Periksa Data

Mereka yang Untung dan Buntung Tatkala Pandemi COVID-19

Oleh: Hanif Gusman - 17 April 2020
Dibaca Normal 3 menit
Pada hari pengumuman kasus positif pertama di Indonesia (2/3/2020), IHSG ditutup melemah 91,46 poin (1,68%) ke posisi 5.361,25.
tirto.id - Pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh virus Corona baru SARS-CoV-2 tidak hanya menghantam sektor kesehatan di Indonesia. Kendati tidak secara tidak langsung, sektor bisnis dan ekonomi pun ikut mengalami pukulan yang cukup berat.

Kasus positif COVID-19 di Indonesia pertama kali diumumkan Presiden Joko Widodo pada Senin (2/3/2020). Pada kasus pertama dan kedua itu dua orang WNI yang terpapar COVID-19 sempat melakukan kontak dengan WN Jepang beberapa waktu sebelumnya.

Indeks Saham Harga Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia bereaksi. Pada hari yang sama, IHSG ditutup melemah 91,46 poin (1,68%) ke posisi 5.361,25. Seiring bertambahnya kasus positif dan wilayah penyebaran COVID-19, sektor ekonomi pun lantas pelan-pelan tergerus seiring dengan imbauan pemerintah pusat kepada sektor bisnis untuk menerapkan kebijakan bekerja dari rumah (work from home).

Sektor lain yang tidak bisa menerapkan bekerja dari rumah secara penuh, diminta mengurangi jam kerja, atau jumlah karyawan untuk menghindari penyebaran virus. Pasar grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara, Pasar Tanah Abang ikut tutup hingga 19 April 2020.

Dampaknya, produksi sektor bisnis terganggu dan pemasukannya menurun. Ketua Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sutrisno Iwantono, mengatakan daya tahan setiap sektor bisnis dalam menghadapi COVID-19 memang berbeda-beda. Namun, secara umum ia mengatakan para pengusaha hanya akan kuat bertahan hingga tiga bulan apabila wabah belum berakhir.

"Hasil konferensi call kita di APINDO dengan teman-teman di daerah dan pelaku sektoral, bisa kita ambil kesimpulan sementara daya tahan cash flow kita hanya sampai bulan Juni tahun ini. Lewat dari itu cash flow kering, kita tidak akan sanggup membiayai pengeluaran, tanpa pemasukan alias tutup," kata Iwantono, dikutip CNBC Indonesia, Senin (6/4/2020).

Di tengah situasi yang tampak suram karena pandemi COVID-19 ini, bagaimana pola pergerakan IHSG serta sektor apa yang berpotensi untung dan rugi di Indonesia?


Pergerakan IHSG

Seperti disebutkan sebelumnya, IHSG ditutup melemah ke posisi 5.361,25 pada Senin (2/3/2020) sore. Pelemahan itu tidak hanya terjadi pada indeks komposit IHSG. Indeks saham sektoral juga turut melemah.

Setidaknya terdapat sembilan indeks sektor industri yang terdaftar di BEI yang mengacu pada klasifikasi Jakarta Stock Industrial Classification (JASICA). Indeks tersebut yaitu: Indeks Sektor Pertanian; Pertambangan; Industri Dasar dan Kimia; Aneka Industri; Industri Barang Konsumsi; Properti, Real Estate, dan Konstruksi Bangunan; Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi; Keuangan; Perdagangan, Jasa, dan Investasi; dan Manufaktur.

Sebanyak delapan indeks sektor industri ikut melemah pada penutupan bursa, Senin (2/3/2020). Hanya indeks sektor aneka industri yang menguat 22,05 poin ke posisi 1.011,44. Pergerakan sembilan indeks sektor tersebut menunjukkan tren menurun hingga Jumat (13/3/2020).


Sejalan dengan mulai diberlakukannya kebijakan work from home, IHSG pada 16 Maret anjlok ke posisi 4.690,66. Agaknya, penurunan ini juga turut dipengaruhi oleh keputusan The Fed yang memangkas suku bunga acuan (Federal Fund Rate/FFR) sebesar 100 basis poin (bps) ke rentang 0-0,25% dan menjadi level terendah sejak 2015, seperti dilansir CNBC Indonesia.

IHSG mulai menunjukan kembali tren positif pada Kamis (26/3/2020) dengan ditutup menguat ke posisi 4.531,69 poin. Indeks sektoral pun ikut menguat. Hingga Senin (6/4/2020), IHSG perlahan menunjukan tren positif dengan ditutup di posisi 4.811,83. Seturut dengan itu, indeks sektoral juga bergerak sama. Namun, baru sektor barang konsumsi yang mampu kembali bangkit mendekati posisi terakhir sebelum pengumuman kasus positif.

Pada Senin (6/4/2020), indeks sektor barang konsumsi ditutup pada posisi 1.789,99. Angka tersebut telah melampaui posisi pada 28 Februari 2020 yaitu 1742.94.


Sektor yang Untung dan Rugi

Penerapan kebijakan work from home dan physical distancing membuat banyak perubahan pada bagaimana perekonomian bekerja. Tempat-tempat wisata ditutup, transportasi publik dibatasi, kantor-kantor juga ditutup. Selain itu masyarakat juga diminta sepenuhnya di rumah untuk bekerja dan melakukan kegiatan lainnya. Kafe dan restoran juga banyak yang menerapkan pesanan hanya untuk dibawa pulang.

Perubahan tersebut tentunya berdampak pada sektor tertentu. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut sejumlah sektor industri berpotensi meraup keuntungan di tengah pandemi ini. "Memang COVID-19 menimbulkan dampak negatif cukup dalam bagi semua negara. Namun tidak semua sektor alami dampak negatif, ada sektor yang diperkirakan menjadi winner," ujar Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR secara virtual di Jakarta, Senin, (6/4/2020) dilansir Kantor Berita Antara.

Menurut Sri Mulyani, setidaknya enam sektor berpotensi meraup untung di tengah pandemi ini. Sektor tersebut yaitu: tekstil dan produksi tekstil; kimia, farmasi, dan alat kesehatan; makanan dan minuman; elektronik; jasa telekomunikasi; dan jasa logistik.

Sektor tekstil dan produk tekstil berpotensi meraup untung melalui diversifikasi produk seperti Alat Pelindung Diri (APD) dan masker. Sektor kimia, farmasi, dan alat kesehatan menyokong kebutuhan primer dalam penanganan COVID-19.

Industri makanan dan minuman menjadi kebutuhan primer masyarakat sejalan dengan bertumbuhnya sektor logistik yang dibutuhkan masyarakat karena adanya physical distancing. Sedangkan sektor telekomunikasi dan elektronik berpotensi untung karena menjadi andalan masyarakat karena membantu selama diterapkannya kebijakan bekerja dari rumah.

Sebaliknya, enam sektor diperkirakan merugi pada masa pandemi ini. Sektor tersebut yakni: otomotif; keuangan; pertambangan; transportasi darat, laut, udara; konstruksi; dan pariwisata. Sementara itu, sektor UMKM dan pertanian berpeluang melakukan diversifikasi produk meskipun permintaan terancam turun.

Untuk membantu perekonomian dalam menghadapi tekanan dari pandemi COVID-19, pemerintah mengambil beberapa kebijakan untuk dunia usaha dan UMKM. Salah satunya, Presiden Joko Widodo meneken Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) yang diterbitkan untuk menanggulangi dampak COVID-19 di Indonesia pada Selasa (31/3/2020).

Perppu tersebut meliputi insentif untuk beberapa sektor, termasuk dunia usaha dan UMKM. Insentif tersebut di antaranya penggratisan PPh 21 untuk pekerja sektor industri pengolahan dengan penghasilan maksimal Rp200 juta (selama setahun) dan penurunan tarif PPh Badan dari 25 persen menjadi 22 persen.


Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Hanif Gusman
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Hanif Gusman
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight