Menuju konten utama

Pemerintah Monitor Dampak Bencana Sumatra Terhadap Ekonomi RI

Saat ini pemerintah tengah berfokus untuk melakukan upaya-upaya tanggap darurat.

Pemerintah Monitor Dampak Bencana Sumatra Terhadap Ekonomi RI
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan paparannya saat pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia 2025 di Jakarta, Senin (1/12/2025). ANTARA FOTO/Fauzan/agr

tirto.id - Pemerintah masih memonitor dampak bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan longsor yang terjadi di tiga provinsi, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh. Penghitungan dampak terhadap perekonomian nasional tersebut belum bisa dilakukan karena saat ini pemerintah tengah berfokus untuk melakukan upaya-upaya tanggap darurat.

“Belum (ada proyeksi dampak bencana ke perekonomian). Kita masih monitor, tanggap darurat dulu ya,” kata Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, kepada awak media, di selasar Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Rabu (3/12/2025).

Karena itu, Airlangga mengaku pemerintah belum berencana menyesuaikan target pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal IV 2025 maupun untuk sepanjang 2025. Hingga kini pertumbuhan ekonomi di kuartal IV dan 2025 secara keseluruhan, masing-masing masih diperkirakan akan tumbuh di kisaran 5,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan 5,2 persen (yoy).

“Belum, belum ada (perubahan target). Masih kita lihat, ya (dampak ke pertumbuhan ekonomi kuartal IV dan sepanjang 2025),” sambungnya.

Sementara itu, sebelumnya tim ekonom Bank Mandiri memperkirakan, bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh akan menurunkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,08-0,12 persen poin. Sehingga, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 yang diperkirakan Perseroan akan tumbuh di level 5,08 persen berpotensi menyusut.

“Kalau kita lihat dampak banjir di Sumatra ya (dan Aceh), terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) itu kalau one-off event-nya ini sendiri itu perkiraannya antara minus 0,08-0,12 percentage point. Jadi, kalau kita lihat ekspektasi (pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025) di 5,1 persen pertumbuhan ekonomi, ya memang ada downside risk-nya,” ujar Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, dalam konferensi pers secara daring, Rabu (3/12/2025).

Meski begitu, dampak pasti dari bencana hidrometeorologi ini baru akan terlihat pada pertengahan bulan. Tidak hanya itu, hitungan dampak bencana di tiga provinsi juga akan terus bergulir karena bencana beru saja terjadi.

“Dan kalau dilihat dari, ini kalkulasinya tentu saja rolling terus ya, karena kan memang kejadiannya baru dan tentunya memang estimasi dari dampak terhadap ekonominya akan sangat terus di-update ya,” sambung Asmo, sapaan Andry Asmoro.

Sementara itu, jika dilihat dari bencana-bencana nasional yang terjadi sebelumnya, seperti gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Selatan pada 2018 lalu, kerugian negara yang harus ditanggung negara adalah sekitar Rp15-Rp22 triliun. Kemudian, dampak gempa Lombok di tahun yang sama diperkirakan mencapai Rp5-Rp7,7 triliun.

“Kalau estimasi awal kami, roughly dari data yang ada, untuk data ini ya, dampak yang terakhir yaitu banjir bandang di tiga provinsi itu sekitar Rp32,6 triliun. Tentu saja ini datanya terus bergulir dan terus berkembang, ya,” ungkapnya.

Baca juga artikel terkait BENCANA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama