4 Februari 1957

Miguel Covarrubias yang Membuat Amerika Serikat Terobsesi Bali

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 4 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Bali adalah antitesis New York. Covarrubias mengabadikannya dalam lukisan dan tulisan.
tirto.id - Septikemia adalah kondisi di mana seseorang mengalami keracunan akibat masuknya terlalu banyak bakteri ke aliran darah. Penyakit itu yang menggerogoti tubuh Miguel Covarrubias, hingga pada 4 Februari 1957 atau 67 tahun yang lalu, ia meninggal dunia.

Titelnya berjubel: pelukis, karikaturis, sejarawan seni, etnolog, hingga ilustrator. Di antara sekian hal yang membuatnya menjadi legenda, karya Miguel tentang Bali membuat pulau ini bergaung di kalangan warga Amerika Serikat sebagai surga di tenggara Asia.

Lahir dengan nama lengkap José Miguel Covarrubias Duclaud pada 22 November 1904 di Mexico City, Covarrubias mula-mula mendalami karikatur dan ilustrasi pada usia 14 tahun. Menginjak usia 19, ia hijrah ke Kota New York karena mendapat sokongan dana dari pemerintah Meksiko—meski bahasa Inggrisnya masih buruk.

Covarrubias yang multi-talenta segera tenggelam di komunitas kebudayaan kota yang serba kosmopolit, demikian catat Carolyn Kastner dalam jurnal American Art edisi musim semi 2016.

Ia, misalnya, pernah merancang panggung dan kostum untuk sejumlah teater prestisius. Namun, Miguel tetap paling produktif di dua platform: karikatur/ilustrasi dan lukisan/mural.

Karya karikatur/ilustrasi Miguel menghiasi sampul majalah kenamaan The New York Times dan Vanity Fair. Ia menyerap semangat kehidupan di sekelilingnya sebagai inspirasi.

Contohnya, ia mencintai skena musik jazz Harlem untuk dituangkan dalam karikatur sampul majalah Vanity Fair—sesuatu yang belum pernah dilakukan karikaturis lain.


Gaya liniernya dalam menggores pensil tergolong unik sehingga menginspirasi karikaturis lain seperti Al Hirschfield. Beberapa penerbit buku babon turut memakai hasil kerjanya. Tiga di antaranya adalah The Limited Editions Club, Heritage Press, dan Boni & Liveright.

Ada lukisan jenis mural yang membuat reputasi Covarrubias makin melambung. Asal-usulnya adalah proyek Golden Gate International Exposition pada tahun 1939-1930 dengan tajuk Pageant of the Pacific. Konsepnya berupa penggambaran peta dunia beserta ikon-ikon flora-faunanya.

Jumlahnya ada enam buah: (1) The Fauna and Flora of the Pacific (2) Peoples (3) Art and Culture (4) Economy (5) Native Dwellings (6) Native Means of Transportation. Kelimanya, kecuali Art and Culture yang hilang secara misterius, dipamerkan di banyak musem kenamaan, termasuk American Museum of Natural History di New York.

Petualangan Covarrubias ke banyak tempat tak bisa dilepaskan dari pasangan hidupnya, seorang seniman multi-talenta bernama Rosa Rolando. Keduanya mulai mesra sejak berpergian bersama ke Meksiko, Eropa, Afrika, dan Karibia pada akhir 1920-an.

Pada 1930 keduanya menikah, lalu berbulan madu selama tiga bulan ke Bali. Modalnya hadiah uang dari National Art Director’s Medal. Keduanya kembali berkunjung ke Pulau Dewata (sekaligus ke Jawa, India, dan Vietnam) pada 1933, dan merekam kisahnya dalam buku berjudul Island of Bali (1937).


Pengantar buku tersebut dalam edisi 2015 ditulis oleh Adrian Vickers, Profesor Studi Asia Tenggara di University of Sidney. Vickers menerangkan buku tersebut berisi seputar kekaguman mendalam Covarrubias terhadap segala hal yang ada di Bali: orang-orangnya, kebudayaannya, hingga bentang alamnya.

Pada akhir 1920-an, Bali sudah mulai mendapat reputasi sebagai pusat eksotisme Asia di kalangan elite Kota New York. Covarrubias membuktikan hal itu dalam kunjungannya pada 1930, terutama saat menjelajah ke wilayah selatan. Ia dan Rosa terkejut dengan sawah, hutan-hujan yang masih perawan, beserta babi dan harimau liarnya, juga pedesaan yang asri.

Covarrubias beruntung punya kenalan seorang seniman Eropa bernama Walter Spies yang mengajaknya berkeliling. Ia berkenalan dengan berbagai candi misterius yang terletak di wilayah terpencil. Ada berbagai upacara adat yang ia saksikan, termasuk Tari Kecak yang legendaris itu.

Sambutan hangat warga Bali kepada Covarrubias dicatat Vickers, sebab status Bali yang saat itu masih berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda. Covarrubias hidup nyaman, sekaligus menyaksikan beratnya perjuangan hidup orang-orang lokal.

Covarrubias diuntungkan oleh kolonialisme. Namun, hal itu tak menghindarkannya untuk menjalin hubungan yang intim dengan warga lokal. Ia berpakaian, makan, dan mengikuti upacara persis seperti warga Bali kebanyakan. Dedikasi tinggi sampai mendorong Covarrubias untuk belajar bahasa Melayu dan bahasa Bali.


Melalui buku Island of Bali, Covarrubias mengabadikan dinamika di Pulau Dewata ke dalam narasi panjang serta lukisan-lukisan, sementara Rosa melalui fotografi. Adrian menyebutnya sebagai “ensiklopedia Bali”.

“Dalam gaya yang tidak berani dipakai penulis abad 20 lain, Covarrubias membentang deskripsinya mulai dari mitos-mitos, deskripsi etnografisnya tentang ritual-ritual, diskusi kuliner, gaya pakaian dan rambut, sampai detail intim bagaimana warga Bali berhubungan seksual,” tulis Vickers.

Island of Bali menjadi literatur penting karena dua hal. Pertama, sebab dibahas secara kritis oleh antropologis kenamaan lain seperti Ruth Benedict. Kedua, hingga era kekinian buku menjadi sumber bacaan pokok bagi para mahasiswa sosiologi maupun antropologi yang ingin mendalami Bali era pra-kemerdekaan.

Buku Island of Bali cetakan pertama amat populer dan laris karena pemasarannya dilakukan selama berbulan-bulan. Dampaknya adalah obsesi terhadap Bali di kalangan warga Amerika Serikat, terutama New York.

Infografik Mozaik Bali Dalam Imajinasi Covarrubias
Infografik Mozaik Bali Dalam Imajinasi Covarrubias


Di luar aura mistisnya, Bali adalah pulau yang “sempurna” secara geografis. Wilayahnya yang tak begitu luas menampung tujuh gunung, banyak danau bagus, juga pantai-pantai yang menawan. Pulau ini punya modal yang lebih dari cukup untuk memancing orang-orang yang butuh liburan.


“Ketika Miguel dan Rosa kembali ke Bali pada 1933 berkat donasi Guggenheim Foundation, industri turisme di Bali sudah mulai terbangun. Tapi lesatan sesungguhnya terjadi pada akhir tahun 1930-an, lebih tepatnya setelah publikasi buku Island of Bali pada 1937, di mana jumlah turis mencapai angka ribuan,” lanjut Vickers.

Sayangnya, ledakan turisme justru hal yang dikhawatirkan oleh Covarrubias. Kekhawatiran itu salah satunya terungkap dalam laporan Majalah LIFE edisi September 1937.

“Tapi bukan kemisteriusan maupun keindahan Bali yang ditakutkan oleh Covarrubias, melainkan kemungkinan bahwa Pulau Dewata akan diserbu oleh para misionaris dan wisatawan yang akan menantang kehalusan rakyatnya, menghancurkan budayanya, dan merusak peradabannya.”

Covarrubias bak sedang menerawang ke masa depan, di mana turisme memang menjadi berkah sekaligus menimbulkan beragam dampak kurang mengenakkan bagi Bali dan warganya. Sepanjang sejarah Bali juga bukan satu-satunya kawasan “eksotis” yang berubah drastis sejak industri turisme digenjot pemerintah setempat.

Covarrubias hanya terlalu cinta pada Bali—tempat yang membuatnya ia iri sebab “semua orang di sana adalah seniman”. Tempat yang menjadi sumber kekayaan inspirasinya dalam berkarya, sekaligus untuk kabur sejenak dari New York yang terlalu kaku.

Baca juga artikel terkait BALI atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Maulida Sri Handayani