tirto.id - Di sebuah sabana salju yang dikelilingi gunung dan pepohonan pinus, sekelompok mamut raksasa sedang berlari pelan. Derap langkahnya membuat salju di tanah beterbangan ke udara. Mereka itu terlihat bergerak menuju ke arah kamera, dengan bulu-bulu yang berdiri tertiup angin dan gading panjang berbentuk sabit.
Sepintas, video tersebut tampak seperti adegan film dokumenter fauna berbujet mahal. Gambarnya tajam, gerakannya mulus, dan sangat mampu mengecoh mereka yang tidak tahu menahu soal mamut.
Namun, kamera 8K macam apa yang sudah ada di era ketika mamut masih berkeliaran bebas di muka bumi? Tentu saja tidak ada. Video yang dideskripsikan di atas murni rekaan kecerdasan buatan. Lebih spesifiknya lagi, ia adalah "hasil karya" Sora, AI generatif pembuat video milik OpenAI.
Ketika OpenAI merilis demo Sora pada Februari 2024, hasilnya sukses membuat khalayak terpesona. Padahal, video AI bukanlah konsep baru. Sebelum Sora, sudah ada Runway, Pika, dan Kling.
Namun, sebelum kehadiran Sora, standar video AI bisa dibilang sangat rendah. Salah satu buktinya adalah ketika video Will Smith makan spaghetti viral setahun sebelumnya. Video tersebut viral bukan karena kualitasnya bagus, melainkan karena terlihat mengerikan. Sementara itu, keluaran yang dihasilkan Sora tampak begitu natural layaknya mamut sungguhan.
Itulah alasan, kemunculan Sora, selain disambut dengan decak kagum, ditanggapi dengan keresahan tersendiri. Tak sedikit yang berspekulasi bahwa video AI bakal membawa dunia hiburan, khususnya, ke titik baru, ketika semua orang bisa membuat film hanya dengan mengetikkan kalimat perintah ke platform. Ada suatu masa ketika Sora pernah menjadi standar emas platform video AI generatif yang mampu memantik perdebatan serius soal masa depan segala industri yang berkaitan dengan video.
Akan tetapi, kurang lebih dua tahun setelah diperkenalkan, Sora dieutanasia secara prematur oleh OpenAI. 25 Maret 2026, akun X resmi Sora menyampaikan sebuah pesan singkat. "Kami mengucapkan selamat tinggal kepada aplikasi Sora," tulis akun tersebut.
Keputusan itu mengejutkan banyak pihak, terutama karena hanya sehari sebelumnya OpenAI merilis standar keamanan baru untuk Sora. Sehari setelah diberlakukan pembaruan, platform tersebut justru ditarik dari peredaran.
Mengapa OpenAI Menyuntik Mati Sora?
Bagi penggunanya, cara kerja Sora sangat sederhana. Tinggal ketik perintah, lalu Sora akan mengubah rangkaian teks tersebut menjadi sebuah video. Namun, di balik layar, tentu saja teknologinya jauh lebih kompleks.
Sora menggunakan pendekatan yang disebut diffusion transformer. Metode ini memproses video sebagai kumpulan patch ruang-waktu secara paralel, sehingga dapat memahami hubungan antarbagian gambar dan antarwaktu, bukan sekadar memproses frame secara terpisah. Inilah yang membuat video keluaran Sora lebih konsisten dan masuk akal.

Sayangnya, karena keampuhannya itu, Sora pun jadi acap kali digunakan untuk hal-hal yang kurang pantas. Sora memiliki fitur deepfake yang, aslinya, memungkinkan para pengguna untuk memindai wajahnya untuk ditempelkan ke skenario tertentu.
Namun, pada praktiknya, fitur tersebut disalahgunakan. Para pengguna menggunakan wajah tokoh-tokoh yang telah tiada, seperti Martin Luther King Jr. dan Robin Williams, sampai-sampai pihak keluarga harus turun tangan meminta praktik itu dihentikan.
Terlepas dari kontroversinya, angka-angka yang mengiringi Sora tampak menjanjikan, setidaknya di awal. Pada November 2025, jumlah unduhannya mencapai 3,3 juta di seluruh dunia.
Namun, lambat laun, trennya menurun. Pada Februari 2026 hanya ada 1,1 juta unduhan yang tercatat. Di samping itu, dari pendapatan aplikasi, Sora hanya menghasilkan 1,4 juta dolar AS, sangat jauh jika dibandingkan 1,9 miliar dolar AS yang diraup oleh ChatGPT.
Jomplangnya angka-angka itu makin terasa ketika kita bicara soal daya komputasi untuk mengoperasikan Sora dan ChatGPT. Mengingat hasil akhirnya adalah video, daya komputasi yang dibutuhkan Sora jauh lebih besar ketimbang ChatGPT.
Hal itu sebelumnya sudah pernah disampaikan Bill Peebles, kepala tim Sora, pada Oktober 2025. "Kami terkejut dengan banyaknya pengguna yang ingin menggunakan Sora, dan perhitungan ekonominya saat ini betul-betul tidak berkesinambungan," tulis Peebles di X. Sederhananya, besarnya sumber daya yang diperlukan untuk mengoperasikan Sora tidak berbanding lurus dengan keuntungan finansial yang didapatkan OpenAI darinya.
Tekanan finansial tersebut makin kuat karena OpenAI telah berencana melantai di bursa saham. Target Initial Public Offering (IPO) mereka paling cepat adalah pada akhir 2026. Tentunya, sebagai perusahaan publik, OpenAI harus bisa mempertanggungjawabkan semua produknya kepada investor. Seleksi pun harus dilakukan.
Seleksi itu dipimpin oleh Fidji Simo, CEO of Applications OpenAI yang baru. Dengan rekam jejak membawa Instacart ke IPO, dan sebelumnya membangun bisnis iklan mobile Facebook selama masa transisi jelang peluncuran saham Meta, Simo tidak asing lagi dengan situasi yang dihadapi OpenAI.
Di sebuah rapat yang melibatkan seluruh karyawan, Simo menyampaikan pesan tegas. Bahwasanya perusahaan tidak boleh terganggu oleh hal yang ia sebut sebagai side quests, alias proyek-proyek sampingan yang menguras sumber daya tanpa menghasilkan pendapatan jelas. Sora, sepertinya, masuk dalam kategori tersebut.
Alasan lain yang mendasari langkah OpenAI adalah kesuksesan Anthropic lewat Claude-nya. Di saat OpenAI terbuai oleh side quests, Anthropic lebih fokus dalam mengembangkan Claude sehingga model bahasa besar tersebut kini menjadi pilihan utama para pengembang perangkat lunak dan perusahaan-perusahaan besar. Claude Code, alat pemrograman berbasis AI dari Anthropic, secara khusus disebut-sebut sebagai produk paling menggerogoti pangsa pasar OpenAI.

Seiring dengan keputusan OpenAI menyuntik mati Sora, rencana kerja sama mereka dengan Disney pun ikut kolaps. Sebelumnya, kedua perusahaan telah menyepakati kerja sama senilai 1 miliar dolar AS selama tiga tahun.
Kerja sama tersebut tadinya memungkinkan para pengguna Sora memakai karakter-karakter Disney, Marvel, Pixar, dan Star Wars. Namun, keputusan mencabut Sora dari peredaran itu memang mendadak, sampai-sampai Disney baru mengetahuinya kurang dari satu jam sebelum diumumkan. Untungnya, belum ada uang sepeser pun digunakan.
Lantas, apakah kematian Sora ini bisa dipandang sebagai awal dari matinya industri video AI secara keseluruhan? Tidak juga. Masih ada platform lain, seperti Runway, Kling AI dari Kuaishou, serta Google Veo.
Runway sudah membangun hubungan nyata dengan para pembuat film profesional; Kling AI memiliki basis pengguna internasional yang terus tumbuh; dan Google Veo, dengan integrasinya ke ekosistem YouTube, memiliki jalur distribusi yang tidak bisa ditandingi oleh perusahaan rintisan mana pun. Ini belum termasuk pemain-pemain "kelas menengah", macam Pika, Luma Dream Machine, Wan Video, dan Hailuo.
Meski begitu, para pemain di sektor video AI nantinya tetap masih akan menghadapi berbagai masalah yang selama ini memang sudah mengiringi perjalanan industri tersebut. Tentang kekayaan intelektual, tentang penolakan pemain industri terhadap AI itu sendiri, dan tentang kualitas hasil akhir platform AI yang masih jauh di bawah standar Hollywood, setidaknya.
Pada akhirnya, hal yang menimpa Sora tidak bisa dipandang sebagai cerminan dari industri video AI secara keseluruhan. Kematian Sora hanyalah hasil dari kesalahan OpenAI dalam mengambil langkah dan menentukan arah.
Suka tidak suka, kelangsungan hidup suatu produk akan senantiasa bergantung pada seberapa besar pemasukannya. Meski punya potensi besar, Sora pada akhirnya gagal menjalankan fungsi utamanya bagi perusahaan hingga akhirnya harus menemui ajal di usia sangat muda.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id





























