tirto.id - Masalah demi masalah kini sedang menghantui OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman.
Belum lama ini OpenAI dipaksa untuk menutup platform video generatornya, Sora, karena masalah klasik: lebih besar pasak daripada tiang. Daya dan biaya yang mesti digelontorkan untuk mengembangkan dan menjalankan Sora nyatanya jauh lebih besar ketimbang penghasilan yang didapatkan darinya.
Sebelum itu, OpenAI juga sudah terlibat masalah dengan Elon Musk. Bersama Altman dan sejumlah orang lain, Musk merupakan salah satu pendiri OpenAI sebagai sebuah organisasi nirlaba. Musk bahkan mengeluarkan uang hingga $38 juta untuk mendanai organisasi tersebut. Akan tetapi, dalam perkembangannya, OpenAI justru berevolusi menjadi perusahaan berorientasi profit dan Musk merasa ditipu lalu menyeret mereka ke pengadilan.
Kontroversi lainnya adalah tentang bagaimana OpenAI digunakan dalam operasi militer Amerika Serikat (AS), khususnya ke Iran. Setelah pertama kali muncul sebagai respons atas terkuaknya aliran dana $25 juta dari Greg Brockman (Presiden OpenAI) ke kampanye Donald Trump, QuitGPT juga menyertakan serangan ke Iran sebagai salah satu alasan terkuat untuk berhenti menggunakan produk OpenAI.
Di tengah semua masalah itu, Altman pun tidak bisa beristirahat dengan tenang di rumahnya yang terletak di San Francisco, California. Jumat, 10 April 2026 dini hari waktu setempat, seorang pemuda 20 tahun asal Texas, Daniel Moreno-Gama, melempar bom molotov ke kediaman Altman. Serangan ini memang tidak begitu membahayakan dan dapat langsung ditangani petugas keamanan pribadi Altman. Akan tetapi, ini adalah terapi kejut yang cukup mengkhawatirkan bagi laki-laki yang jadi wajah "Revolusi AI" tersebut.
Segera setelah melempar molotov ke rumah Altman, Moreno-Gama bergegas menuju markas OpenAI yang jaraknya hanya sekitar 5 km dari kediaman sang CEO. Di sana, sosok asal Houston tersebut sempat hampir memecahkan kaca kantor dan bersumpah bakal "membakar gedung dan membunuh seisinya" saat diamankan oleh petugas keamanan. Setelahnya, kasus pun diserahkan ke pihak San Francisco Police Department (SFPD).
Para petugas SFPD kemudian menemukan sejumlah hal yang memberatkan Moreno-Gama. Tak cuma alat dan bahan untuk melakukan pembakaran, ditemukan pula dokumen berupa manifesto yang isinya, kurang lebih, mengutuk keberadaan AI dan seruan untuk menghabisi para CEO yang terlibat dalam pengembangan teknologi tersebut.
Moreno-Gama memang aktivis anti-AI. Dia memiliki persona maya bernama Butlerian Jihadist, yang diambil dari seri novel Dune karya Frank Herbert sebagai representasi perlawanan manusia terhadap "mesin yang bisa berpikir". Moreno-Gama aktif di forum Discord, rajin menerbitkan artikel di Substack, dan sempat diundang ke sebuah siniar bernama The Last Invention. Namun, saat diwawancarai dalam siniar tersebut, Moreno-Gama justru menolak ide membunuh para CEO yang menurutnya "tidak praktis dan tidak perlu".
Namun, Moreno-Gama akhirnya melakukan apa yang dia lakukan kepada Altman dan kini sedang menjalani proses hukum.
Selain Moreno-Gama, ada pula Amanda Tom(25 tahun) dan Muhammad Tarik Hussein (23 tahun). Hanya dua hari setelah insiden pelemparan molotov yang dilakukan Moreno-Gama, Tom dan Hussein juga melakukan percobaan pembunuhan terhadap Altman dengan cara menembaki rumah Altman dari atas mobil yang berjalan. Menurut laporan, sebanyak 12 tembakan dilepaskan kedua pelaku yang kini pun telah dicokok aparat.
Ancaman terhadap Pekerjaan Manusia
Dua percobaan pembunuhan beruntun yang dialami Altman tidak bisa dipisahkan dari bagaimana sebagian orang memandang AI sebagai ancaman, bahkan sampai pada taraf eksistensial. Altman mengakui hal tersebut.
"Ketakutan dan kekhawatiran tentang AI itu wajar. Kita sedang menyaksikan perubahan terbesar dalam masyarakat dalam waktu yang lama, bahkan mungkin bisa jadi yang terbesar sepanjang masa," tulis Altman tak lama setelah rumahnya dilempar molotov.
Kini, ketakutan tersebut bereskalasi, tidak sekadar omon-omon di media sosial, melainkan telah diwujudkan dalam aksi nyata. Beberapa hari sebelum serangan di rumah Altman, seorang anggota dewan kota Indianapolis bernama Ron Gibson mendapati rumahnya ditembaki orang tak dikenal. Secarik nota kemudian ditemukan dengan tulisan "Katakan Tidak pada Pusat Data". Ini merupakan respons terhadap disetujuinya pembangunan pusat data di distrik yang diwakili oleh Gibson.
Tak cuma itu, sebelumnya, agresi terhadap otomasi juga telah ditunjukkan, khususnya terhadap robot pengantar makanan. Di Philadelphia, robot pengantar makanan milik Uber ditendangi dan diduduki oleh orang yang tidak terima mata pencaharian milik manusia diambil alih mesin. Di Washington, D.C., seorang pria misuh-misuh setelah sebuah unit robot dengan lancang meminta bantuannya untuk menekan tombol penyeberangan. "Kau ingin aku menekan tombol untukmu, Mingo? Mampus saja kau! Sudah mengambil pekerjaan manusia, masih minta tolong manusia untuk menekan tombol?" ujar pria tersebut kesal.
AI dan robot jelas punya kaitan erat. Robot pengantar makanan dapat beroperasi dengan bantuan akal imitasi untuk mengenali sekitar dan berinteraksi. Dua teknologi ini begitu dibenci tak cuma karena berpotensi mempersempit peluang kerja manusia di tengah maraknya pengangguran, tetapi juga karena alasan lain seperti ongkos lingkungan yang teramat besar.
Sebagai gambaran, sebuah pusat data berukuran besar membutuhkan air sampai 5 juta galon per hari, atau setara dengan kebutuhan 10.000 s/d 50.000 orang. Ongkos lingkungan seperti ini, jika dibiarkan terus-menerus, bukan mustahil bakal berpengaruh pada eksistensi manusia sebagai sebuah spesies.
Dari sisi ketenagakerjaan, pada 2025 lalu, AI disebut bertanggung jawab atas hilangnya pekerjaan lebih dari 50 ribu orang, termasuk mereka yang sebelumnya bekerja untuk sejumlah firma top macam Amazon, Salesforce, dan Microsoft. Tak sampai di situ, diperkirakan pada 2030 nanti akan ada 300 juta pekerja, atau 9,1 persen dari tenaga kerja global, yang kehilangan pekerjaan akibat AI.
Tak pelak, fakta dan proyeksi seputar AI dan dampaknya pada kehidupan manusia membuat banyak orang merasa teknologi ini tidak sepatutnya ada dan orang-orang yang bertanggung jawab atasnya pun layak dilenyapkan.
Di sini ada pula sentimen kelas yang bermain karena para proponen anti-AI merasa bahwa teknologi tersebut hanya akan menguntungkan kelas ekonomi teratas alias mereka yang tergabung dalam golongan satu persen. Itulah mengapa aksi Moreno-Gama tadi sempat disamakan dengan tindakan Luigi Mangione, sosok yang membunuh CEO perusahaan asuransi UnitedHealthCare, Brian Thompson.

Komunikasi Terbuka
Kasus Mangione vs UnitedHealthCare adalah contoh penindasan struktural dari golongan penguasa kapital terhadap mereka yang tak berpunya. Mangione menembak mati Thompson karena merasa bahwa praktik bisnis asuransi bersifat parasitik dan hanya memenuhi keserakahan korporasi tanpa sungguh-sungguh melayani para nasabah yang mayoritas merupakan orang dari kalangan biasa. Alasan inilah yang membuat Mangione, meski terang-terang merupakan seorang pembunuh, dianggap pahlawan, termasuk oleh para aktivis anti-AI.
Pembunuhan, atau penghilangan nyawa orang lain, jelas merupakan tindakan terkutuk yang tidak bisa dibiarkan. Akan tetapi, faktanya, banyak orang yang merayakan kematian sosok seperti Thompson di tangan Mangione. Ini berarti, dalam lubuk hati banyak orang, kemarahan atas sistem yang menindas sudah menggelegak dan siap meledak kapan saja. Hal serupa, lagi-lagi, terlihat pada perlawanan terhadap AI.
Meski begitu, tidak semua perlawanan terhadap AI menyokong tindak kekerasan seperti itu. Salah satu gerakan itu, Stop AI, dengan tegas menyatakan sikapnya.
"Stop AI selalu berpegang teguh pada aktivisme nirkekerasan. Pimpinan Stop AI saat ini berkomitmen penuh pada nirkekerasan baik dalam aksi maupun ucapan," tulis mereka di X. Stop AI juga menyampaikan bahwa salah satu pendiri mereka telah dikeluarkan lantaran pernah membuat pernyataan provokatif berbau kekerasan.
Terlepas dari kelompok-kelompok yang terang-terangan menyatakan penolakan, AI mengalami penurunan popularitas secara lebih luas. Beberapa polling dan survei terkini di AS mengindikasikan hal tersebut. Dari polling NBC News, ditemukan bahwa 46 persen pemilih tetap memiliki opini negatif terhadap AI, sementara yang beropini positif hanya 26 persen.
Kemudian, menurut survei Gallup, hanya dalam tempo setahun, tingkat ketertarikan Gen Z terhadap AI melorot dari 36 persen menjadi 22 persen, sementara kemarahan melonjak dari 22 persen ke 31 persen. Alasan utamanya? AI membunuh pekerjaan entry-level yang saat ini seharusnya jadi milik mayoritas Gen Z.
Ini artinya, ketidaksukaan terhadap AI bukan cuma beredar di kalangan "SJW", melainkan masyarakat umum. Dan sebenarnya, perusahaan seperti OpenAI pun menyadari sentimen seperti ini. Itulah mengapa mereka meminta para pegawainya untuk tidak menunjukkan identitas perusahaan di tempat umum, untuk menghindari hal-hal tak diinginkan.
Untuk menghadapi permasalahan tersebut, seorang karyawan OpenAI bernama Jason Wolfe menyatakan bahwa, sudah semestinya, perusahaan-perusahaan AI berusaha sekuat tenaga mendapat kepercayaan dari masyarakat dengan menunjukkan bahwa benefit dari teknologi ini adalah nyata.
"(Perusahaan harus) jujur soal risiko dan ketidakpastian yang muncul. Semua temuan harus dibagikan secara terbuka. Dampak terhadap dunia nyata harus diukur sungguh-sungguh. Perusahaan juga mesti mendukung pengawasan yang dilakukan oleh publik terhadap kinerjanya," tulis Wolfe.
"Dan meskipun, tentu saja, aku setuju bahwa segala tindak kekerasan ini tak bisa dibenarkan, dan hanya dilakukan oleh segelintir oknum, kupikir tidak semestinya semua pandangan negatif tentang AI diasosiasikan dengan 'doomers' (orang-orang yang pesimis terhadap masa depan dunia). Kupikir, tidak semestinya kita melarang mereka untuk mengutarakan apa yang mereka khawatirkan," lanjutnya.
Wolfe benar. Sebab, suka tidak suka, AI sudah eksis dan mustahil untuk mengembalikan dunia seperti ketika teknologi ini belum merajalela. Oleh karena itu, yang diperlukan adalah komunikasi terbuka.
Sebenarnya, sudah ada upaya dari perusahaan-perusahaan AI seperti OpenAI dan Anthropic untuk senantiasa bersikap terbuka. Mereka rutin memperbarui blog untuk berkomunikasi dengan khalayak. Akan tetapi, upaya tersebut nyatanya belum efektif untuk melenyapkan segala kekhawatiran karena, barangkali, impak positif yang diberikan memang belum sebesar itu.
Dalam berbagai proyeksi, selain disebutkan bahwa AI akan menghilangkan pekerjaan, juga dituliskan bahwa teknologi ini akan melahirkan pekerjaan-pekerjaan baru. Celakanya, ini semua memang masih belum terwujud dan masih bersifat prediktif, sehingga matriksnya pun belum bisa diukur secara akurat dan konkret.
Dari situ kita bisa berkata bahwa yang dibutuhkan, mungkin, adalah waktu untuk membuktikan benefit AI secara konkret. Namun, waktu pun tidak bisa memberikan jaminan bahwa perusahaan-perusahaan seperti OpenAI bakal melakukan hal yang benar. Keputusan menerima kontrak Departemen Pertahanan AS jadi salah satu bukti bahwa mereka memang tidak bisa sepenuhnya dipercaya. Oleh karena itu, lebih dari sekadar waktu, yang sejatinya diperlukan adalah komitmen dan kerja nyata.
Anthropic, misalnya, sudah melakukan hal tersebut dengan menarik diri dari aktivitas militer. Ini adalah langkah awal yang bagus untuk menarik simpati publik dengan menunjukkan bahwa mereka punya garis batas tegas. Selanjutnya, mereka tinggal membuktikan bahwa AI memang bisa digunakan untuk kemaslahatan umat manusia secara luas, bukan hanya golongan tertentu.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id



























