Menuju konten utama

Pelajaran dari Program Magang Hub Jelang Batch Baru 2026

Magang Nasional menjanjikan jembatan ke dunia kerja. Namun, mayoritas peserta belum berujung menjadi pekerja tetap. Apa yang perlu dievaluasi?

Pelajaran dari Program Magang Hub Jelang Batch Baru 2026
Seorang peserta memperlihatkan kartu pengenal Program Magang Nasional saat masa orientasi hari kedua di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Dumai, Riau, Selasa (25/11/2025)ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid/sgd

tirto.id - Bagi banyak lulusan baru, masa setelah wisuda seringkali menjadi periode yang membingungkan. Gelar akademik sudah di tangan, tetapi pekerjaan yang sesuai belum tentu mudah didapatkan. Situasi inilah yang coba dijawab pemerintah melalui Program Magang Nasional, yang dalam setengah tahun terakhir menjadi salah satu jalur transisi dari kampus ke industri.

Sejumlah alumni program ini mengaku memperoleh pengalaman kerja yang berharga, jejaring profesional, hingga peluang karir yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun mereka juga menyimpan catatan kritis yang dapat menjadi bahan evaluasi jelang dibukanya kembali Program Magang Nasional pada Juni 2026.

Salah satu kisah datang dari Rachma (22), lulusan Hubungan Internasional Universitas Airlangga, yang mengikuti Program Magang Nasional angkatan pertama.

Saat mengetahui informasi program itu dari media sosial, Rachma tengah berada dalam masa pencarian kerja. Seperti banyak fresh graduate lainnya, ia rutin memantau berbagai lowongan dan program pengembangan karier yang dapat membantunya memasuki dunia kerja.

Melalui platform Siap Kerja, ia mendaftarkan diri dan memilih tiga perusahaan tujuan: Detik.com, Kompas Gramedia, dan CNN Indonesia. Dari ketiga perusahaan tersebut, hanya Detik.com yang menghubunginya untuk mengikuti rangkaian seleksi, mulai dari psikotes, tes praktik, hingga wawancara.

Meski tak memiliki latar belakang pendidikan jurnalistik, Rachma mengaku telah lama tertarik pada dunia kepenulisan. Pengalaman magang sebagai reporter saat kuliah semakin memantapkan keinginannya untuk menekuni profesi tersebut.

"Jurusan saya cukup generalis. Saya ingin mengeksplorasi pekerjaan yang benar-benar sesuai minat saya dan merasa bisa berkontribusi di dalamnya," ungkapnya saat berbincang dengan Tirto, Selasa (2/6/2026).

Kesempatan itu membawanya menjalani enam bulan magang sebagai digital journalist. Selama periode tersebut, ia merasakan pengalaman yang menurutnya sulit diperoleh di bangku kuliah: mulai dari memahami standar penulisan berita, teknik peliputan, hingga beradaptasi dengan ritme kerja media digital yang bergerak cepat.

Program ini juga memberikan sejumlah fasilitas pendukung, seperti uang saku setara Upah Minimum Regional (UMR) sesuai lokasi perusahaan, perlindungan BPJS Ketenagakerjaan, serta penggantian biaya untuk kebutuhan peliputan.

Meski demikian, bagi Rachma, hal yang paling penting bukan hanya fasilitas tersebut, melainkan bagaimana peserta magang diposisikan sebagai bagian dari tim kerja, bukan sekadar tenaga tambahan.

“Dari perusahaan tempat magang sendiri, saya diberikan mentoring. Jadi, berupa pengenalan soal perusahaan, pengenalan soal job desk, kemudian juga sebagai reporter intern sendiri juga pasti ada pengenalan lah mengenai cara menulis sesuai pakem,” kisahnya.

Setiap bulan, kinerja Rachma dievaluasi melalui sistem rapor yang memuat penilaian terkait kehadiran, kemampuan teknis, inisiatif, tanggung jawab, kemampuan beradaptasi, hingga ketepatan waktu. Sistem tersebut dinilai membantu peserta mengetahui perkembangan kompetensi mereka selama program berlangsung.

Namun, pengalaman positif itu tidak serta-merta berujung pada pekerjaan tetap. Setelah masa magang berakhir, tawaran justru datang dari sejumlah perusahaan lain, namun untuk kembali berstatus magang alih-alih karyawan.

“Setelah selesai magang, saya sempat ditawari beberapa perusahaan lain, cuma mekanismenya internship lagi. Saya merasa kurang sesuai, sih, dengan prioritas saya atau arah karir saya ke depannya. Jadi, ya saya belum menerima tawaran tersebut,” tutur Rachma.

Pencapaian peserta Magang Nasional Kementerian Ketenagakerjaan

Sejumlah peserta magang Kementerian Ketenagakerjaan melakukan konseling dengan warga binaan di Lapas Kelas IIB, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (7/1/2026).ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/foc.

Jika pengalaman Rachma menunjukkan bagaimana Program Magang Nasional menjadi sarana pengembangan kompetensi, cerita Falah memperlihatkan keberhasilan program tersebut sebagai pintu awal menuju status karyawan.

Sebelum mendaftar sebagai peserta melalui platform Magang Hub, Falah adalah lulusan program studi jurnalistik yang tengah menjalani internship di sebuah perusahaan media. Saat mengetahui bahwa peserta memperoleh uang saku setara UMR, ia langsung tertarik untuk mendaftar alih-alih fokus untuk mencari pekerjaan.

"Waktu itu saya memang sudah lulus dan sedang magang. Ketika tahu ada program dengan uang saku setara UMR, saya merasa ini kesempatan yang baik," katanya.

Falah kemudian memilih CNN Indonesia yang saat itu juga tengah menjadi mitra program Magang Nasional. Alasannya sederhana: ingin menjadi jurnalis profesional. Meski belum mengetahui bagaimana nasibnya setelah program berakhir, ia percaya pengalaman bekerja di ruang redaksi media nasional akan menjadi bekal berharga untuk masa depan.

Harapan tersebut tidak meleset. Setelah lolos seleksi, Falah menjalani tugas sebagai reporter dan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan peliputan. Seiring waktu, kemampuannya terus berkembang. Menjelang akhir masa magang, para editor dan mentor bahkan memberikan apresiasi atas peningkatan kualitas kerjanya.

Saat acara perpisahan peserta magang digelar, mentor menyampaikan bahwa kemampuan reportase dan wawancaranya berkembang cukup pesat dibandingkan ketika pertama kali bergabung. Tak lama kemudian, ia meneken kontrak kerja dari CNN Indonesia "Alhamdulillah, saya bisa lanjut bekerja setelah program selesai," ujarnya.

Meski perjalanan karirnya cukup mulus, Falah berharap pemerintah dapat mendorong lebih banyak perusahaan agar membuka peluang lebih besar untuk merekrut peserta magang yang menunjukkan kinerja baik selama magang sebagai karyawan.

“Yang diharapkan mungkin Kemnaker bisa lebih menekankan lagi ke perusahaan, kalau bisa ya ada yang bisa direkrut lebih lanjut. Jadi bukan sekedar magang doang 6 bulan. Mungkin ada beberapa (perusahaan) yang pintunya jadi lebih terbuka,” tambah Falah.

Magang di Instansi Pemerintah

Jika Rachma dan Falah merasakan langsung dinamika bekerja di sektor swasta, pengalaman yang berbeda dialami peserta yang ditempatkan di instansi pemerintah. Bagi mereka, manfaat utama program bukan terletak pada peluang direkrut setelah magang, melainkan kesempatan memahami cara kerja birokrasi dan proses penyusunan kebijakan dari dekat.

Pengalaman itu dirasakan Aryani Widya Kusuma, peserta Magang Hub yang ditempatkan di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Lulusan Hubungan Internasional Universitas Al Azhar Indonesia tersebut memperoleh kesempatan menyaksikan secara langsung bagaimana sebuah kebijakan dirancang hingga dijalankan.

Widya juga belajar mengenai proses kerja sama antara pemerintah dan lembaga masyarakat melalui penyusunan nota kesepahaman serta berbagai bentuk kerja sama lainnya.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah keterlibatan dalam penyusunan Program Ruang Bersama Indonesia (RBI), program pemberdayaan perempuan desa dan perlindungan anak yang menjadi bagian dari agenda prioritas kementerian.

"Yang paling menarik ketika saya ikut terlibat dalam proses penyusunan program tersebut. Tantangannya cukup besar karena menyasar perempuan desa dan membutuhkan koordinasi dengan banyak pihak," ungkapnya kepada Tirto, Selasa (2/6/2026).

Meski memperoleh pengalaman yang berharga, Widya menyadari sejak awal bahwa peluang melanjutkan karier di kementerian relatif lebih terbatas. Berbeda dengan sektor swasta yang dapat menjadikan program magang sebagai sarana mencari talenta baru, instansi pemerintah terikat sistem rekrutmen yang mengharuskan seluruh calon pegawai masuk melalui mekanisme seleksi formal.

“Kementerian itu udah tidak bisa lagi ngambil anak magang, udah tidak ada lagi tenaga ahli, udah tidak ada lagi PPPK. Jadi, sekarang kalau memang mau melanjutkan pekerjaan atau ingin bekerja lagi di sini harus CPNS dulu. Itu lah salah satu kelemahan ketika aku magang di kementerian, karena prosedurnya cukup ketat dan tidak ada lagi tenaga ahli atau PPPK di sana,” keluhnya.

Catatan serupa disampaikan Erisza Maulany, peserta Magang Nasional batch kedua dari Universitas Muhammadiyah Jakarta. Melalui program tersebut, ia memperoleh kesempatan mengembangkan media pembelajaran berbasis teknologi dan mengikuti berbagai kegiatan pengembangan kapasitas.

Siniar bersama Menteri Ketenagakerjaan Yassierli

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli berpose usai menjadi narasumber dalam program siniar ANTARA di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Rabu (11/3/2026). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/agr

Menurutnya, yang paling berkesan saat menjalani Magang Nasional adalah saat Erisza mendapatkan kesempatan mengikuti workshop dan pelatihan tingkat regional maupun internasional yang diselenggarakan lembaga tempatnya magang.

"Selain keterampilan teknis, saya juga belajar komunikasi, kerja sama tim, dan manajemen waktu. Itu menjadi bekal yang sangat penting untuk dunia kerja," ujarnya.

Meski tak memperoleh tawaran pekerjaan setelah program berakhir karena ditempatkan di instansi pemerintah, Erisza menilai pengalaman tersebut tetap memberikan nilai tambah yang signifikan. Portofolionya menjadi lebih kuat dan ia merasa lebih siap menghadapi proses rekrutmen di dunia kerja.

Dalam hematnya, Program ini berhasil menjembatani transisi dari dunia pendidikan menuju dunia profesional. Namun, ia menilai program ini masih dapat ditingkatkan agar manfaatnya tidak berhenti pada pengalaman belajar semata.

“Sebagai masukan, saya berharap kedepannya perusahaan atau instansi yang menjadi tempat magang dapat memberikan peluang yang lebih besar bagi peserta magang untuk melanjutkan karir di tempat tersebut, baik melalui rekrutmen langsung maupun jalur seleksi. Dengan itu, pastinya peserta magang akan semakin termotivasi untuk menunjukkan kinerja terbaik selama program magang berlangsung,” saran Erisza.

Tak kalah penting, menurutnya, Kemnaker juga harus memperluas kerja sama dengan berbagai perusahaan dan instansi swasta. Sehingga, akan ada semakin banyak peluang karir yang terbuka bagi peserta yang telah menyelesaikan program Magang Hub. “Oleh karena itu, program ini juga tidak hanya menjadi saran belajar, tapi juga dapat menjadi jembatan menuju dunia kerja,” tegasnya.

Bermanfaat Tapi Perlu Diperkuat

Dihubungi terpisah, Sessa Noviyanti, HR sekaligus operator Program Magang Nasional di PT Dewata Media Jaringan (Periskop.id), menilai program ini merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang paling memberikan manfaat langsung bagi dunia usaha dan lulusan baru. Dalam hal ini, perusahaan mendapatkan tambahan SDM, sementara peserta memperoleh pengalaman dan uang saku.

“Kami pikir ini program yang win-win solution. Perusahaan mendapatkan SDM, peserta magang yang baru lulus kurang dari setahun mendapatkan pengalaman dan sekaligus diberi uang saku oleh pemerintah,” tuturnya.

Meski begitu, Sessa meminta pemerintah memperkuat proses verifikasi perusahaan mitra agar tidak terjadi praktik-praktik yang merugikan peserta magang. Selain itu, kuota peserta yang dapat diterima perusahaan dinilai masih bisa diperluas untuk meningkatkan dampak program.

“Mungkin pemerintah dalam hal ini Kemnaker bisa memfilter lagi perusahaan-perusahaan yang ikut program magang ini. Karena di grup WhatsApp mentor dan sosialisasi magang itu ada beberapa keluhan yang anak magangnya dimintain uang, terus macam imbalan kepada mentor,” ungkapnya.

Selain itu, Sessa juga menilai pemerintah perlu men-tracking perusahaan-perusahaan operator magang yang justru melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) saat program magang berlangsung. Praktik PHK ini, menurutnya bisa menjadi alarm awal bagi pemerintah untuk menduga adanya keinginan perusahaan untuk mendapatkan tenaga kerja murah.

“Itu jadi semacam early warning-nya lah buat pemerintah. Kenapa nih malah ada PHK gitu, padahal ada program magang gitu. Apakah perusahaan mencari celah … yaudah lah pakai anak magang aja gitu, karyawan nggak usah, gitu. Itu sih harus ada filter-filter lagi buat pemerintah,” tegasnya.

Program Magang Nasional juga diakui Pengamat Ketenagakerjaan sekaligus Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, sebagai salah satu program baik yang disusun pemerintah. Sebab, melalui upaya peningkatan kemampuan lulusan baru, investasi diharapkan akan lebih banyak masuk ke Indonesia.

Namun, dengan kondisi sekarang, di mana pembukaan lapangan kerja formal tergolong sedikit, pemerintah harus melakukan evaluasi menyeluruh pada Magang Hub yang dilangsungkan di tahun lalu.

“Memang harus dievaluasi pemagangan yang tahun lalu itu tersalurkan kemana. Harus dibuka ke publik berapa yang bekerja setelah pemagangan,” kata Timboel, dikutip Rabu (3/6/2026).

Sayangnya, dalam penutupan Magang Nasional 2025, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyebut hanya 35 persen dari total peserta magang yang mendapatkan tawaran langsung dari perusahaan untuk melanjutkan kontrak sebagai pekerja.

Seiring dengan akan dibukanya batch baru Magang Nasional Pada Juli nanti, masyarakat harus mempertanyakan kepada pemerintah mengapa serapan peserta magang di dunia kerja masih minim.

“Nah ini kan kaitannya untuk periode sekarang 2026 ke depan, kalau kita terus memberikan proses pemagangan lebih banyak tapi serapannya kecil, kan kita harus pertanyakan. Supaya jangan sampai kesannya memang uang untuk proses pemagang itu keluar, tapi hasilnya tidak maksimal gitu,” lanjutnya.

Timboel khawatir, masih kecilnya serapan peserta magang di dunia kerja menunjukkan bahwa Magang Hub belum bisa menjawab kebutuhan dunia usaha.

“Apakah magang yang kita berikan masih belum bisa menjawab kebutuhan para investor, para pengusaha? Kan begitu. Nah, ini yang harus dijawab untuk bisa memberikan arahan untuk program magang berikutnya, supaya jangan sampai terkesan ya yang penting ada program magang, ya jangan begitu,” tegas Timboel.

Baca juga artikel terkait MAGANG atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana