Menuju konten utama

Perbedaan Hasil Autopsi Juliana Marins di Indonesia dan Brasil

Perbedaan hasil autopsi jenazah Juliana Marins di Indonesia dan hasil autopsi lanjutan di Brasil.

Perbedaan Hasil Autopsi Juliana Marins di Indonesia dan Brasil
Juliana Marins. instagram/Juliana Marins

tirto.id - Hasil autopsi kedua Juliana Marins di Brasil menyatakan ia masih hidup selama 32 jam sebelum meninggal. Hasil ini tentu berbeda dengan autopsi di Indonesia.

Sebelumnya, hasil autopsi Juliana Marins di Rumah Sakit Denpasar menunjukkan bahwa ia meninggal antara 15—30 menit setelah badannya terhempas di bebatuan gunung akibat kerusakan organ dan patah tulang yang parah.

Autopsi kemudian dilakukan kembali di Brasil untuk yang kedua kali. Hal ini katanya bertujuan untuk mengetahui kondisi Juliana Marins.

Juliana Marins lantas disebut masih bertahan hidup selama 32 jam. Keterangan tersebut disampaikan dalam konferensi pers oleh pihak keluarga bersama para ahli forensik di Brasil pada hari Jumat, 11 Juli 2025.

Hasil Autopsi Kedua Juliana Marins di Brasil

Mengutip laman media setempat, G1 Globo, waktu kematian Juliana Marins diperkirakan melalui analisis larva yang ditemukan di kulit kepala.

Hal ini sebagaimana disampaikan Reginaldo Franklin, ahli forensik dari Kepolisian Sipil Brasil. "Tanggal 22 (waktu Indonesia) ditambah 15 menit: saat kematian Juliana Marins. Ia bertahan hidup sekitar 32 jam," ungkap Franklin.

Franklin juga menambahkan, Marins sudah meninggal pada pertengahan hari itu, sekitar pukul 12.00 siang waktu Indonesia.

Sementara itu, di hasil autopsi pertama di Brasil, Tim Kedokteran Forensik Brasil mengungkapkan bahwa Marins tewas akibat benturan keras setelah terjatuh. Ada pendarahan internal karena cedera pada organ vital.

Berdasarkan laporan TV Globo, para ahli memperkirakan Marins hidup sekitar 10—15 menit setelah terjatuh. Tidak ada kemungkinan korban dapat bergerak atau memberikan respons yang efektif.

Kemudian, menurut Kepolisian Sipil, dokumen hasil autopsi disertakan dalam kasus pengadilan yang sedang berlangsung dan masih dirahasiakan. Hasil autopsi menunjukkan Marins mengalami interval stres intens dan kegagalan organisme progresif atau yang disebut sebagai “periode agonal” dalam dokumen kepolisian sipil tersebut.

Adapun periode agonal merupakan fase antara trauma dan kematian. Ini ditandai dengan stres ekstrem dan kegagalan organ progresif. Meskipun luka-luka Marins dianggap fatal, para ahli yakin ia mengalami penderitaan selama beberapa menit sebelum meninggal.

Namun, terdapat perkembangan terkait hasil autopsi jenazahJuliana Marins untuk yang kedua kali. Sebagaimana dijelaskan G1 Globo, Marins diperkirakan masih hidup selama sekitar 32 jam.

Menurut Mariana Marins, saudara Juliana Marins, saat jatuh pertama kali, Marins dikatakan turun sekitar 220 meter. Ia meluncur 61 meter ke sebuah tebing berbatu.

Sementara Reginaldo Franklin berpendapat bahwa temuan beberapa larva di kulit kepala Marins memungkinkan perkiraan waktu kematian berdasarkan biologi serangga tersebut. Inilah yang mendasari perkiraan Juliana Marins sebenarnya masih hidup hingga 32 jam.

Selain itu, Nelson Massini, seorang ahli swasta yang juga mendampingi penyelidikan, mencatat bahwa Marins mungkin saja telah mengalami cedera paha saat terjatuh pertama kali.

Marins diperkirakan tergelincir keluar jalur sejauh 60 meter dan terus terjatuh sejauh 220 meter dari jalur hingga dianggap sebagai jatuh pertama. Kemudian, ia meluncur lagi sejauh 60 meter dan jatuh untuk kedua kalinya.

Dari jatuh kedua tersebut, ia bertahan hidup selama 15 menit dalam kesakitan hingga akhirnya meninggal. Kemudian, ia terus jatuh hingga titik terakhir tempat ditemukan, yakni 650 meter di kedalaman.

Perbedaan Hasil Autopsi Juliana Marins di Indonesia dan Brasil

Sebelum dibawa ke Brasil, jenazah Juliana Marins sempat diautopsi di RS Bali Mandara, Denpasar, Bali. Ida Bagus Putu Alit, dokter forensik RS, memperkirakan bahwa Marins hanya bertahan hidup selama 20 menit setelah jatuh ke jurang. Ini karena ia mengalami luka parah dan pendarahan akibat benturan keras di sekujur tubuhnya.

“Kita memang menemukan adanya luka-luka pada seluruh tubuh korban, terutama yang ada adalah luka lecet geser. Kemudian, kita juga menemukan adanya patah tulang, terutama di daerah dada, bagian belakang, juga tulang punggung dan paha. Dari patah tulang inilah terjadi kerusakan pada organ-organ dalam serta pendarahan,” ungkap Alit saat konferensi pers pasca-autopsi, Jumat, 27 Juni 2025.

Ia juga mengungkapkan, luka terparah ada di bagian dada, terutama daerah dada bagian belakang dan punggung. Luka itulah yang merusak organ-organ di dalamnya.

Selain itu, terjadi akumulasi pengaruh kekerasan dari benturan dalam tubuh Marins akibat terjatuh. Kendati demikian, tubuh Marins utuh dan tidak ada bagian yang mengalami fragmentasi.

“Tidak ada bukti yang kita dapatkan bahwa korban ini meninggal dalam waktu yang lama dari lukanya. Di otak tidak ada hernia (tonjolan abnormal), kemudian juga spleen (limpa) tidak mengerut. Artinya, masih menyimpan darah. Berarti disimpulkan tidak ditemukan adanya tanda-tanda orang ini meninggal dalam jangka waktu yang lama dari lukanya,” tegas Alit.

Dari keterangan yang diperoleh dari hasil autopsi di Indonesia dan dua hasil autopsi di Brasil, terdapat perbedaan terkait lama waktu Marins bertahan hidup sebelum meninggal.

Namun, pihak Kepolisian Sipil Brasil mengakui kondisi jenazah yang telah dibalsem menghambat beberapa analisis, seperti memperkirakan waktu kematian dan memverifikasi tanda-tanda klinis yang lebih halus.

Marins dalam hasil autopsi kedua di Brasil disebut meninggal akibat beberapa trauma akibat jatuh. Penyebab langsung kematian adalah pendarahan internal akibat cedera poliviseral dan beberapa trauma yang konsisten dengan benturan berenergi tinggi.

Pada konferensi pers terakhir, Jumat, 11 Juli 2025 lalu, Reginaldo Franklin juga sempat menjelaskan kesulitan dalam menganalisis hasil autopsi tersebut.

“(Itu) autopsi kedua dan autopsi yang sepenuhnya terkontaminasi dalam arti teknis. Organ-organnya praktis sudah tidak berdarah dan pucat, dan tentu saja, proses pembalseman dengan formalin diperlukan. Memang ada kerusakan, tetapi formalin memungkinkan kami untuk mengawetkan luka luar dan organ dalam," kata Franklin.

"Ia mengalami beberapa luka, akibat trauma tumpul, benturan dengan permukaan yang tidak rata, dan abrasi akibat terseret dan terpeleset. Ia mengalami memar di tengkoraknya, yang menyebabkan pendarahan di dalam kepalanya.

"Ada luka di dahinya dan tulang rusuknya patah. Salah satunya menembus pleura paru-paru, berkembang menjadi pneumotoraks, dan dengan demikian, paru-parunya rusak dan ia mengalami pendarahan," jelasnya.

Baca juga artikel terkait TRENDING TOPIC atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - Edusains
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo