GI juga mampu meningkatkan kolesistokinin (peptida gastrointestinal penekan rasa lapar), merangsang rasa kenyang, serta menurunkan kadar insulin tubuh yang secara keseluruhan sangat membantu dalam menangani obesitas.

 ilustrasi kacang arab

ilustrasi kacang arab. foto/istockphoto

5. Mencegah Kanker

Manfaat kacang arab lainnya adalah berpotensi besar dalam menurunkan risiko berbagai jenis kanker. Fermentasi serat kacang arab di usus menghasilkan asam butirat, asam lemak rantai pendek yang dapat menghambat pertumbuhan sel abnormal dan memicu apoptosis sehingga mengurangi risiko kanker kolorektal.

Selain itu, kandungan senyawa aktif seperti beta sitosterol, saponin, dan inhibitor protease dalam kacang arab juga diketahui memiliki aktivitas antikanker.

Senyawa lain seperti likopen, karotenoid, isoflavon biochanin A, dan serat kulit biji kacang arab juga menunjukkan efek protektif terhadap kanker melalui aktivitas antioksidan, penghambatan pertumbuhan sel tumor, serta perlindungan terhadap kerusakan DNA akibat senyawa karsinogen.

6. Mencegah dan Mengelola Diabetes Tipe 2

Jurnal berjudul An Insight into Chickpea-Derived Secondary Metabolites as Functional and Nutraceutical Agents against Diabetes menyebutkan bahwa kacang arab mengandung polifenol dan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan dan berpotensi membantu menjaga kesehatan metabolik.

Selain itu, kacang arab memiliki indeks glikemik rendah yang dapat membantu menjaga kenaikan kadar gula darah berlangsung lebih lambat setelah makan.

Berbagai senyawa bioaktif di dalamnya diduga berperan dalam mendukung kerja insulin dan menghambat enzim yang memecah karbohidrat menjadi gula sederhana. Ini berpotensi memperlambat penyerapan glukosa dan membantu pengelolaan kadar gula darah.

7. Menurunkan Tekanan Darah

Kacang arab juga dapat membantu menjaga tekanan darah tetap sehat berkat kandungan asam linoleat dan beta sitosterol di dalamnya. Asam linoleat, yang merupakan asam lemak tak jenuh ganda, berperan dalam pembentukan prostaglandin.

Prostaglandin sendiri berfungsi mengendurkan konstriksi otot polos sehingga bisa menurunkan tekanan darah. Di sisi lain, beta sitosterol juga dapat membantu menurunkan tekanan darah sehingga kacang arab dapat dijadikan menu sehat untuk mendukung kesehatan kardiovaskular.

8. Potensi Manfaat Kesehatan Lain dari Kacang Arab

Selain manfaat yang sudah disebutkan di atas, kacang arab masih memiliki potensi manfaat lain bagi kesehatan. Kacang arab mengandung banyak senyawa bioaktif seperti fitosterol, tokofenol, tokotrienol, dan karotenoid yang berpotensi memberikan beragam manfaat bagi tubuh.

Fitosterol, misalnya, memiliki sifat antibakteri, antijamur, antitumor, sekaligus anti-inflamasi. Beberapa jenis fitosterol juga memiliki aktivitas antioksidan yang tetap stabil pada suhu tinggi sehingga berpotensi melindungi tubuh dari kerusakan sel akibat radikal bebas.

Kandungan karotenoid seperti lutein, zeaxantin, dan beta karoten pada kacang arab juga diyakini berperan dalam menjaga kesehatan mata dan sistem kekebalan tubuh. Namun, sebagian manfaat tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui uji klinis pada manusia.

Selain manfaat yang didukung penelitian modern, kacang arab sebenarnya telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional di berbagai negara sebagai tonik dan obat herbal.

Dalam pengobatan Ayurveda maupun pengobatan tradisional masyarakat Uygur di Tiongkok, kacang arab digunakan untuk membantu mengatasi berbagai keluhan seperti gangguan tenggorokan, bronkitis, penyakit kulit, gangguan hati dan empedu, infeksi telinga, hipertensi, diabetes, hingga cacingan.

Meski demikian, penggunaan tradisional tersebut masih memerlukan penelitian ilmiah lebih lanjut untuk membuktikan efektivitas maupun keamanannya.

Itulah ragam informasi tentang kacang arab, mulai dari asal-usul, sejarah penyebaran, kandungan gizi, hingga berbagai manfaatnya bagi kesehatan. Dengan rasa yang khas dan kandungan nutrisi melimpah, kacang arab dapat menjadi salah satu pilihan bahan pangan bergizi untuk melengkapi pola makan seimbang dan mendukung gaya hidup sehat.

Temukan berbagai tips, rekomendasi produk pilihan, hingga berita terkini seputar dunia kesehatan melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel Kesehatan

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani