Menuju konten utama

Meski dalam "Jaws" Mengerikan, Tak Semua Hiu Menyerang Manusia

Film Jaws (1975) karya Steven Spielberg mengubah sikap manusia terhadap hiu. Mulanya mengutamakan mitigasi, menjadi memburu dan membunuh.

Meski dalam
Header Mozaik Film Jaws Mengubah Citra Hiu. tirto.id/Tino

tirto.id - Steven Spielberg, salah satu sutradara peraih Academy Awards lewat film Schindler's List (1994) dan Saving Private Ryan (1999) mengaku sedih melihat kenyataan bahwa film buatannya, Jaws (1975), turut ambil bagian dalam penurunan populasi hiu.

Dalam acara bertajuk Desert Island Discs yang diselenggarakan BBC Radio 4 pada Jumat (16/12) lalu, Spielberg mengaku bahwa ia takut saat menjawab pertanyaan mengenai perasaannya tentang laut di sekitar pulau rekaan dalam film Jaws yang dipenuhi hiu.

Maksudnya, ia bukan takut digigit hiu, tetapi "takut dimarahi hiu" karena sukses menciptakan ketakutan masyarakat terhadap hiu lewat filmnya tersebut. Jaws berhasil meraup pendapatan lebih dari $1 miliar.

"Saya benar-benar sedih hingga hari ini (tentang film Jaws)," ujarnya.

Dituturkan Christopher Neff dalam "The Jaws Effect" (Australian Journal of Political Science, 2015), kesedihan Spielberg atas film buatannya yang menggiring penurunan populasi hiu beralasan, khususnya di Australia.

Ini terjadi karena Jaws berhasil membuat masyarakat dunia percaya bahwa hiu adalah masalah bagi manusia, dan masalah tersebut hanya dapat diselesaikan dengan membunuhnya.

Musababnya, dilanjutkan melalui film/serial sejenis seperti Shark Week (1988) garapan Discovery Channel, Jaws--yang menceritakan bagaimana seorang wanita tewas diserang hiu kala bermain di lautan di sekitar pulau terpencil bernama Amity Island, dan dilanjutkan dengan tewasnya seorang pemuda, nelayan, serta sosok pemburu hiu bernama Quint dengan cara serupa--memiliki keterkaitan dengan kejadian nyata.

Film Jaws

Film Jaws. FOTO/imdb

Artinya, Jaws seakan-akan film dokumenter, bukan karya fiksi. Jauh sebelum Jaws dirilis, dari 2.569 kasus serangan hiu terhadap manusia yang tercatat sejak 1580, mayoritas terjadi di Australia. Hal ini membuat Pemerintah Australia sejak 1937 (dan diperbarui pada 1962) memulai program pengendalian hiu guna meminimalisasi interaksi antara manusia dengan hiu.

Sialnya, keterikatan dengan kejadian nyata tersebut dalam Jaws, "dibumbui dengan gambaran jelas betapa mengerikannya hiu memangsa manusia atas keinginan murni si hiu sendiri," tulis Neff.

"Kita akhirnya mengalami ketakutan yang intens saat menonton Jaws. Reaksi ketakutan implisit kita menjadi terkondisikan pada citra hiu sebagai makhluk yang mengerikan. Kemudian, salah satu dari rangsangan ini, atau bahkan pemikiran tentang rangsangan ini, memicu reaksi alam bawah sadar kita bahwa hiu memang mematikan dan layak dibunuh," tambahnya.

Akhirnya, program yang lebih mengutamakan mitigasi tersebut berubah setelah film Jaws dirilis. Menjadi tempat 15 dari 63 serangan mematikan hiu di seluruh dunia pada tahun 2000-an, terjadi penarikan benang merah antara kejadian sungguhan dengan Jaws.

Dalam keterangan saksi mata di The Australian, misalnya, seorang saksi mata menyebut bahwa serangan hiu yang dilihatnya "bagai Jaws dalam aksi nyata [...] Ini adalah serangan biadab, kuat, dan berbahaya (dari hiu) yang pernah saya lihat."

Padahal, sebelum Jaws dirilis, sebagaimana diterangkan Brianna Le Busque dalam "Sharks on Film" (Human Dimensions of Wildlife, 2021), "pemberitaan tentang serangan hiu di Australia (sebelum Jaws dirilis) didominasi kalimat-kalimat netral, bahkan positif."

Alasannya, tanpa sebab khusus seperti perebutan wilayah hiu, konflik manusia-hiu tak akan pernah terjadi. Nahas, Jaws justru membalikkan sentimen ini, "misalnya, 74 elemen poster film Jaws menampilkan gigi hiu yang menakutkan," tulis Busque.

Infografik Mozaik Film Jaws Mengubah Citra Hiu

Infografik Mozaik Film Jaws Mengubah Citra Hiu. tirto.id/Tino

Sejak tahun 2000, Pemerintah Australia merilis program pemusnahan hiu dengan dana senilai $22 juta, yang terangkum dalam Shark Respone Plan.

Menurut Richard Court, Kepala Otoritas Perikanan Western Australia, program tersebut dilakukan karena "keselamatan masyarakat adalah yang terpenting. Saya tahu semua orang tidak akan setuju dengan keputusan tersebut, tetapi ini adalah keputusan yang telah kami buat."

Respons ini tentu saja salah. Seturut penjelasan Colin A. Simpfendofer dalam "Complex Human-Shark Conflicts Confoud Conservation Action" (Perpective, 2021), hiu merupakan makhluk hidup yang sangat beragam jenisnya, yakni lebih dari 1.200 spesies.

Dan dari ribuan spesies tersebut, hanya secuil spesies yang menyerang manusia, itupun ketika konflik tidak bisa dihindari. Dari 4,6 serangan mematikan hiu yang terjadi saban tahun di seluruh dunia, 60 persen serangan hanya dilakukan tiga spesies, yakni hiu putih (Carcharodon carcharias), hiu banteng (Carcharhinus leucas), dan hiu harimau (Galeocerdo cuvier).

Nahas, Jaws justru membuat masyarakat menyamaratakan semua jenis hiu untuk diburu dan dibunuh. Suatu bencana keanekaragaman hayati yang untungnya tak menjalar ke satwa-satwa lain.

Dituturkan Ana Sofia Guerra dalam "Wolves of the Sea" (Marine Policy, 2018), masyarakat Amerika Utara sempat berkonflik dengan serigala abu-abu (Canis lupus) pada akhir 1980-an.

Serigala-serigala itu menyerang ternak milik masyarakat hingga mengakibatkan kerugian senilai $11 ribu per tahun. Setelah itu, tidak ada aturan soal pembasmian serigala di Amerika Serikat. Ya, karena memang tidak ada film Jaws versi serigala.

Baca juga artikel terkait FILM JAWS atau tulisan lainnya dari Ahmad Zaenudin

tirto.id - Humaniora
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi