tirto.id - Pemerintah menyiapkan insentif penggantian biaya investasi hingga 35 persen untuk mendorong peningkatan kapasitas industri pengolahan susu dalam memenuhi kebutuhan program makan bergizi gratis (MBG).
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Meriyanti Punguan Pitaloka mengatakan, insentif tersebut diberikan melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan industri.
Menurut dia, program tersebut ditujukan untuk mendukung peningkatan kapasitas unit pengemasan (filling unit) pada industri pengolahan susu maupun koperasi yang ingin memproduksi susu siap saji dalam kemasan untuk program MBG.
Adapun penggantian biaya investasi hingga 35 persen diberikan bagi pelaku usaha yang menggunakan produk dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Sementara itu, penggunaan produk dalam negeri non-TKDN dapat memperoleh penggantian hingga 25 persen.
"Program restrukturisasi ini bisa diikuti dan reimburse sampai dengan 35 persen dari nilai investasi yang dikeluarkan," ujarnya dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara 2026 di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Meriyanti mengatakan, kebutuhan susu untuk mendukung program MBG pada 2026 diperkirakan mencapai 4,8 miliar kemasan. Namun, kapasitas industri pengolahan susu nasional untuk kemasan 115 mililiter dan 125 mililiter saat ini baru mencapai 2,39 miliar kemasan atau sekitar 49,7 persen dari total kebutuhan.
Di sisi lain, utilisasi industri pengolahan susu nasional saat ini juga masih berada di kisaran 72 persen sehingga masih terdapat ruang untuk meningkatkan kapasitas produksi.
"Kapasitas industri pengolahan susu nasional untuk kemasan 115 dan 125 mililiter itu baru 2,39 miliar atau 49,7 persen dari kebutuhan MBG secara keseluruhan," lanjut Meriyanti.
Menurut Meriyanti, pemerintah juga mendorong koperasi untuk ikut mengembangkan industri pengolahan susu, termasuk memproduksi susu siap saji dan susu kemasan untuk kebutuhan MBG.
Saat ini sudah ada tiga perusahaan yang meningkatkan kapasitas produksi untuk merespons lonjakan kebutuhan susu akibat program MBG. Namun, pemerintah menilai keterlibatan industri pengolahan susu dan koperasi masih perlu diperluas agar kebutuhan program dapat terpenuhi.
"Kami sangat berharap industri pengolahan susu ini bisa bermitra dengan koperasi-koperasi dan memberikan pendampingan kepada koperasi-koperasi yang ingin melakukan pengolahan untuk pemenuhan susu MBG ini," ujarnya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































